3.6 C
New York
21/04/2026
AktualPendidikan

Dari Pengajian ke Sidang Doktor: Dakwah Politik ala Tuty Alawiyah

POSSORE.ID, Jakarta — Hari itu, ruang sidang Universitas PTIQ Jakarta dipenuhi aroma semangat dan kesungguhan. Di antara para penguji bersorban dan berjubah akademik, seorang perempuan bersahaja tampil dengan tenang. Ia bukan sekadar akademisi. Ia adalah seorang pendakwah yang hidup di tengah jamaah, menyelami denyut nadi masyarakat dari dekat, lalu menjadikannya bahan refleksi ilmiah. Namanya Hj. Tuty Alawiyah, MA—dan kini resmi menyandang gelar doktor dengan predikat “Amat Baik”.

Tuty mengangkat tema yang tak biasa dalam disertasinya: Strategi Dakwah Argumentatif dalam Edukasi Komunikasi Politik di Majelis Taklim Attaqwa Bekasi Perspektif Al-Qur’an. Topik ini lahir bukan dari ruang kosong. Ia merespons langsung fenomena yang terjadi di masyarakat, terutama menjelang tahun-tahun politik ketika ruang-ruang pengajian kerap jadi sasaran politisasi.

“Majelis taklim bukan tempat kampanye, tapi tempat untuk mencerdaskan umat,” ujarnya pada POSSORE.ID usai sidang terbuka. “Justru di sana umat perlu dibekali bagaimana menyikapi informasi politik yang datang beruntun, agar tidak mudah termakan hoaks atau terjebak dalam fanatisme sempit.”

Siadang Promosi Doktor ke 344 Universitas PTIQ Jakarta dengan Promovenda Dr. Hj Tuty Alawiyah, MA, Kamis 31 Jiuni 2025

Lahir di Bekasi 11 September 1974, Tuty adalah putri pasangan almarhum H. Moh. Toha dan almarhumah Hj. Tihanih. Ia tumbuh besar di lingkungan Pondok Pesantren Attaqwa, tempat ia menyelesaikan pendidikan dari MI hingga MA. Kecintaannya pada ilmu membawa Tuty hingga ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, tempat ia meraih gelar sarjana Tafsir pada 1997. Ia melanjutkan S2 di IIQ Jakarta dengan konsentrasi Ulumul Quran dan Hadis, dan kini menyelesaikan program doktoral di Universitas PTIQ Jakarta tahun 2025.

Sejak 2007, Tuty aktif membina majelis taklim ibu-ibu di sekitar Bekasi, sembari mengajar sebagai dosen di Institut Attaqwa KH. Noer Ali. Di tengah aktivitas itu, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat kerap mengalami kebingungan dalam memilah pesan-pesan politik, apalagi yang dibungkus jargon agama. Dari situlah benih disertasinya tumbuh.

“Kadang-kadang ibu-ibu itu bingung, mana yang benar, mana yang cuma janji. Mereka merasa ikut pengajian, tapi kok isinya malah saling serang. Di sinilah saya merasa perlu ada pendekatan dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan, bukan memecah belah,” tutur Tuty.

Penelitiannya menyimpulkan bahwa strategi dakwah yang bersifat argumentatif—yang menekankan logika, struktur berpikir, dan nilai Qur’ani—adalah pendekatan yang paling relevan dalam menyampaikan edukasi politik. Strategi ini tidak hanya menghindari politisasi agama, tapi juga membentuk umat yang kritis dan adil dalam menyikapi dinamika politik.

“Dakwah itu bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang paling kuat argumennya dan paling halus caranya,” katanya.

Dalam proses penelitian, Tuty menemukan bahwa Majlis Taklim Attaqwa Pusat telah menjalankan strategi dakwah ini dengan cukup baik. Salah satu kekuatannya adalah penerapan empat kaidah penyaring informasi yang diajarkan kepada jamaah: kaidah ilmiah, kaidah keadilan, kaidah klarifikasi, dan kaidah manfaat. Empat kaidah ini menjadi kompas moral sekaligus intelektual bagi jamaah untuk bersikap dalam menghadapi arus informasi yang semakin deras.

Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Hj. Nur Arfiyah Febriani, MA dan Dr. Kholilurrohman, MA. Sidang terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. H.M. Darwis Hude, M.Si yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana PTIQ Jakarta. Turut hadir sebagai penguji Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, MA dan Assoc. Prof. Dr. Muhammad Hariyadi, MA, serta Assoc. Prof. Dr. H. Ahmad Shunhaji, M.Pd.I sebagai sekretaris sidang.

Dengan nilai akhir 92 (Amat Baik), Tuty resmi menjadi doktor ke-344 lulusan PTIQ. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan pengakuan atas perjuangan panjang yang dimulai dari sajadah-sajadah pengajian hingga ke podium akademik.

“Bagi saya, dakwah bukan hanya di masjid atau podium. Ia juga harus hadir di ruang-ruang intelektual, agar dakwah kita tidak tertinggal zaman,” ucap Tuty menutup pembicaraan.

Kini, setelah meraih gelar doktor, Tuty tak berencana meninggalkan akar perjuangannya. Ia tetap akan turun ke pengajian-pengajian, tetap akan menemani ibu-ibu majlis taklim, dan tetap akan bicara tentang politik—tapi dengan cara yang santun, berargumen, dan tentu saja: Qur’ani. (aryodewo)

 

Leave a Comment