01/02/2026
AktualInternasional

Wapres untuk Urusan Perempuan dan Keluarga Republik Islam Iran Dr. Ensieh Khazali Kunjungi Kowani

JAKARTA (Possore.id) — Momen Peringatan Hari Ibu ke-95, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mendapat kunjungan tamu kehormatan, Wakil Presiden untuk Urusan Perempuan dan Keluarga Republik Islam Iran Dr. Ensieh Khazali, Jumat 22 Desember 2023. Kunjungan ini menjadi spesial karena bertepatan juga dengan HUT ke-95 Kowani.

Kunjungan disambut langsung oleh Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, bersama jajaran DPP Kowani, staf ahli dan penasehat, perwakilan 103 organisasi perempuan dan pengurus yayasan milik Kowani.

Bagi Dr. Ensieh Khazali, ini adalah kunjungannya ke Rumah Perjuangan Kowani di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, adalah untuk yang kedua kalinya.
Ensieh Khazali sendiri juga seorang akademisi dan politisi.

Ia menyebutkan sekitar 60% penduduk Iran yang menamatkan sarjana adalah perempuan. Karena itu, ia begitu gencar menyuarakan pemberdayaan dan kesejahteraan perempuan di Iran.

Menurutnya, potensi perempuan Iran yang sangat besar dalam memajukan keluarga dan bangsa. Terlebih jika perempuan memiliki usaha yang dikelolanya.

Sementara itu, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto begitu terharu atas kunjungan Wakil Presiden untuk Urusan Perempuan dan Keluarga Republik Islam Iran. Giwo tidak menduga harapannya agar Dr Ensiyeh Khazali berkunjung ke Kowani akhirnya bisa terealisasi.

Harapannya ini ia sampaikan saat Giwo mengunjungi Iran pada event International Congress for Women Influence (ICWI) di Teheran Iran pada Januari 2023.

Giwo berpandangan kunjungan Dr Ensyieh sebagai tokoh perempuan pemberdayaan perempuan dan anak Iran sangat penting dan strategis bagi Kowani.


“Kowani dan Iran bisa saling bertukar pendapat dan pengalaman bagaimana pemberdayaan perempuan dan anak sehingga membuat mereka menjadi lebih sejahtera,” ucap Giwo.

Giwo menyebutkan sejatinya Kowani sudah menjalin kerjasama dengan Iran. Pada 2019, misalnya, bersama kedutaan Iran Kowani mengadakan sosialisasi dan edukasi terkait pendidikan, kesehatan dan kemajuan perempuan Iran yang diikuti lebih dari 1000 perempuan melalui aplikasi zoom.

Karena itu, Giwo berharap hubungan kerjasama yang sudah terjalin ini baik secara organisasi maupun pemerintahan akan terus berlanjut bahkan semakin meningkat. Mengingat banyak kesamaan dalam berbagai hal antara perempuan Indonesia dan perempuan Iran.

“Dua pekan lalu kami juga hadir pada acara Global Peace Foundation sebagai kelanjutan pertemuan di Filipina untuk mendukung perempuan sebagai agen perdamaian,” ungkap Giwo.

Giwo menjelaskan Kowani adalah organisasi federasi yang membawahi 103 organisasi perempuan di Indonesia. Ini adalah organisasi perempuan terbesar dan tertua di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai 97 juta perempuan.

Ia melanjutkan, ditetapkannya Hari Ibu pada 22 Desember adalah bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah terhadap perjuangan perempuan Indonesia. Karena itu, Hari ibu diperingati bertepatan dengan lahirnya Kowani.

Kowani (dulu Kongres Perempuan Indonesia) sendiri lahir pada 22 Desember 1928, tiga bulan setelah Kongres Pemuda yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Penetapan Hari Kebaya Nasional pun demikian. Bertepatan dengan moment Kongres Perempuan Indonesia ke-10 pada 1964. Saat itu sebanyak 7.500 perempuan yang hadir di Istora Senayan, mengenakan kebaya. Dari momen ini maka dijadikan rujukan bagi pemerintah untuk menetapkan Hari Kebaya Nasional.

Kiprah Kowani dalam perjalanan sejarah perjuangannya sudah tidak terhitung. Baik itu di tingkat nasional, maupun regional bahkan internasional. Sebut saja menjadi salah satu inisiator ACWO pada 1981, anggota international council of women sejak 1973.

Selain itu, menjadi anggota UN Ecosof pada 1998, menjadi chair Women 20 pada 2022, dan menjadi business professional women inernational.

Saat memberikan sambutan, Dr Ensiyeh Khazali menyampaikan kunjungannya ke Indonesia merupakan keinginannya untuk mengenalkan lebih banyak berbagai kemajuan yang dicapai oleh perempuan Iran. Iran juga ingin belajar dari berbagai program pemberdayaan perempuan Indonesia, mengingat dalam banyak hal, kedua negara memiliki banyak persamaan.

“Saya merasa banyak persamana antara Iran dan Indonesia khususnya dalam berbagai hasil karya dari UMKM, budaya dan seni. Saya melihat poduk dari industry kerajinan, ukiran dan rajut yang dikerjakan oleh perempuan Iran dan Indonesia memiliki banyak kesamaan,” katanya.

Dr Ensiyeh memandang perlunya digelar pameran industri bersama yang menggabungkan potensi perempuan Indonesia dengan perempuan Iran. Untuk jangka pendek bisa dengan menggelar expo bersama melalui virtual untuk memamerkan produk unggulan masing-masing negara terutama sektor UMKM.

“Pameran secara virtual tersebut digelar sambil menyiapkan pameran yang digelar secara offline. Karena pameran secara offline harus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak bea cukai masing-masing negara,” ucapnya.

Selain itu, Dr Ensiyeh juga mengusulkan perlunya jerjasama di bidang sosial dan kemanusiaan mengingat banyak sekali persoalan yang menimpa perempuan secara umum. Salah satunya masalah keamanan bagi perempuan Palestina yang setiap hari harus menghadapi situasi yang tidak aman dan nyaman.

“Kita sebagai perempuan harus menghentikan kebrutalan yang menimpa perempuan Palestina baik melalui tulisan, ucapan, melaporkan atau mendesak organisasi internasional untuk menghentikannya,” tandas Dr Ensiyeh.

Dalam kesempatan tersebut delegasi Iran juga melihat berbagai produk kerajinan yang dihasilkan perempuan Indonesia seperti kain batik dan kain ecoprint.

Leave a Comment