JAKARTA (Pos Sore) — Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait memiliki pandangan berbeda dengan Fraksi berlambang Benteng Moncong Putih tersebut.
Putra tokoh senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait tersebut tidak setuju dengan desakan partainya agar pemerintah segera menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
“Saya tidak setuju pemerintah harus menaikan harga BBM. Sebelum menaikkan harga BBM, benahi dulu berbagai masalah di hulu produksi BBM, potensi kebocoran anggaran dan lakukan efisiensi,” kata anggota Komisi XI DPR RI yang biasa disapa Ara itu.
Dikatakan, dirinya tetap tidak setuju harga BBM naik sebelum berbagai masalah di sektor hulu BBM diselesaikan. “Membenahi sektor hulu itu yang mestinya jadi prioritas,” kata Ara, kemarin.
“Saya tidak setuju pemerintah harus menaikan harga BBM. Sebelum menaikkan harga BBM, benahi dulu berbagai masalah di hulu produksi BBM dan potensi kebocoran anggaran.”
Selain pembenahan sektor hulu BBM, wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat ini juga meminta pemerintah mengatasi terlebih dahulu potensi kebocoran anggaran dan lakukan efisiensi.
“Kalau sektor hulu BBM, potensi kebocoran dan efisiensi dilakukan, baru dicermati harga BBM,” tegas dia.
Muaruar juga mendesak pemerintahan mendatang menggenjot pendapatan negara dari sektor tambang dan energi yang saat ini dia anggap belum memberikan kontribusi terhadap negara. “Kalau pemerintah serius, masih banyak Sumber APBN yang masih bisa dioptimalkan.”
“Kalau pemerintah serius, masih banyak sumber-sumber APBN yang masih bisa dioptimalisasikan.”
Di tempat yang sama, pakar komunikasi politik Tjipta Lesmana mengingatkan Maruarar bahwa pernyataannya tersebut bisa membatalkannya untuk jadi menteri dalam Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Pernyataan Tjipta Lesmana tersebut direspon Maruarar. “Lebih baik tidak jadi menteri dari pada kehilangan kepercayaan rakyat,” jelasnya. (akhir)
