JAKARTA (Pos Sore) — Diperkirakan 50% penggunaan antibiotik adalah pada kasus yang tidak perlu. Utamanya, untuk kasus-kasus infeksi karena virus seperti flu dan infeksi virus lainnya.
“Adanya kuman yang telah kebal terhadap penggunaan antimikroba ini sebabkan oleh meningkatnya penggunaan obat antimikroba yang tidak tepat,” kata Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. H. Chairul Radjab Nasution, Sp.PD, KGEH.
Ia menegaskan hal itu pada Temu Media Pencanangan Penggunaan Antimikroba Bijak, di Jakarta, Selasa (14/10), yang akan dicanangkan Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, pada 16 Oktober 2014.
Diperkirakan penyebab kematian oleh kuman yang resisten terhadap antimikroba lebih besar dibandingkan dengan penyebab kematian oleh AIDS, kecelakaan lalu lintas, dan flu.
Di Amerika sebanyak 19 ribu kematian per tahun akibat resistensi antimikroba lebih tinggi dibandingkan jumlah kematian akibat AIDS sebesar 15000 per tahun.
“Di negara maju, diperkirakan sebanyak 1,1 miliar Dolar AS dihabiskan pertahun untuk penggunaan antibiotik yang sia-sia,” ungkapnya.
Yang membuat kuman tebal terhadap antimikroba adalah adanya pemberian antimikroba yang tidak sesuai indikasi dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi antibiotik secara bebas.
Kadang kala pasien dapat menekan dokter agar memberikan antibiotik yang tidak perlu. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan antibiotik yang tidak sesuai indikasi.
Melihat persoalan ini, dicanangkan Penggunaan Antimikroba Bijak. Tujuannya, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi antimikroba secara bijak.
Selain itu, mewajibkan kepada rumah sakit menerapkan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba. Tujuan lainnya, meningkatkan kesadaran petugas kesehatan agar memberikan atau meresepkan antibiotik sesuai indikasi.
Karenanya, sudah saatnya kita sama-sama mencanangkan ‘Konsumsilah Antibiotik Sesuai Kebutuhan’. (tety)
