03/05/2026
Aktual

42% Penduduk Indonesia Buang Air Besar Sembarangan

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia berada di urutan keempat dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Ada 42% penduduk Indonesia yang belum mendapatkan sanitasi yang layak. Atau sekitar 60 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.

“Kerugian ekonomi bisa mencapai Rp56,7 triliun pertahun. WHO melansir 94% kasus diare akibat sanitasi buruk,” kata Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Wilfried Purba, di Kemenkes, Selasa (2/9).

Mengapa di usia Indonesia yang ke-69 masih saja ada masyarakat Indonesia yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS)? Ia menegaskan, karena masih melekatnya mitos dan budaya yang berkembang di Indonesia.

“Salah satunya, kalau BAB di sungai, kan kotorannya mengalir, artinya tidak berdampak pada yang bersangkutan. Atau mitos, kalau BAB di kolam ikan, ikannya gemuk-gemuk, padahal ini keliru. Ada juga pandangan, kenapa BAB harus di rumah, kan najis,” paparnya.

Target MDGs sendiri pada 2015 harus sudah mencapai 68,87 persen masyarakat Indonesia yang terakses dengan sanitasi layak. Sedangkan target Indonesia agar rumah tangga terakses sanitasi layak dan berkelanjutan sebesar 62,41 persen. Sayangnya, pada 2014 ini baru terpenuhi sekitar 58% persen.

Dampak perilaku buruk BABS ini, membuat virus dan kuman dari tinja tersebar melalui makanan, air, dan pakaian. Ini juga menimbulkan diare yang membuat ribuan anak meninggal setiap hari. Selain itu, pertumbuhan dan kecerdasan anak juga terhambat.

“Dengan sanitasi yang layak ini bisa menyelamatkan 100 ribu nyawa balita akibat diare,” tandasnya.

Inilah yang menjadi tantangan dalam memenuhi target itu, mengingat belum semua masyarakat sadar pentingnya sanitasi layak. Terlebih Kementerian Kesehatan menargetkan ada sebanyak 100 juta jiwa yang mendapatkan air minum layak dan 120 juta jiwa terakses sanitasi.

Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, Nugroho Tri Utomo, menandaskan, sanitasi, air minum dan kesehatan lingkungan belum dianggap sebagai isu penting dalam kampanye partai politik pada pemilu 2014, padahal persoalan tersebut sangat penting.

“Isu tersebut seolah terabaikan dan belum dianggap sebagai isu penting. Mungkin tidak terlalu seksi, padahal itu sangat dibutuhkan masyarakat. Yang difokuskan hanya pada pengobatan gratis, sekolah gratis,” katanya.

Karenanya, berbagai pihak harus menumbuhkan niat dan komitmen untuk segera menyediakan air minum dan sanitasi yang layak. (tety)

Leave a Comment