JAKARTA (Pos Sore) — Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerjasama dengan PT Tirta Investama melalui Indonesian Hydration Working Group (IHWG) menyosialisasikan Urinary Color Chart (UCC) for Kids. Ini salah satu cara deteksi tingkat hidrasi anak melalui warna urin yang sifatnya mudah dan praktis.
Caranya mudah. Orangtua hanya perlu menampung urin anak dalam wadah bening saat berkemih. Perhatikan warna urin dalam wadah di bawah cahaya matahari atau lampu neon putih, lalu bandingkan dengan tabel warna UCC Kids.
“Warna pada UCC Kids dapat menunjukkan apakah anak terhidrasi dengan baik, kurang terhidrasi, atau mengalami dehidrasi,” papar Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc. Ketua IHWG, di Jakarta, Rabu (8/10).
Dikatakan, UCC for Kids ini bentuk komitmen IHWG untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya asupan cairan dan status hidrasi bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Pada tahun ini, salah satu fokus IHWG, meningkatkan tingkat hidrasi pada anak Indonesia menjadi lebih sehat.
“Untuk mencegah anak dari dehidrasi, anak perlu diajarkan untuk minum sebelum haus,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan Dr. Sudung O Pardede, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mengutip penelitian Armstrong dan Lieberman, kurang air sekitar 1% berpotensi menimbulkan gangguan mood. Kurang air sebanyak 2% atau lebih akan menurunkan kemampuan fisik.
Ia menandaskan, jika anak kurang air, ia merasa mudah kepanasan, rewel, lesu, mudah menangis dan marah, tidak dapat belajar dengan baik, hingga mengalami masalah kesehatan seperti susah buang air besar.
“Karena itu, anak dianjurkan untuk minum setiap 30-60 menit sekali sepanjang hari, walau tidak merasa haus, terutama bagi anak yang aktif. Jangga menunggu hingga anak haus karena haus merupakan tanda tubuh kekurangan cairan,” tegasnya.
Sayangnya, tidak mudah mendeteksi kecukupan air pada anak mengingat gejala dehidrasi tidak terlihat secara visual. Anak juga seringkali tidak mengenali tanda-tanda dehidrasi sehingga tidak dapat memberitahukannya kepada orangtua.
“Karenanya, untuk menghindari hal tersebut, orangtua perlu mengajari kebiasaan minum pada anak, khususnya air putih yang memenuhi standar, yakni jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak mengandung kuman,” tambahnya.
Saat ini separuh (51%) remaja Indonesia mengalami dehidrasi atau kurang minum, yang berakibat pada penurunan fokus dan konsentrasi. Air adalah zat yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak karena 70% tubuh kita terdiri dari air. (tety)
