Pasangan AMIN, Rasyid Baswedan – Cak Imin dalam dialog Terbuka Muhammadiyah.//Kompas TV
SURAKARTA (Possore.id) — Calon presiden No.1 Anies Rasyid Baswedan bicara tentang korupsi dan upaya pemberantasannya. Dalam dialog terbuka yang digelar PP Muhammadiyah di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Rabu (22/11), persolan korupsi diajukan seorang panelis, antaranya dengan membandingkan keadaan di dalam negeri dengan di China.
Anies tegas mengatakan, korupsi tidak bisa dibiarkan. Menurut Anies, ketika korupsi dibiarkan, mungkin saja bisa menciptakan kenyamanan dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang itu akan menciptakan ketimpangan yang bisa meletup menjadi masalah sosial.
Pakar di bidang Hukum dan Demokrasi, Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S.H., M.Hum., mengajukan pertanyaan sol korupsi ini dengan membandingkan tingkat korupsi di Indonesia dengan China.
Aidul Fitriciada menyampaikan, data terakhir pada September tentang indeks negara hukum global, Indonesia menempati rank 66 dari 142 dengan skor 0.54. Sementr China pada peringkat lebih rendah, yaitu rank 97 dari 142 negara yang disurvei.
Menimbang bahwa korupsi di China lebih parah tetapi tingkat ketertiban dan keamanan tinggi, menurut Aidul Fitriciada, jangan jangan masyarakat kita lebih suka negara yang aman, dibandingkan dengan negara yang bersih.
Dialog terbuka ini merupakan bagian dari rangkaian uji publik Muhammadiyah bagi tiga Capres-Cawapres Pemilu 2024 yang dimulai Rabu ini (22/11). Pada kesempatan pertama pasangan calon No 1, Anies Baswedan tampil bersama Muhaimin Iskandar. Pasangan ini mejawab pertanyaan panelis secara bergantian.
Anies mengkritik kondisi Indonesia saat ini dan menyoroti korupsi secara khusus.
Anies mulanya berbicara soal Indonesia yang hari ini menurutnya mengalami kemunduran. Dia menyingung Indonesia mengalami penurunan dari segi demokrasi, kebebasan pers, dan persepsi korupsi.
“Kami merasa perlu untuk mengembalikan kegiatan demokrasi kita untuk bisa kembali, Indonesia hari ini mengalami kemunduran, kemunduran dalam kegiatan kenegaraan dan demokrasi,” katanya.
Indeks demokrasi turun dari 2015 ke 2022, indeks kebebasan pers turun, indeks persepsi korupsi turun. Karena itu dia berencana Insyaallah bisa mengembalikan agar integritas menjadi prioritas utama dalam menjalankan pemerintahan.
Khusus menyangkut korupsi, Anies mengungkpkan, begitu ada korupsi, otomatis itu artinya kebijakan-kebijakan yang seharusnya dirasakan oleh orang banyak, dana yang seharusnya bisa dirasakan oleh semua, berhenti di kelompok-kelompok tertentu saja. Dalam jangka panjang ini eksplosif,” tegas Capres dari Koalisi Perubahan ini.
Anies juga mengatakan, jika korupsi dibiarkan, efeknya akan langsung ke rakyat. Dalam konteks tersebut, dia mencontohkan jalan raya yang dikorupsi yang pada akhirnya memberikan dampak negatif pada distribusi pangan.
“Kami melihat, bagaimana pun juga korupsi ini tetap harus diberantas. Sampai nol belum tentu bisa, tapi ikhtiar pemberantasan harus terus menerus dilakukan,” tegas Anies dengan mantap.
Dia menambahkan bahwa kepemimpinan nasional harus mempunyai nilai, sehingga ketika ada kebijakan yang menyimpang, maka kepemimpinan akan paham kapan harus kembali, termasuk tentang pemerintahan yang bersih.
Pada akhir sesi dialog ini, di hadapan ribuan peserta baik dari warga Persyarikatan Muhammadiyah, mahasiswa, maupun masyarakat umum, Capres dan Cawapres nomor urut 1 ini mendapatkan kenang-kenangan yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof., Dr., Haedar Nashir, M.Si., berupa Kartu Anggota Kehormatan Muhammadiyah.**
