01/05/2026
AktualEkonomi

Dari Sawah Ngawi, Harapan Itu Dipanen: BULOG Optimistis Wujudkan Swasembada Pangan 2026

POSSORE.ID, Ngawi — Pagi itu, hamparan sawah di Desa Baderan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, tampak lebih hidup dari biasanya. Di antara bulir padi yang menguning dan siap dipanen, langkah para petani berpadu dengan kehadiran para pemangku kebijakan. Suasana terasa hangat—bukan hanya karena matahari yang mulai meninggi, tetapi juga karena harapan yang tumbuh di setiap sudut ladang.

Di tempat inilah, Perum BULOG menggelar Panen Raya musim tanam pertama tahun 2026. Sebuah momentum yang tak sekadar menandai masa panen, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Direktur Utama BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, turut hadir langsung, menyapa petani, menyusuri sawah, dan memastikan bahwa upaya besar menuju swasembada pangan benar-benar berjalan di lapangan.

Bagi BULOG, panen raya ini bukan sekadar seremoni. Ada target besar yang tengah dikejar—penyerapan gabah dan beras setara 4 juta ton sepanjang tahun 2026. Target yang ambisius, namun bukan tanpa dasar. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, optimisme justru tumbuh dari sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Hari ini kita hadir di Ngawi untuk memastikan bahwa capaian target 4 juta ton benar-benar terwujud,” tegas Rizal, dengan nada penuh keyakinan. Ia menekankan bahwa keberhasilan tersebut bukanlah kerja satu pihak, melainkan hasil kolaborasi lintas sektor—mulai dari Badan Pangan Nasional, pemerintah daerah, TNI/Polri, hingga para pelaku usaha penggilingan padi.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Hingga awal April 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola BULOG telah mencapai sekitar 4,4 juta ton. Angka ini menjadi fondasi kuat bagi upaya mewujudkan swasembada pangan, sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat di tengah dinamika global yang kerap memengaruhi sektor pangan.

Namun, di balik angka-angka tersebut, ada hal yang tak kalah penting: kesejahteraan petani. Dalam dialog langsung di tengah sawah, Rizal memastikan bahwa harga gabah yang diterima petani tetap mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP), bahkan di beberapa kasus berada di atas standar tersebut. Sebuah sinyal positif bahwa upaya menjaga stabilitas harga juga berdampak langsung pada peningkatan nilai tukar petani.

Bagi para petani di Ngawi, kehadiran BULOG bukan sekadar membeli hasil panen. Lebih dari itu, ini adalah bentuk kehadiran negara yang memberi kepastian—bahwa jerih payah mereka dihargai, dan hasil panen mereka memiliki tempat dalam rantai pangan nasional.

Panen raya ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, jajaran Forkopimda, serta berbagai pihak terkait. Kehadiran mereka menjadi penegas bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan satu institusi, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan.

Di tengah riuh aktivitas panen, satu pesan terasa begitu kuat: swasembada pangan bukan sekadar target angka, tetapi tentang menjaga keberlangsungan hidup banyak orang—dari petani di desa hingga masyarakat luas di seluruh negeri. Dan dari sawah-sawah di Ngawi, harapan itu kini tengah dipanen, satu bulir demi satu bulir. (aryodewo)

Leave a Comment