JAKARTA (Pos Sore) – Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2013 yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada 205 juta jiwa terpapar risiko bencana tinggi. Sebanyak 80 persen dari total 495 jumlah kabupaten/kota di Indonesia berisiko tinggi bencana.
“Tantangan penanggulangan bencana di Indonesia semakin meningkat seiring terjadinya perubahan iklim dan bertambahnya jumlah penduduk. Keajdian bencana di Indonesia menjadi permasalahan multi dimensi yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak,”. kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes, usai membuka Lokakarya Klaster Nasional Kesehatan, di gedung Kementerian Kesehatan, Kamis (2/10).
Menurutnya, kesehatan, salah satu aspek yang banyak mendapatkan dampak akibat kejadian bencana, sehingga berpotensi menimbulkan suatu situasi krisis kesehatan. Karena itu, dibentuklah suatu Klaster Kesehatan yang yang terdiri dari berbagai unsur; Pemerintah, Lembaga non-pemerintah, Lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa, Dunia Usaha/Swasta, LSM dan masyarakat.
Disebutkan ada 9 sub klaster kesehatan, yaitu, pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan, air bersih dan sanitasi (kualitas), pelayanan kesehatan gizi, pengelolaan obat bencana, kesehatan reproduksi, penanganan kesehatan jiwa, dan penatalaksanaan korban mati.
“Klaster kesehatan ini dibentuk untuk meningkatkan koordinasi bantuan baik dari pemerintah, masyarakat, serta lembaga usaha untuk memastikan kecukupanm keselaran dan efektivitas respon kemanusiaan dalam bidang kesehatan secara menyeluruh dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
BNPB dan UNOCHA Indonesia sendiri telah membentuk 8 klaster terkait penanggulangan bencana, yaitu Kesehatan, Pencarian dan Penyelamatan, Logistik, Pengungsian dan Perlindungan, Pendidikan, Sarana dan Prasarana, Ekonomi, dan Pemulihan Dini. (tety)
