JAKARTA (Pos Sore) — Penyakit jantung dapat menyerang siapa saja. Pria, wanita, muda, dewasa. Penyakit ini menjadi penyebab nomor satu kematian di dunia.
Plt Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof. Dr. Agus Purwadianto, menyebutkan, meningkatnya perokok dan makin seringnya kita terpapar asap rokok orang lain, faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.
“Faktor lainnya, aneka ragam makanan siap saji dengan harga nurah dan mudah didapat berdampak pada perubahan pola konsumsi gula, garam, lemak tinggi, dan kurang serat,” kata Agus.
Ia mengatakan hal itu usai membuka Seminar ‘Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak untuk Mencegah dan Mengendalikan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah’, di Kemenkes, Selasa (6/10). Seminar ini terkait peringatan Hari Jantung Sedunia 2014 bertema ‘Lingkungan Sehat, Jantung Sehat’.
Di sisi lain, perumahan yang padat yang menyebabkan terbatasnya ruang terbuka untuk melakukan aktivitas fisik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Belum lagi kemacetan lalu lintas yang menyebabkan stress.
Agus mengungkapkan, sebanyak 80% kematian dini akibat penyakit jantung dan pembuluh darah dapat dihindari jika individu mampu mengendalikan empat faktor risikonya. Yaitu, merokok, kurang aktivitas fisik, diet yang tidak sehat, dan konsumsi alkohol yang berlebihan.
“Pada 2007 saja sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. Bahkan lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi sebelum usia 60 tahun,” tandasnya.
Terjadinya kematian dini yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah berkisar 4 persen di negara berpenghasilan tinggi sampai dengan 42 persen terjadi di negara berpenghasilan rendah.
Karenanya, bila empat faktor risiko tersebut tidak dapat dikendalikan, kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah terus meningkat sampai dengan 23,3 juta kematian pada 2030. (tety)
