24/04/2026
AktualNasional

HUT ke-13 Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo: Kembali kepada Fitrah Cita Negara Berlandaskan Pancasila

JAKARTA (Possore.id) — Aliansi Kebangsaan pada 28 Oktober 2023 tepat berusia 13. Kelahirannya bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda.

Merayakan ulang tahun ke-13, Aliansi Kebangsaan menggelar orasi ilmiah sekaligus meluncurkan Program Hibah Dana Riset Kebangsaan.

Kegiatan berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senin 30 Oktober 2023. HUT tahun ini, Aliansi Kebangsaan mengajak ‘kembali kepada fitrah cita negara’, Pancasila.

“Kembali kepada fitrah cita negara salah satu pintu masuknya adalah dengan kembali ke UUD 1945 yang asli,” ucap Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat memberikan sambutan.

Menurutnya, kembali ke fitrah cita negara adalah hal yang sangat esensial, agar bangsa Indonesia dapat melakukan reorientasi ke titik awal.

“Sehingga tidak kehilangan jejak dalam perjalanan hidupnya dalam mewujudkan cita-cita proklamasi,” tegasnya.

Dia mengaku, bersyukur bangsa ini memiliki Pancasila sebagai shared values yang bisa dipedomani. Tanpa meniadakan identitas etnisitas dan identitas lainnya.

Sehingga menjadi rujukan bersama untuk mendorong proses transformasi struktur dan kultur demi terwujudnya common domain ke-Indonesiaan.

Bangsa Indonesia memiliki potensi kultural, yaitu Pancasila sebagai konsensus moral pemersatu bangsa dan sepakat memfungsikannya sebagai “Titik Temu, Titik Tumpu dan Titik Tuju”.

Sayangnya, Pancasila belum sepenuhnya menjadi rujukan utama dan menjelma ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Bahkan, kita seakan menjauh dari Pancasila. Masih terdapat jurang yang kian lebar antara idealitas dengan realitas aktualisasinya,” urainya.

Dia menegaskan, Pancasila belum sungguh-sungguh didalami dan dikembangkan menjadi ideologi kerja (working ideology) dalam praksis pembangunan yang memandu kebijakan pembangunan nasional di segala bidang kehidupan.

“Dengan kata lain, ideologi Pancasila itu belum dijadikan sebagai kerangka paradigmatic dalam pembangunan nasional,” imbuh Pontjo.

Kalau kita telusuri sejarah kebangsaan “Menjadi Indonesia”, pada dasarnya
bangsa Indonesia terbentuk dari kelompok-kelompok kecil masyarakat atau entitas masyarakat hukum bersahaja yang heterogen yang memiliki genuitas masing-masing secara adat istiadat dan secara budaya.

Dalam kesempatan itu, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, memberikan orasi ilmiah berjudul “Kembali Kepada Fitrah Cita Negara”.

Ia mengungkapkan, hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan perjalanan panjang. Dimulai dari satu titik tertentu, berperoses secara dinamik, menuju pada cita-cita yang telah dirumuskan oleh bangsa yang bersangkutan.

Dikatakan, titik tertentu, sebagai awal keberadaan bangsa dan/atau Negara itu dalam perspektif religius disebut sebagai fitrah.

Untuk itu, fitrah kebangsaan (nasionalisme) Indonesia perlu dirawat. Jangan sekali-kali nasionalisme tergusur atau tergeser.

“Apalagi tergantikan dengan internasionalisme, ataupun faham-faham lain sejenis, ataupun faham-faham derivasinya,” tukasnya.

Prof Sudjito menambahkan, bangsa Indonesia sudah sepakat bahwa dasar filsafat Negara adalah Pancasila.

Maka, para pakar sering menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsa Indonesia.

“Adapun bentuk dan susunannya sebagai berikut. Pertama, Pancasila sebagai sistem nilai mempunyai ciri-ciri, yaitu merupakan kesatuan yang utuh dari setiap unsur pembentuknya, dan unsur-unsur itu mutlak adanya, tidak dapat ditambah atau dikurangi.

“Kedua, susunan sila-sila Pancasila merupakan kesatuan organis, satu sama lain membentuk sistem yang disebut majemuk tunggal,” tutupnya.

Dalam peraayaan HUT ke-13 Aliansi Kebangsaan itu, turut hadiricara Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Prof. Komaruddin Hidayat.

Selain itu, ilmuwan Tri Mumpuni, Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia Dr. Alfitra Salam, Ketua Forum Rektor Indonesia Prof. Mohammad Nasih dan sejumlah tokoh penting lainnya.

Kegiatan ditutup dengan pemotongan tumpeng, berfoto bersama, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Dimeriahkan dengan penampilan dari musisi dan penyanyi bersuara sopran, Lea Simanjutak.

Leave a Comment