04/05/2026
Internasional

Konflik Mencapai Titik Didih Baru, Militer AS Akui Keteter Hadapi Drone Iran

Warga  Israel di Tel.Aviv  panik karena tak henti dihujani gemouran Iran/Foto: Istimewa /X

POSSORE.ID –Pejabat tinggi militer Amerika Serikat (AS) memberikan peringatan serius kepada para anggota parlemen dalam sebuah pengarahan tertutup pada Selasa waktu setempat

Peringatan serius ini, sebagaimana dikutip media ini via CNBC Indonesia, sejalan dengan kian memanasnya konflik Timur Tengah yang mencapai titik didih baru setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal balasan besar-besaran ke wilayah Israel Kamis (5/3/2026) dini hari.

Serangan ini memaksa jutaan penduduk Israel berhamburan ke bunker perlindungan bawah tanah saat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memasuki hari keenam dengan intensitas yang kian mengerikan.

Ketegangan di medan tempur ini memuncak hanya berselang beberapa jam setelah dinamika politik di Washington memanas.

Senat Amerika Serikat (AS) dari faksi Republik secara resmi memblokir mosi yang bertujuan untuk menghentikan kampanye serangan udara di Iran, yang memberikan keleluasaan penuh bagi Presiden Donald Trump untuk terus melanjutkan operasi militer tanpa hambatan legislatif.

Dalam pemungutan suara yang dramatis, Senat AS memberikan suara 53 berbanding 47 untuk tidak melanjutkan resolusi tersebut.

Keputusan ini diambil murni berdasarkan garis partai, di mana hampir seluruh anggota Republik menolak mosi tersebut, sementara hampir seluruh anggota Demokrat mendukung penghentian serangan udara.

Militer AS Akui Tak Mampu.

Militer AS menyatakan kemungkinan besar mereka tidak akan mampu menembak jatuh setiap drone Iran yang diluncurkan ke instalasi dan aset militer AS dalam serangan balasan.

Berdasarkan laporan dua orang yang mengetahui masalah tersebut, para pejabat yang dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa Iran telah mengerahkan ribuan drone serang sekali jalan.

Meskipun militer AS memiliki kapasitas untuk menjatuhkan sebagian besar drone tersebut, mereka mengakui tidak bisa menghalau seluruh rentetan serangan yang masuk.

Sebagai dampaknya, dalam pengarahan rahasia di Capitol Hill tersebut, para pejabat menyatakan bahwa fokus utama AS kini beralih pada penghancuran lokasi peluncuran drone dan rudal konvensional secepat mungkin. Informasi ini disampaikan oleh sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas detail yang sangat sensitif.

Iran diketahui meluncurkan drone Shahed sekali jalan yang berbiaya rendah sebagai bentuk pembalasan terhadap serangan AS. Dengan terbang rendah dan lambat, drone-drone ini dinilai lebih mampu menghindari sistem pertahanan udara konvensional dibandingkan dengan rudal balistik.

Seorang pejabat senior pemerintahan menyatakan bahwa strategi drone Iran yang tampak ingin memaksa AS mengorbankan pencegat Patriot dan Thaad yang canggih adalah langkah yang salah dan tidak berhasil.

Hal ini dikarenakan AS telah menjatuhkan drone-drone tersebut dengan berbagai metode pengukuran yang berbeda.

Meski demikian, sejumlah petinggi Demokrat di Kongres tetap menyatakan kekhawatiran bahwa AS telah menghabiskan terlalu banyak stok pencegat untuk bertahan dari serangan rudal balistik Iran. Jenderal Caine mengakui kekhawatiran tersebut secara internal, walaupun di depan publik ia tetap menyatakan keyakinannya terhadap level stok persenjataan yang ada.

“Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas yang sedang dihadapi, baik untuk serangan maupun pertahanan,” ujar Caine dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu pagi tanpa memberikan rincian spesifik dikutip The Guardian, Kamis (5/3/2026).

Tingginya intensitas penggunaan senjata ini memakan biaya yang sangat mahal. Pada hari-hari pertama konflik, AS menghabiskan sekitar US$2 miliar atau hampir Rp34 triliun per hari, meskipun angka tersebut kini turun menjadi sekitar US$1 miliar dan diperkirakan akan terus menurun seiring berlanjutnya konflik.

Pihak Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai hal ini. Sementara itu, juru bicara Kepala Staf Gabungan menolak berkomentar dengan alasan keamanan operasional yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Donald Trump melalui media sosial Senin malam menulis bahwa AS dapat mempertahankan tingkat penggunaan senjata tersebut tanpa batas waktu. Ia menyebut bahwa stok amunisi kelas menengah dan menengah atas militer AS secara praktis tidak terbatas, meski ia mengakui senjata di level tertinggi tidak berada di posisi yang diinginkan.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan dalam pengarahan pers Rabu (4/3)bahwa AS memiliki lebih dari cukup senjata untuk melakukan perang berkepanjangan dengan Iran. Ia juga mengklaim bahwa unggahan Trump tersebut sebenarnya adalah kritik terhadap keputusan pemerintahan Biden sebelumnya yang mengirimkan senjata ke Ukraina.

“Kami memiliki cadangan senjata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui oleh banyak orang di dunia ini. Presiden ingin menunjukkan bahwa, sayangnya, kita memiliki pemimpin yang sangat bodoh dan tidak kompeten di Gedung Putih ini selama empat tahun yang memberikan banyak senjata terbaik kita secara cuma-cuma,” tegas Leavitt.(lia/CNBCInd)

 

Leave a Comment