JAKARTA (Pos Sore) — Anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) menyelenggarakan Musyawarah Nasional pada 25 – 27 November 2022.
Tema yang diangkat pada Munas V ini “Menjadi Wanita Tangguh, Berdaya Saing, Turut Berpartisipasi dalam Pemulihan Ekonomi Bangsa”.
Munas ini dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gusti Ayu Bintang Puspayoga, serta Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, I Nengah Duija.
Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd dalam sambutannya pada Munas V WHDI, Sabtu 26 November 2022, menyampaikan rasa bangganya memiliki anggota organisasi seperti WHDI.
Di Kowani — organisasi federasi tertua dan terbesar di Indonesia dan dunia, WHDI anggota nomor 78 dari 102 anggota organisasi Kowani.
Kowani sendiri sebagai satu-satunya organisasi wanita Indonesia yang mempunyai consultative special status sebagai anggota UN Women dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Economic and Social Council).
“Kowani dan WHDI secara konsisten memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Giwo pada pembukaan Munas V WHDI, Sabtu 26 November 2022.
Giwo juga mengapresiasi WHDI yang bersama Kowani berorientasi di bidang sosial dan keagamaan untuk menampung aspirasi dan kreativitas perempuan-perempuan Indonesia.
Dikatakan, sejak 1935 Kowani mengemban amanat besar dari para founding mother sebagai Ibu Bangsa. Ibu yang mengemban tanggung jawab mulia mempersiapkan dan mendidik generasi penerus bangsa.
“Generasi yang memiliki jiwa nasionalisme dan semangat toleransi yang tinggi serta menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan ekonomi keluarga dan masyarakat,” ujar Giwo yang pernah menjabat Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Giwo menyampaikan, kedudukan wanita Hindu dalam kitab suci Weda, sangat terhormat. Sejajar dengan kedudukan laki laki sebagai pasangan yang harmonis.
“Karena itu, kita harus mampu mengembangkan potensi dan swadharma dengan baik sebagai Ibu Bangsa yang religius,” ujar Giwo memberikan arahan.
Tentu peran ibu bangsa ini juga sesuai dengan tema munas yang diusung. Seperti dirasakan bersama, saat ini kita masih menghadapi efek pasca pandemi covid 19.
Indonesia pun pada 2023 diprediksikan akan menghadapi krisis global, baik di bidang ekonomi, pangan maupun industri
“Saya yakin melalui wadah organisasi WHDI mampu menciptakan dan meningkatkan perempuan-perempuan Indonesia yang cerdas,” katanya.
Selain itu, mandiri secara finansial, memiliki potensi untuk meningkatkan daya saing dan peran strategisnya di era industry 4.0 dan masyarakat 5.0.
Perempuan Indonesia yang juga mampu berjuang menghadapi segala macam tantangan dan hambatan yang datang di manapun dan kapanpun.

Menjadi agent pengawal spirit perjuangan, agent of change dan agent of solution yang berkarakter adaptif, adoptif, inovatif yang mampu menjadi role model bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Giwo berharap melalui munas ini, WHDI dapat mengoptimalkan langkah-langkah strategis.
Sebagai organisasi, harus terus dituntut untuk mampu melakukan langkah besar guna mewujudkan perempuan Indonesia yang unggul dan maju serta mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati dirinya.
Dalam munas ini, Giwo pun menghimbau seluruh pengurus dan jajaran organisasi WHDI untuk terus melakukan konsolidasi kepada seluruh kekuatan WHDI.
Konsolidasi ini penting untuk membangun kebersamaan dalam satu visi, pemantapan komitmen dan merealisasikan strategi taktis kebijakan WHDI
Giwo juga meminta, WHDI untuk memantapkan AD/ART sebagai salah satu landasan hukum organisasi dan program yang terukur.
Dengan demikian, dapat mendorong organisasi lebih berkualitas dalam meningkatkan fungsi, peran, dan kedudukan di segala bidang serta dalam memperkuat keberlanjutan organisasi WHDI
Imbauan lainnya, yaitu tanpa mengenal lelah berupaya meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM perempuan WHDI untuk berkiprah bagi masyarakat dan bangsa.
“Terus pupuk dan pelihara dalam meningkatkan soliditas dan solidaritas kesetiakawanan intra dan ekstra WHDI,” lanjut Giwo.
Tidak lupa untuk terus membangun dan memperluas network atau jaringan sebagai salah satu kekuatan dari organitation culture sebagai modal utama dalam menghadapi derasnya dinamika perubahan globalisasi.
Perlu pula menyiapkan kaderisasi atau calon pemimpin berikutnya. Menurutnya, organisasi yang berkualitas selalu siap akan SDM yang unggul untuk menjadi calon-calon pemimpin sehingga organisasi dapat tetap eksis melewati tantangan perkembangan zaman.
“Semoga dalam hasil Munas V WHDI ini kepengurusan dapat menyelesaikan amanah dengan baik dan paripurna untuk menyerahkan tongkat estafet kepada kepemimpinan selanjutnya yang terpilih,” tegas Giwo.
Giwo juga berharap melalui munas ini dapat menghasilkan karya nyata yang bukan hanya bermanfaat bagi organisasi tetapi juga lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.
Dirjen Bimas Hindu, I Nengah Duija, dalam arahannya berharap WHDI bisa memprioritaskan program keluarga sukinah dan pencegahan stunting khususnya bagi umat yang ada di pelosok desa.
“Karena mereka membutuhkan pembinaan dan bimbingan agar terlahir generasi Hindu yang cerdas,” ujarnya.
Ketua Umum WHDI, Rataya Kentjanawati Suwisma menyampaikan, saat ini sudah terbentuk 31 Pengurus WHDI tingkat Provinsi dan siap mendukung Program Prioritas Bimas Hindu untuk kolaborasi membangun kelestarian Hindu Nusantara.
“Kami harap WHDI senantiasa berkontribusi dalam membangun kesadaran berorganisasi dan mengembangkan potensi wanita Hindu di setiap cabangnya,” jelas Rataya.
