JAKARTA (Pos Sore) — Sehari muncul di Facebook, PR Matematika siswa kelas 2 SD langsung memicu perdebatan. Ada yang beranggapan sang guru terlalu kaku, ada juga yang menilai guru tersebut tidak bersalah. Lalu, mana yang benar?
Menurut praktisi pendidikan, DR. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Psi, memang anak perlu dikasih tahu ‘proses’ bukan hanya ‘hasil’. Karena jika anak hanya diajari ‘hasil’nya anak akan berfikir instan. Meski begitu, guru juga tidak boleh membakukan pilihan satu proses.
“Sebaiknya guru membuka ruang beragam cara, agar anak memiliki ‘skill berlogika’ dengan baik. Karena tidak menutup kemungkinan anak memiliki cara lain yang mungkin lebih kreatif,” tandas mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini, di Jakarta, Selasa (22/9).
Ia menambahkan, pada prinsipnya, jika hasilnya sama, maka ‘siswa perlu diberikan keleluasaan’ utk memilih proses yang dikehendaki. Di sinilah ‘logika akan’ berkembang dengan baik. Pembakuan satu proses dari guru, akan ‘memangkas’ kreatifitas anak.
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), DR. Dewi Motik Pramono, juga sependapat. Menurutnya, guru harus bisa menerima cara penyelesaian sang siswa jika memang hasilnya sama. Mengingat siswa kelas 2 SD baru belajar menganalisa konsep. Jangan langsung menilai salah.
“Memang pemberian konsep itu sudah harus diajarkan, karena konsep pelajaran Matematika itu berkaitan dengan kehidupan sehari, namun guru juga harus bisa memberikan kebebasan dalam menyelesaikan soal jika hasilnya sama,” kata Dewi saat ditemui dalam ‘Pertemuan Dewan Pimpinan Kowani dengan Organisasi Anggota’, di Jakarta, Selasa (22/9).
Konsep ber-Matematika biasanya diberikan dalam contoh soal bercerita. Dewi mencontohkan, ‘Di meja ada empat orang sedang berbicara. Dua orang pergi mencari makan karena lapar. Berapa orang tersisa di meja?’ Dari soal ini anak diajarkan bernalar dari kehidupan sehari-hari. Karenanya, guru harus kreatif dalam memberikan penilaian.
“Konsep dan logika harus dikombinasikan. Jangan sampai ditakut-takuti. Matematika itu kan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,” tandasnya.
‘Kasus soal Matematika kelas 2 SD’ itu diunggah Muhammad Erfas Maulana dalam akun Facebooknya. Soal perkalian menjadi perdebatan karena ada perbedaan konsep dalam menjawab. Awalnya Erfas diminta adiknya membantu menyelesaikan soal 4+4+4+4+4+4 = x =. Bagi mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro tentu itu mudah. 10 Soal adiknya selesai dikerjakan.
Untuk soal di atas, Erfas mengajari adik yang duduk di kelas II dengan jawaban 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24. Ternyata jawaban itu salah, versi guru yang benar adalah 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24. Hasil sama namun proses beda.
Erfas tidak terima karena baginya yang terpenting jumlahnya. Setelah soal diunggah pada 18 September lalu, komentar pro dan kontra pun berdatangan. (tety)
