JAKARTA (Pos Sore) — Pemuda sebagai pemimpin di masa depan diminta mengawal jalannya perkembangan demokrasi saat ini. Ketidakstabilan iklim politik di Indonesia akan sering terjadi.
Terlebih jika dirasakan jika kebijakan pemerintah merugikan rakyat kecil. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga bisa berakibat munculnya gonjang-ganjing politik.
“Di sinilah pemuda ikut mengawal dan mengontrol jalannya demokrasi. Tentunya, dilakukan dengan cara yang baik, sebab dengan baik itu mengandung etika. Berbeda dengan benar yang tidak memperhatikan etika. Sering kali dalam mencermati situasi yang berkembang mahasiswa akan terjerembab dalam tindakan anarkis,” kata Pembantu Rektor III Untan, Pontianak, Kusmulyadi, di aula Rektorat.
Ia menegaskan hal itu saat membuka Seminar Refleksi Sumpah Pemuda bertema ‘Peran Pemuda dalam Mengawal Demokrasi di Indonesia’ yang diadakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisip Universitas Tanjung Pura (HMJ Fisip Untan), Jumat (17/10).
Cara pemuda mengawal jalannya demokrasi di Indonesia yaitu dengan mengedepankan independensi dan idealis, gigih meningkatkan intelektual, membangun solidaritas dan tidak menjadi oposisi yang berserakan.
“Intra dan ekstra kampus juga harus berada di tengah masyarakat dengan membangun kelompok diskusi dan kajian,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Tanjung Pura, Alvian, mengatakan, pemuda sesuai UU no 40 tahun 2009 yaitu yang berumur 16-30 tahun, memiliki banyak potensi dengan perannya sebagai kekuatan moral, kontrol perubahan dan agen perubahan.
“Namun, pemuda juga bisa manjadi persoalan seperti terlibat narkoba, HIV dan AIDS,” tandasnya.
Di Kalbar sendiri jumlah organisasi kepemudaan terus bertambah. Saat ini ada 73 OKP terdaftar, belum termasuk yang belum terdaftar di KNPI.
Pihaknya terus berupaya untuk memberdayakan pemuda. Salah satu caranya, dengan melakukan pertukaran pemuda yang belum lama ini ke Jepang, Tionglok dan Malaysia. “Selain itu, juga menggelar Jambore Pemuda ke Jogyakarta,” katanya. (tety)
