04/05/2026
Internasional

AS-Israel Lancarkan Serangan Berat, Trump Nyatakan Pasca Iran Akan Serang Kuba

Warga Iran menghadiri upacara pemakaman untuk para korban serangan Israel dan AS, di Yazd, Iran pada Jumat (6/3/2026)/Foto: Istimewa

POSSORE.ID, Jakarta – Serangan berat dilaporkan terjadi di Teheran , Jumat (6/3/2026). Ini setelah Israel mengatakan pihaknya menyerang “infrastruktur rezim” dalam “fase baru” perang yang dilancarkan bersama Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Perlu diketahui, perang sudah memasuki hari ke-7. Perang juga masih berdampak ke negara Teluk yang memiliki pangkalan militer AS seperti Qatar, yang telah mencegat drone dan Lebanon, di mana proksi Iran Hizbullah menyerang Israel.

Presiden AS Donald Trump sendiri tiba-tiba juga meminta terlibat dalam penunjukan pemimpin Iran berikutnya. Sebelumnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel 28 Februari.

Mengutip AFP, Kepala militer Israel sebelumnya telah memperingatkan bahwa kampanye AS-Israel sedang bergerak ke “fase berikutnya”. Dikatakan bahwa serangan akan “lebih jauh membongkar rezim dan kemampuan militernya”.

“Kami memiliki kejutan tambahan di depan yang tidak akan saya ungkapkan,” kata Letnan Jenderal Eyal Zamir dalam pernyataan yang disiarkan televisi sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia.

Hal sama juga dikatakan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Ia mengumumkan “kekuatan tembak di atas Iran dan di atas Teheran akan meningkat secara dramatis”.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka telah menembakkan rudal ke arah Tel Aviv setelah gelombang ledakan sebelumnya yang menyebabkan kebakaran di sebuah gedung perumahan di kota Israel tengah tersebut.

Jurnalis AFP mendengar dua gelombang ledakan yang hampir bersamaan di Tel Aviv pada Kamis malam, sementara jejak roket juga menerangi langit di Netanya, lebih jauh ke utara.

Giliran Kuba

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia akan beralih ke Kuba, negara di pulau Karibia setelah perang melawan Iran.

Kuba sendiri saat ini sedang mengalami hantaman keras dari AS berupa blokade energi.

“Apa yang terjadi dengan Kuba sungguh luar biasa,” kata Trump saat berpartisipasi dalam kunjungan klub sepakbola Inter Miami CF, juara Major League Soccer 2025, di Gedung Putih, Jumat (6/3/2026).

“Kami pikir kami ingin memperbaiki, menyelesaikan yang ini (Iran) terlebih dahulu,” tambahnya lagi di acara di mana ia bertemu dengan pesepak bola Lionel Messi itu.

“Tetapi itu hanya masalah waktu sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba,” ujarnya.

Komentar tersebut menunjukkan bahwa Trump, kurang dari seminggu setelah konflik militer yang meningkat di Timur Tengah, sedang mempertimbangkan langkah baru kebijakan luar negeri besar lainnya.

Trump sendiri mengalihkan fokusnya ke Kuba setelah memberikan pidato yang memamerkann perang di Iran, di mana ia mengatakan militer AS dan Israel terus “menghancurkan musuh sepenuhnya”.

“Kami ingin Anda kembali, dan kami tidak ingin kehilangan Anda. Kami tidak ingin membuat keadaan menjadi terlalu nyaman sehingga mereka tetap tinggal. Tetapi beberapa orang mungkin memang ingin tinggal. Mereka sangat mencintai Kuba,” katanya.

“Itu adalah hal lain yang seharusnya tidak terjadi,” ujarnya lagi.

Ia pun menyebut Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah “melakukan pekerjaan yang fantastis”. Rubio sendiri adalah seorang keturunan Kuba di mana orang tuanya beremigrasi tahun 1956.

“Dan Anda telah melakukan pekerjaan yang fantastis di tempat bernama Kuba,” tambah Trump, yang disambut tepuk tangan dari ruangan.

Sebelumnya, spekulasi serangan ke Kuba mencuat setelah Senator Partai Republik Lindsey Graham secara terbuka menyebut Kuba sebagai negara yang kemungkinan akan menjadi fokus berikutnya setelah Iran. Ia mengatakan hal ini dalam sebuah wawancara di Fox News.

“Kuba selanjutnya. Mereka akan mengikuti jejak kediktatoran komunis di Kuba. Hari-hari mereka sudah dihitung,” kata Graham dikutip CNBC Indonesia.

Trump dalam sebuah wawancara dengan laman AS, Politico, beberapa waktu lalu, juga sempat menyebut kejatuhan rezim Kuba. Ia terang-terangan menyebut “Kuba akan jatuh”.

“Kami memutus semua minyak, semua uang, atau kami memutus semua yang masuk dari Venezuela, yang merupakan satu-satunya sumber. Dan mereka ingin membuat kesepakatan,” katanya kepada Politico.

“Kami sedang berbicara dengan Kuba,” klaimnya saat itu. (lia/cnbc)

 

Leave a Comment