30/04/2026
AktualOpini

Kemenangan yang Sunyi: Ketika Lebaran Tak Sekadar Perayaan, Tapi Perjalanan Pulang

Oleh Maghfur Ghazali

PAGI itu datang seperti biasa. Matahari pelan-pelan naik, angin berembus ringan, dan gema takbir masih terasa menggantung di udara. Tidak ada yang benar-benar berbeda, kecuali satu hal yaitu ada hati yang baru saja selesai menempuh perjalanan panjang—diam-diam, tapi melelahkan.

Sebagian orang menyebut Hari Raya Idulfitri sebagai hari kemenangan. Sebuah istilah yang terdengar megah, bahkan heroik. Tapi kemenangan seperti apa yang sebenarnya sedang dirayakan?

Jika kemenangan dimaknai sebagaimana pertandingan—seperti sepak bola yang mempertemukan dua tim, lalu berakhir dengan menang, kalah, atau seri—maka pertanyaannya menjadi lebih dalam, siapa yang dikalahkan dalam diri kita?

Barangkali jawabannya pernah disinggung dalam Al-Qur’an:

“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Di situlah sebetulnya letak “pertandingan” itu berlangsung—bukan di stadion, melainkan di ruang batin yang sunyi. Sebuah pertarungan antara keinginan yang liar dan kesadaran yang ingin tetap tunduk kepada Tuhan.

Selama bulan Ramadan, manusia (umat Islam) seperti diajak masuk ke dalam arena itu. Lapar bukan sekadar menahan makan, tapi latihan mengendalikan diri. Haus bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tapi cara memahami batas. Dan setiap godaan yang berhasil dilewati adalah satu langkah kecil menuju sesuatu yang lebih besar: kembali.

Kembali ke apa? Sebagian orang menyebut Lebaran sebagai “kembali ke fitrah.” Sebuah istilah yang sederhana, tapi dalam maknanya. Fitrah adalah keadaan awal manusia—bersih, jernih, tanpa beban. Seperti “setelan pabrik,” di mana manusia sejatinya diciptakan dalam kebaikan.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad pernah bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun perjalanan hidup, tekanan, ambisi, dan terutama hawa nafsu, perlahan menggeser manusia dari titik awal itu. Maka Ramadan menjadi semacam proses “reset”—sebuah upaya sadar untuk kembali menyelaraskan diri dengan fitrah tersebut.

Di titik ini, makna kemenangan dan kembali ke fitrah sebenarnya bertemu. Kemenangan bukan sekadar menang atas sesuatu yang terlihat, melainkan keberhasilan menaklukkan sesuatu yang tak kasat mata—diri sendiri.

Tapi di sinilah refleksi menjadi penting. Apakah kemenangan itu benar-benar meninggalkan jejak? Ataukah ia hanya menjadi euforia sesaat—seperti riuh takbir yang perlahan hilang ditelan hari, tanpa sempat mengubah apa-apa?

Al-Qur’an mengingatkan dengan halus: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Kemenangan sejati tampaknya tidak diukur dari seberapa meriah kita merayakan Lebaran, tetapi seberapa dalam perubahan itu menetap setelahnya. Apakah kita menjadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih ringan dalam memaafkan?

Karena jika tidak, bisa jadi yang kita rayakan hanyalah ilusi kemenangan—sebuah perasaan menang tanpa benar-benar pernah bertanding dengan sungguh-sungguh.

Lebaran, pada akhirnya, bukanlah garis akhir. Ia justru penanda, apakah perjalanan selama Ramadan membawa kita pulang, atau hanya sekadar lewat tanpa arah.

Dan mungkin, di antara gema takbir yang mulai mereda itu, ada satu pertanyaan yang layak kita simpan diam-diam:Setelah semua ini, kita benar-benar menang—atau hanya merasa menang? Selamat lebaran 2026 Taqobalallauhi mina waminkum, taqobal ya kariim! []

Penulis adalah Staf pengajar di Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Attaqwa KH Noer Alie (IAN) Bekasi

Leave a Comment