JAKARTA (Pos Sore) — Usulan dr Raden Rubini Natawisastra sebagai pahlawan nasional tampaknya tanpa kendala. Saat ini sudah memasuki tahapan verifikasi Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP).
“Dalam waktu dekat segera diusulkan kepada Presiden Joko Widodo,” kata Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo, Rabu malam 31 Agustus 2022, pada acara “Mengenang dr. Rubini, Pejuang Kemanusiaan dan Kemerdekaan Indonesia”
Kegiatan bertepatan dengan hari lahir dr Rubini pada 31 Agustus ini digelar Kowani bekerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Mempawah, Pemprov Kalimantan Barat, tokoh masyarakat, dan Masyarakat Sejarahwan Indonesia cabang Kalimantan Barat.
“Kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah ikut membantu dalam proses pengusulan dr Rubini sebagai pahlawan nasional,” kata Giwo.
Giwo menyampaikan usulan dr Rubini sebagai pahlawan nasional bermula dari masyarakat Kabupaten Mempawah.
Kowani lalu mencoba mendampingi dan ikut mengawal proses perjalanan usulan tersebut. Mulai dari tingkat kabupaten, tingkat propinsi hingga tingkat nasional dalam hal ini Kementerian Sosial.
“Alhamulillah, kami bersyukur prosesnya sangat lancar, mudah dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan,” tambah Giwo.
Menurutnya dr Rubini memang patut mendapatkan gelar pahlawan nasional. Jasa dan perjuangannya selama masa penjajahan Jepang bagi masyarakat Mempawah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Almarhum yang berasal dari Tanah Jawa, bersedia merantau untuk memberikan perhatian pada layanan kesehatan masyarakatdi Kalimantan Barat.
Selama hidupnya, almarhum dr Rubini yang waktu itu menjabat sebagai kepala rumah sakit daerah, begitu banyak memberikan perhatian kepada korban kekerasan dari kalangan perempuan dan anak.
Giwo menuturkan dr. Rubini adalah seorang dokter yang berasal dari tanah Sunda dan menetap di Prov Kalbar selama 17 tahun.
Dokter Rubini juga pemimpin partai politik pada masanya dan memberikan perjuangannya demi cita-cita kemerdekaan Indonesia melawan penjajah di daerah Kalbar.
“Tidak hanya itu, dr. Raden Rubini Natawisastra juga membentuk gerakan bawah tanah dengan melihat para pasiennya yang sebagian besar perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh penjajah,” paparnya.
Kegigihannya melawan penjajah telah mengorbankan jiwa dan raga, sehingga dr. Rubini beserta istrinya yang sedang hamil, serta rakyat Kalimantan Barat lainnya, wafat di tangan penjajah. Peristiwa itu dikenal sebagai Tragedi Mandor.
Apa yang diperjuangkan dr Rubini sejalan dengan visi dan misi Kowani yakni menjaga harkat dan martabat kaum perempuan.
Karena itu, sudah sepatutnya Kowani berada di garda terdepan dalam proses pengusulan dr Rubini menjadi pahlawan nasional bersama tokoh masyarakat Kabupaten Mempawah dan propinsi Kalbar.
“Sejalan dengan semangat yang ditebarkan oleh dr Rubini, Kowani bersyukur telah berhasil mengawal lahirnya UU TPKS yang disahkan pada April 2022 lalu,” kata Giwo.
Saat ini Kowani menjadi organisasi federasi perempuan terbesar di Indonesia dengan anggota berjumlah 102 organisasi di tingkat pusat dan sekitar 90 juta anggota yang tersebar hingga akar rumput.

Dalam kiprahnya, Kowani sudah berhasil mengantar Laksamana Malahayati menjadi pahlawan nasional asal Aceh.
Sementara itu, Hamzah Haz, Wapres periode 2001-2004 dalam video sambutannya mendukung penuh usulan dr Rubini menjadi pahlawan nasional.
Sebagai sosok seorang dokter, almarhum dr Rubini telah menjadi tauladan dalam hal perjuangan dan pengorbanan bagi ibu pertiwi.
“Beliau gigih melawan penjajahan dengan caranya hingga Akhirnya gugur dalam peristiwa Mandor,” tegasnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Soraya Hamzah Haz. Meski tidak banyak mengenal dr Rubini, tetapi membaca kisah hidupnya, Soraya merasakan kepedihan yang luar biasa.
“Saya menangis ketika membaca kisah belia. Karena itu sudah sewajarnya negara memberikan penghargaan gelar pahlawan,” tukas Soraya.
Sementara itu, Prof. Widya Artini Wiyogo, ahli waris keluarga dr Rubini menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada semua pihak yang telah berjuang bersama mengusulkan dr Rubini sebagai pahlawan nasional.
“Kami sangat tersanjung ketika eyang kami diusulkan menjadi salah satu pahlawan nasional. Apalagi usulan ini datang dari masyarakat,” katanya.
Sebagai generasi ketiga dari dr Rubini, Widya dan ahli waris lain bersedia memberikan data-data untuk mendukung usulan tersebut.
Harapannya, apa yang diinginkan masyarakat Mempawah agar dr Rubini ditetapkan sebagai pahlawan nasional bisa segera terealisasi.
Acara mengenang almarhum dr Rubini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Agus Mulyana, M. Pd, Ketua Umum MSI, Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI, Mansyur, S. Pd., M. Hum, Sejarawan Kalimantan Selatan.
Selain itu, menghadirkan pula dosen Pendidikan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat dan M. Rikaz Prabowo, M. Pd MSI Kalimantan Barat, penulis Biografi dr. Rubini serta penanggap Jend. (Purn.) H. Agum Gumelar Ketua Ikatan Alumni Lemhannas dan Ketua Pepabri.
