18/04/2026
AktualKesehatanKesraNasional

Berkontribusi dalam Percepatan Penurunan Stunting, Kowani Menerima Penghargaan dari BKKBN

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M. Pd menerima penganugerahan dalam Percepatan Penurunan Stunting dari kepala BKKBN yang mewakili pemerintah, Selasa 6 Desember 2022.

BKKBN menilai Kowani sebagai organisasi perempuan terbesar dan tertua di Indonesia sangat berkontribusi dalam berbagai upayanya dalam percepatan penurunan stunting dengan memberikan dukungan layanan gizi spesifik.

Giwo menyampaikan upaya percepatan penurunan stunting yang dilakukan oleh Kowani sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan serts paradigma sehat dan keluarga sehat berdasarkan hasil Kongres Kowani pada 3-5 Desember 2014.

Dari kongres itu menghasilkan dua keputusan penting di bidang kesehatan. Pertama, meningkatkan peran serta (partisipasi aktif) dalam mengupayakan terwujudnya derajat kesehatan masyarakat dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti kebersihan diri dan lingkungan, gizi dan olah raga.

“Kedua, meningkatkan kesehatan secara berkelanjutan sejak janin, balita, remaja, dewasa hingga lansia,” kata Giwo.

Dalam merealisasikan program umum khususnya di bidang kesehatan berdasarkan hasil Kongres, Kowani pada 2018 juga telah bersinergi dalam melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan mencegah stunting.

Gerakan ini sebagai wujud komitmen dalam menyongsong Indonesia emas 2045 dan untuk melahirkan generasi dengan kualitas SDM unggul bebas stunting.

Giwo menjelaskan, Gerakan Ibu Bangsa Percepatan Penurunan Stunting melakukan penggerakkan lini lapangan dengan partisipasi aktif dalam penguatan kesejahteraan keluarga dengan kelompok sasaran.

Di antaranya remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu yang memiliki anak dengan usia 0-59 bulan melalui komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang kesehatan dan pengasuhan anak berbasis keluarga kepada seluruh 102 anggota organisasi Kowani, kepada mitra Kowani BKOW dan GOW di seluruh Indonesia.

“Perlu diketahui juga Pemerintah telah menetapkan 12 provinsi prioritas khusus percepatan penurunan stunting, dan pada akhir tahun ini Kowani telah melakukan intervensi pada 3 provinsi prioritas di antaranya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara dan Banten,” ungkap Giwo.


Kowani juga melakukan MoU dengan Pita Putih Indonesia pada 14 Oktober 2021 untuk saling berkolaborasi dalam Gerakan Ibu Bangsa untuk Percepatan Penurunan Stunting.

Caranya, melalui upaya penyelamatan anak dalam 1000 HPK dari stunting dengan pemantauan dan dukungan untuk penanganan kasus gizi buruk.

Selain itu, upaya perubahan norma tentang stunting dan membangun kemandirian remaja untuk kesehatan reproduksi, advokasi kepada Pemda dan PemDesa serta pendampingan pada keluarga.

Dikatakan, sosialisasi dan kampanye untuk membangun pemahaman tentang stunting juga dilakukan melalui pertemuan, ceramah, mengisi bagian dari acara sosialisasi untuk hal lain yang terkait.

Selain itu, dengan menyebarkan siaran pers, penerbitan press release, sosialisasi melalui media massa televisi dan surat kabar/koran. Sosialisasi melalui media sosial seperti website organisasi, website mitra kerja, facebook, Instagram, youtube, whatsapp dan lainnya, juga tidak dilewatkan.

Upaya lain yang dilakukan Kowani dengan melakukan rapid assessment untuk percepatan penurunan stunting kepada 62 anggota organisasi dari 99 anggota organisasi kowani.

Selain bekerja sama dengan PPI, Kowani juga bersinergi dan berkolaborasi dengan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), dengan dunia usaha beberapa di antaranya PT Oganon Pharma Indonesia dan PT. Paragon Technology and Innovation.

Kowani juga telah melaksanakan layanan gizi spesifik di 1223 Posyandu Binaan Organisasi, BKOW dan GOW se-Indonesia dengan 3400 kader penggerak terlatih, program peningkatan ketahanan keluarga di 754 RT/RW dan program peningkatan kapasitas kader penggerak di 512 Kabupaten/Kota.

Membuat e-book sebagai materi pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, yang dapat diunduh di http://tiny.cc/ebookPPI22.


Mulai dari e-book mengenai kebersihan remaja, gizi remaja, remaja dan stunting, buku panduan ibu hamil, melahirkan dan nifas.

Hingga buku saku untuk kesehatan ibu, cegah stunting sejak dini, sampai dengan peran ayah dan keluarga dalam peningkatan kesehatan anak dan pencegahan stunting.

Kowani juga melakukan kerjasama dengan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam percepatan pernurunan stunting untuk terus berupaya meningkatkan akses pada makanan bergizi dan mendorong ketahanan pangan.

Meningkatkan kesadaran publik dan perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah stunting, memperkuat konvergensi melalui koordinasi dan konsolidasi program dan kegiatan pusat, daerah dan desa.

Meningkatkan pemantauan dan evaluasi sebagai dasar untuk memastikan pemberian layanan yang bermutu, peningkatan akuntabilitas dan percepatan

Sebagaimana diketahui, Presiden menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Perpres ini hadir sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mempercepat pencapaian target penurunan stunting menjadi 14 persen pada 2024.

BKKBN sendiri menerbitkan Peraturan Nomor 12 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN PASTI) sebagai upaya mengkonsolidasikan kegiatan, program, dan anggaran.

Tiga fokus pendekatan RAN PASTI meliputi pendekatan intervensi gizi, pendekatan multi sektor dan multi pihak serta pendekatan berbasis keluarga beresiko stunting.

Perpres 72 tahun 2021 dan RAN PASTI tahun 2021 sampai saat ini telah diimplementasikan selama satu tahun lebih. Data SSGI 2021 menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia berada di 24,4 persen.

Walaupun mengalami penurunan masih diperlukan upaya yang besar dari berbagai pihak untuk mencapai target nasional.

Leave a Comment