17 C
New York
19/04/2026
AktualEkonomiKesra

Peringati Hari Kesadaran Internasional Pemborosan Pangan, NFA-FOI Serukan Kolaborasi Lintas Sektoral Penanganan Food Waste

JAKARTA (Pos Sore) — Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) dan FOI (Foodbank of Indonesia) memperingati International Day of Awareness of Food Loss and Food Waste (FLW), Kamis 29 September 2022, di Jakarta.

Kegiatan secara hybrid itu mengangkat tema Gerakan Kewaspadaan Pangan dan Gizi melalui Penyadaran akan Potensi Pemborosan Pangan.

Dihadiri para pemangku kepentingan lintas sektoral yaitu pemerintahan, akademisi, lembaga masyarakat dan dunia usaha.

Dalam kegiatan ini, Ketua Badan Pangan Nasional memberikan penghargaan kepada penggiat upaya memerangi food loss dan food waste dan menghimpun resolusi bersama atasi FLW.

NFA menyerukan kolaborasi lintas sektoral untuk penanganan food waste di Indonesia.

“Keberhasilan penanganan food waste menjadi salah satu faktor kunci dalam mengantisipasi potensi krisis pangan dan pengentasan daerah rentan dan rawan pangan di Indonesia,” kata Kepala NFA Arief Prasetyo Adi,

Ia mengemukakan itu saat membuka Gerakan Kewaspadaan Pangan dan Gizi dalam rangka The International Day of Awareness of Food Loss and Waste atau Hari Kesadaran Internasional tentang food loss and food waste.

Ia mengatakan, NFA mendukung pengurangan food waste sesuai target RPJMN 2020-2024 melalui Peningkatan Tata Kelola Sistem Pangan Nasional. Namun, keberhasilannya memerlukan komitmen bersama dan kolaborasi lintas sektor.

“Dalam upaya mengurangi food waste, Badan Pangan Nasional tidak bisa sendiri,” tuturnya.

Diperlukan sinergi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholders pangan dari hulu ke hilir bersama sektor pentahelix government, academics, business, community, dan media.

Menurutnya, pengurangan food waste menjadi perhatian serius Indonesia dan negara-negara di dunia sesuai komitmen dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3.

“Sesuai SDGs negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030,” katanya.

Dikatakan, upaya pengurangan food waste sejalan dengan arahan Presiden untuk antisipasi menghadapi krisis pangan, krisis energi dan krisis keuangan yang melanda dunia internasional saat ini.

Dalam momen tersebut, NFA juga memberikan penghargaan dan apresiasi kepada 11 perusahaan dan organisasi. Penerima penghargaan dinilai aktif mengurangi dan mengkampanyekan gerakan bebas food loss and waste Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey, mengatakan, para pengusaha ritel Indonesia siap mendukung upaya NFA dalam mengkonsolidasikan gerakan penanganan food waste.

“Gerakan tersebut telah berjalan secara mandiri, namun perlu diakselerasi bekerja sama dengan NFA melalui pengembangan sistem dan platform, seperti alat dan tempat penampungan pangan potensi food waste serta sumber daya manusia,” ujarnya.

Menurutnya, masalah pemborosan pangan merupakan masalah budaya. Perilaku masyarakat dalam mengonsumsi makanan terbentuk dari sistem nilai yang menjadi kebiasaan.

Dekan FISIP Universitas Indonesia
Prof. Semiarto Aji Purwanto, yang menjadi penanggap diskusi, mengatakan, perlu dimasukkan unsur nilai dalam produksi hingga konsumsi pangan.

“Rumah tangga menyumbang sampah makanan yang cukup besar, misalnya yang terjadi dalam keseharian. Kita menyimpan makanan di kulkas sebagian terbuang.”

Foodbank of Indonesia (FOI) menyampaikan bank pangan memiliki peran penting
untuk mengatasi kerawanan pangan dan gizi.

“Bank pangan yang dipelopori perempuan bisa menjadi solusi mengatasi kerawanan pangan dan gizi,” kata M. Hendro Utomo, Founder FOI.

FOI mendorong terbentuknya jaringan bank pangan hingga tingkat kecamatan yang menyimpan pangan lebihan industri dan keluarga serta dari sumber-sumber sekitar komunitas masyarakat.

“Sampah makanan bernilai 330 triliun yang kita hasilkan selama ini, dapat digunakan untuk mengatasi kerawanan pangan dan gizi melalui bank pangan di seluruh pelosok Indonesia,” tutupnya.

Leave a Comment