JAKARTA (Pos Sore) — Ahli geofisika/seismologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Sri Widiyantoro, raih Sarwono Award XIII yang dianugerahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Prestasi dan pengabdian Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB ini dinilai sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
“Kepakarannya memberikan kontribusi sangat signifikan di bidang seismologi. Karya besarnya mengembangkan teknik pencitraan tomografi dengan menggunakan data gelombang seismik yang dibangkitkan saat gempa bumi terjadi,” tandas Ketua LIPI, Dr. Lukman Hakim, di gedung LIPI, pada perhelatan ulang tahun ke-47 LIPI dan anugerah Sarwono Award XIII atau Penghargaan Sarwono Prawirohardjo, Senin (25/8).
Dikatakan, penelitian yang sebelumnya menjadi perdebatan di kalangan pakar ilmu kebumian dunia telah diterbitkan dalam berbagai jurnal ilmiah seperti Nature, Science, dan Journal of Geophysical Research. Hasil risetnya tersebut telah banyak dirujuk oleh banyak pihak dan tersitasi dalam indeks SCOPUS.
Profesor Dr Sri Widiyantoro, lanjutnya, bersama LIPI juga berhasil mengembangkan program studi pascasarjana Graduate Research on Earthquakes and Active Tectonics (GREAT) di ITB. “Program ini sangat penting bagi penyiapan akademisi dalam bidang seismologi yang memang sangat dibutuhkan menyelesaikan masalah kegempaan di Indonesia,” ujarnya.
“Saya terus terang terkejut tapi saya bersyukur bahwa tim penilai menyatakan saya penerima tahun ini. Ini adalah karunia buat saya, dan dengan kerendahan hati saya ucapkan terimakasih serta mengucapkan selamat kepada LIPI yang berulang tahun ke 47. Ini sangat memacu saya untuk berbuat baik lagi dalam menuntut ilmu untuk bangsa Indonesia,” tutur Sri Widiyantoro.
Profesor kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, berusia 52 tahun ini, juga dikenal sebagai ahli kegempaan, menempuh pendidikan sarjananya pada jurusan Geofisika dan Metereologi ITB pada 1981 hingga 1986. Gelar master diraihnya di Kyoto University, Jepang, pada 1989 hingga 1992. Gelar doktor diperolehnya dari Australian National University pada 1997.
Berbagai penghargaan telah ia terima atas penelitiannya untuk melihat isi dari lempeng bumi melalui getaran yang dihasilkan dari Bumi. Sebelumnya, 14 perhargaan dari dalam dan luar negeri telah dikantongi. Di antaranya, Habibie Award untuk bidang ilmu dasar pada 2007, Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) Award pada 2009, penghargaan Science and Technology Award berkat penelitian berjudul Pencitraan Tomografi Gempa Bumi untuk Struktur Zona Subduksi di Indonesia dan Dunia juga telah diterimanya. (junaedi)
