24/04/2026
AktualOpini

Peradaban Indonesia Sehat dan Tantangan bagi Alumni HMI

Menyambut Munas XI KAHMI di Palu, 24 – 27 November 2022

Oleh: Zaenal Abidin

Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, periode 2006 – 2009 mengungkapkan, peradaban baru itu membutuhkan sebuah ekosistem untuk tumbuh.

“Hal yang sama untuk peradaban baru Indonesia Sehat, juga memerlukan ekosistem yang kuat yang mampu menunjang segala kebuhan kesehatan, mulai dari edukasi hingga fasiltas yang mumpuni.”

Pernyataan tersebut diungkapkan Prof. Fachmi Idris, saat didapuk menjadi salah satu nara sumber dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) dan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, baru-baru ini.

Dalam webinar bertajuk, “Indonesia Sehat, Jalan Menuju Peradaban Baru” tersebut, Ketua Umum Bokornas Lembaga Kesehatan Mahasisa Islam – PB HMI, periode 1992-1994 ini lebih lanjut memberi perumpamaan.

Prof Fahmi mengatakan, kalau ingin dengar burung berkicau setiap pagi, tanamlah pohon yang rindang di halaman rumah, agar burung datang setiap hari.

“Kalau ingin burung datang berkicau tapi tidak disiapkan ekosistemnya, ya tidak akan bisa. Peradaban Indonesia Sehat pun demikian, tidak akan terjadi bila tidak ada ekosistemnya.”

Tentu saja apa yang disampaikan oleh mantan Ketua Umum PB IDI sangat betul, namun ekosistem itu juga tidak akan tercipta dengan sendirinya. Harus ada agent yang selalu mengadvokasi lahirnya ekosistem itu serta merawatnya.

Indonesia Sehat sebagai peradaban baru

Indonesia Sehat merupakan gambaran masyarakat Indonesia yang ditandai oleh empat kondisi: penduduknya hidup dalam lingkungan sehat, berperilaku bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu secara adil dan merata, memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Misi Indonesia Sehat ada empat, yakni: menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, serta meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat dan lingkungannya.

Bila kita perhatikan visi dan misi Indonesia Sehat, tampak sekali pola berpikirnya tetang sehat. Gagasan ini menempatkan aktivitas pengobatan dan rehabilitatif di hilir dan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit itu di hulu. Mencegah lebih mulia daripada mengobati. Mindset-nya bukan lagi paradigma sakit, melainkan paradigma sehat.

Paradigma sehat adalah pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Bergerak dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah.

Ia berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap masyarakat agar tetap sehat, tanpa mengesampingkan pelayanan kuratif dan rehabilitatif. Paradigma sehat ini jelas tergambar pada misi dan strategi Indonesia Sehat.

Masyarakat yang sehat inilah yang merupakan modal dasar pembangunan manusia Indonesia. Indonesia hanya bisa menjadi bangsa yang produktif jika masyarakatnya sehat. Karena itu, kesehatan menjadi sektor penting. Tidak hanya untuk menjaga masyarakat hari ini, tetapi untuk masa depan bangsa.

Perubahan paradigma dari sakit ke sehat merupakan faktor kunci dalam mencapai kesehatan masyarakat. Dengan kata lain, perubahan paradigma tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi mandiri dalam menjaga kesehatannya. Hal ini seiring dengan misi Indonesia Sehat, yakni mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

Orang sering berkata, “sehat itu bukan segalanya, tapi tanpa sehat segalanya bukan apa-apa.” Hal ini mudah dimengerti sebab memang tanpa kesehatan, manusia tidak akan mampu produktif secara sosial maupun ekonomi. Tanpa kesehatan, manusia tidak mampu mencapai pendidikan yang tinggi, sebab “otaknya pasti hang”.

Karena itu, tidak salah bila dikatakan, “tidak akan ada peradaban baru tanpa kondisi masyarakat bangsa yang sehat jiwa dan sehat badannya.” Bahkan setelah peradaban itu lahir, namun masyarakatnya “sakit jiwa” tentu tidak perlu menunggu lama, peradaban itu akan runtuh dengan sendirinya.

Dengan kondisi masyarakat bangsa yang sehat jiwa dan badannya, maka Indonesia makin mampu membangun kehidupan bangsa yang cerdas, terampil memanfaatkan lptek, berakhlak mulia, berbudaya tinggi serta produktif secara ekonomi. Inilah perwujudan dari sebuah peradaban baru Indonesia Sehat.

Peradaban baru Indonesia Sehat, dapat diartikan sebagai cara padang baru, tata kelola baru, budaya baru, bahkan sampai kemudian disepakati menjadi tata nilai-nilai baru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, dan atau dalam merespon masalah sehari-hari.

Salah satu aktivitas yang dapat muncul termasuk di dalamnya adalah “keberadaban” baru dalam memaknai masalah sehat dan sakit.

Alumni HMI sebagai agent peradaban baru

Sebagaima disebutkan di awal tulisan ini, selain mempersyarakan sebuah ekosistem untuk bersemai dan tumbuh suburnya, peradaban baru Indonesia Sehat juga memerlukan agent untuk selalu memikirkan dan mengadvokasi terciptanya ekosistem tersebut.

Bahkan tidak hanya sampai di situ. Setelah perdaban Indonesia Sehat itu lahir dan tumbuh, harus pula ada yang merawatnya. Dan, lagi pula peradaban Indonesia Sehat itu amat kompleks, tidak cukup dipikirkan oleh pemerintah sendiri. Karena itu, alumni HMI sangat tepat untuk mengambil peran besar tersebut.

Mengapa alumni HMI sangat untuk menjadi agent memikirkan, mengadovokasi, serta merawat peradaban baru Indonesia Sehat? Hemat penulis terdapat dua alasan, yakni: bermula ketika masih HMI dan ketika menjadi alumni HMI.

Bermula dari HMI: Pertama, HMI merupakan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia (lahir 5 Februari 1947), yang perkaderannya eksis sampai saat ini. Kedua, tujuan HMI: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.”

Ketiga, dari tujuan di atas diharapkan lahir Lima Kualitas Insan Cita HMI, yang harus dimiliki setiap kader HMI, Insan Akademis, Insan Pencipta, Insan Pengabdi, Insan yang bernafaskan Islam, dan insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Keempat, HMI sendiri setidaknya memiliki empat keungulan sebagai modal agent pembentukan peradaban baru: merupakan organisasi yang menghimpun lapisan elit masyarakat, organisasi berbasis keislaman, organisasi yang selalu meneguhkan komitmennya kepada keutuhan bangsa dan negara, strategis untuk bersemai dan tumbuhnya kepemimpin bangsa yang tangguh serta memiliki visi tentang masa depan umat dan bangsanya.

Kelima, sejak 14 September 1963, HMI sudah memiliki Lembaga Kesehatan yang dikenal Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI). Lembaga kesehatan ini sampai sekarang masih eksis dari pusat sampai ke cabang, sebagai wadah mengasah keilmuan dan profesionalisme kader-kader HMI dari rumpun ilmu kesehatan. Tentu sudah sangat familier dengan gagasan Indonesia Sehat.

Keenam, sejak awal HMI mendeklarasikan diri sebagai agent pembaharu, yang ingin mewujudkan kader, “muslim intelektual profesional”, yang identik dengan agent pembaharu yang tercerahkan dan mencerahkan. Artinya siap mengemban amanah pembentukan peradaban baru Indonesia Sehat.

Alasan ketika sudah menjadi alumni. Pertama, alumni HMI baik secara pribadi maupun organisasi (KAHMI) tentu menjadikan misi HMI sebagai n misinya, sehingga selalu berupaya kuat untuk mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Kedua, jumlahnya alumni HMI sangat banyak dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu, profesi dan medan pengabdian.

Ketiga, telah mewarisi berbagai keunggulan sejak HMI serta memiliki corak pemikiran keislaman dan keindonesiaan, yang substantif, proaktif, kontruktif, inklusif, integratif modernis, dan ilmiah (rasional). Keempat, KAHMI yang merupakan wadah resmi untuk bersilaturrahim, berkomunikasi alumni HMI, dapat digunakan secara cerdas dan cermat untuk mencapai tujuan HMI serta kemajuan umat dan bangsa.

Bila memperhatikan potensi dan komitmen keumatan dan kebangsaan alumni HMI seharusnya peradaban baru Indonesia Sehat ini juga menjadi bagian yang akan diperjuangkannya. Karena itu, bila penulis membentangkan cita-cita peradaban baru Indonesia Sehat dihadapan alumni HMI tentu tidak salah alamat.

Apalagi alumni HMI itu banyak dokter dan kader-kader kesehatannya, yang siap menjadi agent untuk mewujudkan dan merawat peradaban Indonesia Sehat ini kelak.

Selamat Munas XI KAHMI, di Palu, 24-27 November 2022, semoga sukses.

Wallahu a’lam bishawab.

(Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012- 2015 dan Ketua Umum Badko HMI Indonesia Bagian Timur, periode 1990-1992)

Leave a Comment