18/04/2026
AktualEkonomiKesra

Melejitkan Keberdayaan Perempuan Melalui Aktivitas Ekonomi

JAKARTA (Pos Sore) — Selama pandemi Covid-19, sebagaimana kita ketahui banyak perempuan Indonesia yang menjadi tulang punggung keluarga. Beragam alasan mengapa akhirnya perempuan akhirnya memutuskan terjun untuk berwirausaha.

Umumnya karena keterpaksaan oleh faktor keadaan. Semisal suami meninggal akibat Covid-19, suami kehilangan pekerjaan, isteri terkena PHK, penghasilan suami yang berkurang, dan lainnya.

Keterpaksaan ini menjadi gambaran bahwa sejatinya perempuan memiliki potensi untuk berdaya. Jika terus digali, bisa jadi keberdayaan perempuan kian melejit. Effort dari perempuan berdaya, tentu saja Indonesia maju.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam webinar spesial Hari Ibu bertajuk ‘Melejitkan Keberdayaan Perempuan Melalui Aktivitas Ekonomi’, Jumat 23 Desember 2022 malam yang diinisiasi oleh Nina Nugroho bekerja sama dengan Evavora.

Diangatnya tema ini ingin menekankan bahwa perempuan mempunyai kesempatan besar untuk bisa berdaya dalam sektor ekonomi yang bisa disesuaikan dengan passion dan kondisinya. Peluangnya pun begitu besar.

Webinar ini menghadirkan narasumber Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Lenny N. Rosalin, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto, Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan Kementerian Koperasi dan UKM Destry Anna Sari, dan Nina Nugroho, Founder Gerakan #akuberdaya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga berkesempatan memberikan sambutan. Ia mengatakan perempuan mandiri dan tangguh menjadi kunci untuk perempuan bisa berpartisipasi dalam setiap akses. Dimulai dalam keluarga hingga ke setiap sektor pembangunan.

Bintang Puspayoga menilai perempuan di Indonesia sudah semakin maju dalam berpikir, berkarya, dan memberikan kontribusi yang nyata untuk sekelilingnya, sehingga potensi mereka harus juga mendapat dukungan dari semua pihak.

“Kalau kita bicara masalah kontribusi perempuan, ini sebenarnya sudah luar biasa. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang hebat dan luar biasa, tidak ada istilah yang tidak mungkin dan tidak bisa dikerjakan oleh perempuan, asalkan diberikan kesempatan,” tuturnya.

Meski ketimpangan akses dan partisipasi masih banyak dihadapi oleh kelompok perempuan, Menteri PPPA mendorong perempuan Indonesia untuk terus mengembangkan potensi dan memberdayakan dirinya dalam berbagai aspek kehidupan.

“Bagi perempuan di seluruh Indonesia, jadilah perempuan mandiri, perempuan tangguh. Teruslah berkarya, berinovasi, dan berkreativitas. Kontribusi perempuan adalah penopang dan fondasi negeri dari aspek sosial dan ekonomi. Hidup perempuan Indonesia!” ujarnya.

Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan KemenKopUKM Destry Anna Sari

Jangan terbebani dengan urusan modal

Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan Kementerian Koperasi dan UKM Destry Anna Sari menyampaikan untuk
berwirausaha sebenarnya perempuan tidak harus menjadi pengusaha yang memproduksi sendiri produknya dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, untuk memulai bisnis, perempuan jangan sampai terbebani dengan urusan modal. Ada hal lebih penting yang mesti dipelajari dan dipahami sebelum memulai usaha: mindset, market, dan money.

“Terpenting adalah memiliki pola pikir sebagai wirausaha yang tangguh, kemudian memahami target pasar yang diinginkan supaya produk menyasar konsumen yang tepat. Terakhir barulah memikirkan modal,” pesan Destry.

Nina Nugroho menambahkan, jika kondisi sehari-hari kurang memungkinkan perempuan untuk mencurahkan waktu dan tenaga sebagai wirausaha, maka bisa mengambil posisi dalam rantai pasok industri.

Terlebih saat ini pemerintah sangat mendukung rantai pasok yang berkelanjutan. Karena itu, pilihan ada di tangan perempuan. Apakah mau menjadi pengusaha atau menjadi bagian dari rantai pasok.

Jika mau jadi pengusaha, tentukan apakah mau jadi pengusaha yang berdiri sendiri atau mau berkolaborasi. Semua tergantung pada passion, bidang apa yang ingin ditekuni.

“Dalam rantai pasok, perempuan bisa menjadi dropshipper atau distributor dan tetap bisa mendapat pemasukan yang pasti,” kata Nina Nugroho saat menjawab pertanyaan peserta mengenai cara membantu perekonomian keluarga saat pandemi.

Menurutnya, perempuan bisa memilih cara apa pun, tapi harus memiliki komitmen dan daya juang untuk menjalankannya. Tentunya juga bertanggung jawab dengan pilihan yang telah diambil.

“Ingat, apa yang kita lakukan bukan hanya demi kepentingan diri sendiri tapi untuk orang lain dan masyarakat, terutama untuk keluarga,” tambah CEO PT Nina Nugroho International ini.

Nina Nugroho

Nina Nugroho menyakini semua perempuan sejatinya berdaya, terlebih untuk melakukan sesuatu yang luar biasa untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak kaum perempuan untuk sama-sama mendobrak mentalitas yang kurang baik sebagai perempuan.

“Yakinlah bahwa sebagai perempuan, kita bisa melakukan apa pun, bahwa kita mampu. Jangan biarkan stigma dan budaya di sekitar membatasi keberdayaan kita,” tandasnya.

Nina menambahkan sesungguhnya perempuan sudah ditinggikan derajatnya oleh agama. Karena itu, tidak perlu menyejajarkan diri dengan siapa pun mengingat posisi perempuan sudah tinggi (mulia).

“Jangan lupa untuk menaikkan kapasitas diri kita sehingga apa pun yang kita lakukan dapat menjadi ladang amal, dan pada akhirnya bisa kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan,” tegas Nina

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Lenny N. Rosalin juga berpandangan bahwa kolaborasi penting juga diperhatikan. Ia membagikan pengalaman KemenPPPA saat melakukan intervensi di tingkat desa.

Pemerintah memang ingin menjadikan desa-desa di Indonesia ramah perempuan dan peduli anak. Salah satu ukurannya adalah makin banyaknya wirausaha perempuan pada tingkat desa.

“Kami fokus pada sejumlah desa dengan kriteria tertentu. Misalnya desa dengan kepala desa perempuan atau adanya pimpinan daerah perempuan. Di sana, kami ingin mengetahui apakah perempuan yang menjadi pemimpin itu memberdayakan perempuan lain,” ungkap Lenny.

KemenPPPA melakukan asesmen singkat terkait passion para perempuan di desa sebagai dasar pelatihan yang akan diberikan. Lenny mencontohkan ada 100 perempuan di satu desa yang akhirnya memilih kuliner dan wastra sebagai aktivitas ekonomi mereka. Mereka pun dilatih sampai mampu memulai produksi sendiri dari rumah.

Produk mereka kemudian dibeli dan disalurkan untuk membantu perempuan lain atau keluarga lain yang membutuhkan di masa krisis. Dari perempuan untuk perempuan. Perempuan bisa membantu orang lain, masih bisa juga mendampingi anak dan suami yang beraktivitas dari rumah.

“Dengan segala keterbatasan, pandemi ternyata bisa membuka jalan rezeki. Perempuan Indonesia sebaiknya mampu menghayati tema Peringatan Hari Ibu ke-94, Perempuan Berdaya, Indonesia Maju, untuk bisa terus berkreasi dan berinovasi dalam memberdayakan diri,” tandasnya.

Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd

Terapkan Filosofi Kura-Kura

Sementara itu, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd berbagi kisah bagaimana dirinya pantang menyerah untuk mengejar cita-cita hingga berada di titik sekarang ini.

“Dalam menjalani hidup, baik dalam kehidupan keluarga, organisasi, maupun bisnis, saya selalu berpegang pada filosofi kura-kura, yaitu bagaimana menjadi sosok manusia yang konsisten, berkomitmen untuk bergerak maju, dan tidak bisa dihambat oleh apa pun,” tegasnya.

Giwo menyampaikan, kura-kura tidak pernah mundur, meski lambat tapi terus berjalan maju. Sekali menggigit, tidak akan pernah dilepaskan. Itu filosofi dari tekad dan upaya untuk meraih cita-cita.

Menurutnya, setiap manusia pasti mengalami proses pencarian jati diri yang menjadi tahap paling krusial dalam kehidupan manusia. Proses yang berjalan dari waktu ke waktu itu menjadikan setiap orang mengenal dirinya dengan makin baik.

“Kita harus menyadari dalam meraih kesuksesan dalam hidup tidak ada yang instan, tidak ada yang mudah, dan semua penuh tantangan,” ujar Giwo yang juga pengusaha ini.

Giwo mengakui, bekal pendidikan dari orangtua dan latar belakang akademik yang ia miliki membuatnya berani untuk mulai merintis bisnis. Meski datang dari keluarga yang terbilang berkecukupan, Giwo ingin bisa mandiri—terutama secara finansial.

Sejak SMA, ia bekerja keras untuk merebut setiap peluang dan pantang menyerah. Itu sebabnya mengapa akhirnya Allah mengizinkannya menggapai kesuksesan dengan bahagia. Apa yang Allah berikan saat ini adalah proses dari ikhtiarnya.

Dikatakan, dunia dan akhirat harus seimbang agar ada ketenteraman hati, karena kita berusaha tidak serta-merta untuk kepentingan diri sendiri tapi juga kepentingan keluarga, orang lain, lingkungan, dan bangsa.

“Mari mengukir kebaikan untuk menjadi amalan kita, kita mengukir bakti untuk negeri hingga mengharumkan nama Indonesia ke pentas global, sekaligus belajar dari negara lain yang lebih maju,” kata Giwo.

Bagi perempuan yang ingin memulai bisnis dari nol, Giwo memberi sejumlah masukan. Pertama, perempuan harus menguasai hard skill berupa ilmu pengetahuan, pemahaman teknologi, hal teknis yang berhubungan dengan bidang bisnis, manajemen, teknik marketing, hingga pelayanan terbaik untuk konsumen.

Kedua, memiliki soft skill, terutama dalam berkomunikasi, leadership, membangun networking, termasuk mau menerima masukan dari siapa pun dan pantang menyerah.

“Intinya adalah bagaimana menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan Sang Khalik secara intens dan konsisten, insya Allah hidup kita akan bermakna dan bahagia,” tegas Giwo.

Giwo juga memberikan tips meraih sukses. Ia mengingatkan setiap orang tidak bisa langsung melesat ke atas, tetapi harus mengambil satu langkah dan langkah lainnya untuk bisa sampai pada kesuksesan.

Baginya, sukses adalah rangkaian dari berbagai tindakan, juga rasa suka dan bangga (terhadap pekerjaan), from zero to hero.

“Semoga perempuan kebanggaan Tanah Air dapat mencapai kesuksesan dan memaksimalkan potensi diri dan memaksimalkan multiperannya dengan baik,” pungkasnya.

Sumber:
kompasiana.com

Leave a Comment