POSSORE.ID, Jakarta — Di sebuah sudut tenang Museum Nasional Indonesia, kayu-kayu yang ditatah itu seolah berbisik. Bukan tentang bentuknya semata, melainkan tentang waktu yang mereka simpan—tentang tangan-tangan yang pernah menghidupkannya, dan tentang perjalanan panjang yang tak pernah benar-benar selesai.
Pameran “Tatah” menghadirkan ukiran Jepara bukan sekadar sebagai benda pajang, tetapi sebagai kisah yang terus berlanjut. Di ruang itu, setiap lekuk dan detail seperti mengajak pengunjung membaca ulang sejarah—bahwa kriya bukan hanya hasil keterampilan, melainkan jejak peradaban yang hidup.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, memandang pameran ini sebagai titik penting untuk menempatkan kembali ukir Jepara dalam perspektif yang lebih luas. Bukan sekadar produk industri, melainkan identitas budaya yang telah berakar ratusan tahun.

“Jepara itu bukan sekadar sentra produksi. Ia adalah ekosistem budaya yang sudah tumbuh ratusan tahun. Ukiran di sana bukan hanya teknik, tetapi warisan pengetahuan,” ujarnya.
Sejarah panjang itu berkelindan sejak masa kerajaan-kerajaan pesisir Jawa, lalu menemukan momentumnya pada era Raden Ajeng Kartini. Kartini tidak hanya dikenal sebagai pelopor emansipasi, tetapi juga sebagai sosok yang mendorong ukiran Jepara menjadi identitas lokal sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Sejak saat itu, keterampilan mengukir diwariskan secara alami—dari rumah ke rumah, dari bengkel ke bengkel. Ia tumbuh dalam keseharian, bukan di ruang kelas. Dan justru di sanalah kekuatannya — pada keberlanjutan yang organik, pada pengetahuan yang hidup di tangan-tangan para perajin.
Hari ini, denyut itu menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Industri mebel dan kerajinan Jepara menopang kehidupan ratusan ribu orang—menciptakan ekosistem yang saling terhubung antara perajin, pengusaha, pekerja produksi, hingga pelaku ekspor. Dari tradisi, lahir industri. Dari warisan, tumbuh masa depan.
Namun di balik geliat tersebut, ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Menurut Sobur, industri ini kerap terjebak dalam kompetisi harga di pasar global, sementara nilai yang sesungguhnya justru terletak pada cerita dan kedalaman karya.
“Selama ini kita kuat di produksi, tetapi sering terjebak pada persaingan harga. Padahal kekuatan utama kita justru ada pada nilai—pada cerita, pada detail, pada kedalaman karya,” tutur pendiri sekaligus CEO PT Gobal Kriya Nusantara itu du Jakarta Jumat (1/5).
Pameran “Tatah” menjadi semacam penanda arah baru. Ukiran Jepara yang selama ini identik dengan furnitur kini dihadirkan dalam bentuk yang lebih konseptual—menyentuh ranah seni rupa dan desain kontemporer. Ia tidak lagi hanya berfungsi, tetapi juga berbicara.
Ketika kriya masuk ke galeri, ada sesuatu yang berubah. Nilai ekonominya meningkat, tetapi lebih dari itu, martabatnya sebagai ekspresi budaya kembali ditegaskan. Ukiran tidak lagi sekadar produk, melainkan narasi—tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita ingin dikenali dunia.
Bagi HIMKI, masa depan industri mebel dan kerajinan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada kapasitas produksi. Ia harus dibangun di atas pertemuan antara kriya, seni, dan desain—sebuah integrasi yang memungkinkan tradisi tetap hidup, sekaligus relevan.
Di titik inilah Jepara memiliki keunggulan yang jarang dimiliki negara lain: kesinambungan tradisi yang tetap terjaga, sekaligus kemampuan untuk beradaptasi dengan zaman.
“Kita tidak mulai dari nol. Kita punya sejarah, kita punya keterampilan, dan kita punya ekosistem. Yang perlu kita lakukan adalah mengangkatnya ke level yang lebih tinggi,” ujar Sobur.
Pada akhirnya, “Tatah” bukan hanya pameran. Ia adalah ruang refleksi—bahwa di balik setiap ukiran, ada kemungkinan untuk berbicara kepada dunia. Bukan sekadar sebagai barang, tetapi sebagai identitas.
Dan dari Jepara, sebuah pesan sederhana kembali mengemuka—pelan, namun tegas, Indonesia tidak hanya mampu membuat barang, tetapi juga mampu membentuk makna. (aryodewo)
