POSSORE.ID, Jakata — Pagi itu, angka di layar bergerak pelan, nyaris tanpa suara. Rupiah menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar fluktuasi. Tapi bagi pelaku industri, angka itu terasa seperti ketukan pelan di pintu—sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.
Nilai tukar memang sering dipahami sebagai urusan pasar. Ia naik dan turun mengikuti dinamika global yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Namun, ketika pergerakan itu berlangsung dalam tren yang panjang, pertanyaannya menjadi lebih dalam yaitu apakah ini hanya gejolak, atau ada yang rapuh di dalam fondasi kita sendiri?
Menurut Abdul Sobur, Ketua Umum DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dalam lima tahun terakhir, rupiah perlahan bergeser dari kisaran Rp14.000 ke Rp17.000. Di saat yang sama, dunia juga berubah. Suku bunga global naik, konflik geopolitik mengganggu rantai pasok, dan dolar AS semakin kuat sebagai tempat berlindung. Semua itu nyata. Tetapi, menyandarkan seluruh penjelasan pada faktor eksternal terasa belum cukup.
“Ada persoalan yang lebih mendasar,” kata Sobur — struktur industri nasional yang belum sepenuhnya kokoh dari hulu hingga hilir. Ketergantungan masih tinggi, sementara kemandirian belum benar-benar terbangun.
Di sektor mebel dan kerajinan, misalnya, tutur CEO Global Kriya Nusantara itu, Indonesia sebenarnya memiliki semua yang dibutuhkan untuk unggul. “Bahan baku tersedia, keterampilan kriya tumbuh dari tradisi panjang, dan posisi dalam rantai pasok global cukup strategis. Industri ini bahkan menyerap lebih dari dua juta tenaga kerja—sebuah angka yang menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi ekonomi nasional,” katanya.
Namun realitas di lapangan berbicara lain. Industri hilir sering kali justru kesulitan mendapatkan bahan baku. Kebocoran ke luar negeri masih terjadi, sementara biaya logistik di dalam negeri tetap tinggi. Di sisi lain, akses pembiayaan belum sepenuhnya berpihak kepada pelaku usaha.
Kondisi ini tegas Abdul Sobur, menciptakan tekanan yang berlapis. Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut naik. Biaya logistik meningkat. Tetapi pada saat yang sama, peluang untuk meningkatkan daya saing tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan. Industri berada dalam posisi yang tidak seimbang.
Persoalan tidak berhenti di situ, jelas Ketua Organisasi Seni Islam Indonesia (INISAF) ini.Pasar domestik, yang seharusnya menjadi benteng terakhir, justru menghadapi tantangan lain. Barang jadi impor masuk dengan harga murah, sering kali tanpa standar kualitas dan fairness yang setara.
Di titik ini, persaingan menjadi tidak sehat. Industri dalam negeri yang memproduksi dengan standar, menyerap tenaga kerja, dan memenuhi kewajiban pajak harus berhadapan dengan produk yang tidak selalu bermain dalam aturan yang sama. Situasi ini menuntut kehadiran negara untuk mengambil langkah pengamanan pasar secara terukur.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kerugian yang dihadapi menjadi berlapis,” kata Ketum HIMKI tersebut. Di satu sisi, Indonesia kehilangan nilai tambah di pasar ekspor. Di sisi lain, pasar domestik yang seharusnya menjadi fondasi ketahanan ekonomi justru terkikis.
