9.4 C
New York
03/05/2026
Aktual

Kurang Peminat, Indonesia Kekurangan Tenaga Ahli Epidemiologi

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia masih membutuhkan sekitar 1.300 orang tenaga ahli epidemiologi lapangan yang akan berkontribusi di bidang kesehatan masyarakat, terutama untuk mengetahui penyakit. Hingga saat ini tenaga epidemiologi baru ada sekitar 300 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Sayangnya dari jumlah ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Idealnya setiap provinsi memiliki 2 tenaga ahli epidemiologi lapangan, di kabupaten satu orang tenaga ahli, dan dua tenaga asisten tenaga ahli. Begitu juga Puskesmas memerlukan minimal satu asisten tenaga ahli epidemiologi lapangan.

“Kalau kita hitung untuk memenuhi kebutuhan di 34 provinsi, 511 kabupaten di Indonesia, maka kita perlu sedikitnya 1.600 tenaga ahli dan asisten tenaga ahli epidemiologi lapangan. Saat ini di Indonesia baru ada sekitar 300 tenaga ahli tersebut,” ungkap M. Subuh, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Jumat (26/9), terkait Pertemuan Ilmiah Epidemilogi Nasioanl (PIEN) ke IV pada 1-2 Oktober 2014, di Bandung.

Untuk itu, tahun ini pihaknya berusaha melakukan sosialisasi dan advokasi kembali, terutama kepada user-user yang mungkin berada di Provinsi, Kabupaten Kota, maupun di sektor-sektor di luar pemerintahan.

Ia menjelaskan, tenaga ahli epidemiologi lapangan (field epidemiology training program/FETP) berperan dalam menunjang pembangunan melalui berbagai upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, di masyarakat berbasis bukti, melakukan investigasi kejadian luar biasa (KLB) suatu penyakit atau wabah.

“Selain itu, juga mengaplikasikan metode epidemiologi untuk menyediakan informasi dan saran epidemiologi bagi para pengambil keputusan di tingkat pusat, maupun daerah dalam rangka mengidentifikasi, membuat priorita, dan merencanakan program penanggulangan masalah kesehatan, serta menillai keberhasilan program kesehatan yang ada,” tuturnya.

Tenaga ahli epidemiologi lapangan ini tidak hanya diperlukan di sektor pemerintah, melainkan sektor lain di luar kepemerintahan. Karena itu, dr Subuh mengatakan Indonesia masih kekurangan tenaga ahli epidemiologi yang disebabkan oleh berbagai kendala. Di antaranya, kurang peminat karena selama pendidikan 2 tahun mereka 30 persen di dalam kelas dan sisanya di lapangan, namun setelah lulus non gelar.

I Nyoman Kandun, Direktur FETP Indonesia, menambahkan, untuk mendapatkan gelar sebagai tenaga ahli epidemiologi ini, mahasiswa harus sudah memperoleh gelar sarjana S1, baik itu dari fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat, dan kedokteran hewan. Saat ini baru ada 2 universitas yang menyelenggarakan pendidikan untuk FETP. Yaitu Univeristas Indonesia dan Universitas Gajah Mada (UGM).

“Kami berharap ke depan bisa diperluas di Universitas Udayana, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin, dan kampus lainnya yang memeiliki kapasitas,” kata Nyoman.

Menurut dia, dengan jumlah kebutuhan tenaga ahli apidemiologi lapangan yang cukup banyak, maka penambahan universitas yang memproduksi tenaga ahli epidemiologi lapangan sangat diperlukan. (tety)

Leave a Comment