18/04/2026
AktualEkonomi

Menajamkan Arah Ekspor: Tiga Ujung Tombak Bernilai Tambah Indonesia

POSSORE.ID, Jakarta — Di tengah dunia yang bergerak tak menentu—perang dagang, proteksionisme, dan pasar global yang makin selektif—Indonesia perlahan belajar satu hal penting yaitu tidak semua sektor harus dikejar sekaligus. Ada kalanya negara perlu berhenti sejenak, menengok ke dalam, lalu bertanya dengan jujur di mana sebenarnya kekuatan kita berada?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menetapkan tiga subsektor sebagai fokus penguatan ekspor nasional yakni furnitur dan kriya, alas kaki, serta garmen dan tekstil. Di mata Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), pilihan tersebut bukan sekadar respons kebijakan jangka pendek, melainkan keputusan strategis yang mencerminkan pemahaman atas struktur industri Indonesia dan arah pasar global, khususnya Amerika Serikat.

“Ini bukan soal apakah arahnya benar atau tidak,” kata Abdul Sobur. “Arah itu sudah tepat. Tantangannya adalah bagaimana memastikan ketiganya benar-benar menjadi ujung tombak ekspor bernilai tambah dalam sepuluh tahun ke depan.” tutur Sobur yang juga pendiri sekaligus CEO PT Global Kriya Nusantara, sebuah perusahaan yang berfokus pada pengembangan produk kriya dengan sentuhan seni dan desain tradisional yang khas.

Bagi Indonesia, furnitur dan kriya bukan sekadar produk ekspor. Ia adalah cerita. Tentang material alam yang dikelola, keterampilan tangan yang diwariskan, dan desain yang tumbuh dari kebudayaan.

Menempatkan furnitur dan kriya sebagai prioritas ekspor, menurut Abdul Sobur, adalah cerminan kedewasaan kebijakan industri. Di sektor inilah Indonesia memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru negara lain: perpaduan antara sumber daya alam, craftsmanship, dan kekayaan estetika berbasis tradisi.

Pasar global—termasuk Amerika Serikat—kini tidak lagi hanya berburu harga murah. Konsumen mencari produk dengan cerita, identitas, dan komitmen keberlanjutan. Furnitur dan kriya Indonesia berada tepat di persimpangan itu.

Dengan mendorong sektor ini ke depan, pemerintah sesungguhnya sedang menempatkan Indonesia pada jalur ekspor premium dan high-end—segmen yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga dan tekanan perang dagang. Namun, potensi ini hanya bisa diwujudkan jika diiringi kebijakan yang konsisten: kepastian bahan baku legal, penguatan desain, akses pembiayaan yang ramah industri kreatif, serta strategi pemasaran yang melampaui pameran konvensional.

Mesin Ekspor yang Sudah Teruji

Berbeda dengan furnitur dan kriya yang sarat identitas, subsektor alas kaki adalah kisah tentang efisiensi dan skala. Sektor ini telah lama membuktikan diri sebagai mesin ekspor yang andal—terintegrasi dengan merek global, berorientasi pasar, dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Leave a Comment