BOGOR (Pos Sore) –– Tim Riset Mandiri Skim Riset Keilmuan IPB melakukan Studi Banding ke Ecovillage Baraya, Desa Bendungan, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tim riset ini berasal dari Fakultas Ekologi Manusia, yakni Dr. Siti Amanah bersama Staf, beberapa Mahasiswa Program Studi S1 KPM FEMA IPB, dan Ketua LMD Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
Selain itu, pengurus Kelompok Tani Saluyu dan Pengurus dari Tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) Sawargi, KWT Dalima dan KWT Geulis, Koperasi Masyarakat Pegiat Wisata, dan PPL Kelurahan Situgede.
“Tujuan studi banding ini adalah agar kelompok masyarakat dari Kelurahan Situgede dapat belajar dari Ecovillage Baraya yang telah berhasil menata kawasan lingkungan, dan menjadi daya tarik pengunjung dari luar desa,” kata Siti Amanah Ketua Tim Riset. Studi banding ini dilakukan ada 25 Maret 2022.
Menurutnya, ikan yang dibudidayakan di saluran drainase yang terpelihara dari sampah dapat dikonsumsi dan dapat menjadi sumber protein bagi anggota keluarga.
Ecovillage Baraya sendiri dua kali mendapat award sebagai Juara 1 dari Provinsi Jawa Barat. Desa ini dinilai berhasil menjaga lingkungan dan secara produktif mengembangkan usaha ekonomi dari budidaya ikan di keramba seputaran RT 3 RW 10 Desa Bendungan
Siti Amanah menyampaikan melalui studi banding ini, Kelompok Tani, KWT, UMKM dan Pegiat Wisata di Kelurahan Situ Gede dapat belajar dan segera melakukan berbagai persiapan dan pembenahan seiring Revitalisasi Ekowisata Situgede oleh Pemerintah Kota Bogor.
Studi banding telah memotivasi partisipan sehingga antar masyarakat dapat bekerja sama mengisi “peluang” ecotourism.
Dari sisi petani/wanita tani dan UMKM, ecotourism yang dipadukan dengan usaha pertanian (agro-ecotourism) serta pengembangan pedesaan sangat relevan dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat dengan meminimalisir dampak negatif dari industri wisata.
Studi banding dilaksanakan secara informal di “Saung Kita” yang berada di wilayah Ecovillage Desa Bendungan.
Rombongan diterima oleh Irfah Satiri (Ketua Ecovillage Baraya) dan Aedi (Tokoh Masyarakat dan Pegiat Ecovillage Baraya).
Sharing pengalaman dan pembelajaran antar pengurus ecovillage dengan perwakilan masyarakat Kelurahan Situgede mengalir.
Dari mulai inisiatif aksi, penyadaran, pengembangan partisipasi masyarakat sampai kiat menjaga perubahan perilaku yang terjadi berlangsung konsisten dan kontinyu.
Aedi, salah satu penggerak Ecovillage mengatakan, lLangkah awal penyadaran ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Perlu adanya sosialisasi yang kuat bagaimana caranya masyarakat tidak boleh membuang sampah sembarangan,” katanya.
Hal utama yang perlu diperhatikan sebelum membuat ecovillage, katanya, sistem pengaturan air dan tembok kanan kiri harus kuat agar tidak menimbulkan kebocoran ke mana-mana.
‘Dengan motto “kita jaga alam, alam jaga kita”, masyarakat tergugah untuk peduli dan bergerak bersama menjaga lingkungan,” tuturnya.
Jawariah, Ketua KWT Sawargi, menyampaikan kesannya. Pihaknya sangat ingin bisa mengikuti seperti Ecovillage Baraya.
“Kalau kita pengurus, terutama masyarakatnya kompak, Situgede juga pasti bisa menjaga lingkungan seperti di sini,” ujarnya.
Persoalannya, sampah di Situgede belum bisa terselesaikan juga meski warga sudah diajak kerja bakti dan sampah-sampah dikarungi dengan rapi.
“Hari itu bersih, eh besoknya sudah ada sampah lagi. Bahkan bukan hitungan hari lagi tapi jam. Intinya, diperlukan aksi yang dapat menyelesaikan persoalan sampai ke akar masalahnya,” ujarnya.
Acara ditutup dengan ramah tamah, tali asih berupa beras merah organik produksi KWT Dalima Kelurahan SItugede disampaikan ke Ecovillage Baraya.
