Memperingati Hari Pahlawan Nasional, Greenpeace Indonesia melakukan aksi damai dengan membawa patung es yang meleleh di atas peta Indonesia di Jakarta, kartu kartu pos itu berisikan informasi, kesan, dan pesan, agar pemerintah benar-benar melihat dampak perubahan iklim terhadap masyarakat (foto: Greenpeace) .
Possore.com — Greenpeace Indonesia menyebut luasan lahan deforestasi (penggundulan hutan) dalam lima tahun terakhir mencapai 2,13 juta hektare (ha) atau setara dengan luas 3,5 kali luas Pulau Bali.
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arie Rompas mengatakan itu merujuk data yang dimiliki pemerintah. “Apakah ini layak disebut penurunan signifikan,” tanyanya retoris dalam keterangan tertulis, Rabu (10/11).
Sebelumnya, Menteri LHK lewat akun twitternya (4/11) menyatakan, pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi,”
Pendapat itu disampaikan Siti di acara yang dihelat Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universitas Glasgow, Skotlandia, Selasa (2/11).
Menurut politisi partai Nasdem itu, pembangunan atas nama zero deforestation sama dengan melawan mandat UUD 1945 untuk values and goals establishment, membangun sasaran nasional untuk kesejahteraan rakyat secara sosial dan ekonomi.
Dipihak lain, Greenpeace Indonesia sendiri mengkritik pidato Presiden Jokowi di perhelatan COP 26 Glasgow awal bulan ini.
Dari sekian banyak inti pidato Jokowi, sebagaimana dapat dilihat di laman Greenpeace.org, organisasi lingkungan ini menguraikan banyak fakta yang justru tidak sama dengan isi pidato presiden.
Menurut Arie Rompas, jika dirinci, deforestasi terjadi di 629,2 ribu ha pada periode 2015-2016, 480 ribu ha pada periode 2016-2017, 439,4 ribu ha pada periode 2017-2018. Kemudian 462,5 ribu ha pada periode 2018-2019, dan 115,5 ribu ha pada periode 2019-2020.
Jika ditotal, Arie mengatakan bahwa luas deforestasi selama kepemimpinan Jokowi itu mencapai 2,13 juta ha atau setara dengan luas 3,5 kali pulau Bali.
Total deforestasi selama lima tahun terakhir juga telah mencapai setengah luas deforestasi yang terjadi sepanjang 12 tahun sebelumnya (2003-2014) yakni 4,19 juta ha.
“Hanya butuh 5 tahun angka deforestasi Indonesia di era Presiden Jokowi telah mencapai separuh angka deforestasi selama 12 tahun,” kata Arie.
Arie lalu menyebut pernyataan pemerintah yang mengklaim penurunan laju deforestasi sebagai prestasi dalam agenda COP26 kemarin terkesan menyamarkan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Belum lagi dampak deforestasi lahan hutan seperti hilangnya keanekaragaman hayati, bencana alam, emisi karbon, dan kesehatan masyarakat.
Dia menilai sangatlah naif apabila pemerintah menganggap hal tersebut sebagai prestasi.
Alih-alih berusaha menampilkan citra baik di kancah global, Arie meminta agar pemerintah dapat benar-benar membuktikan komitmennya baik dalam memoratorium lahan hutan maupun pencegahan kerusakan iklim yang semakin parah.”Sebaik-baiknya komunikasi pemerintah dipoles, tidak akan mampu menutupi realitas dan masalah di lapangan,” ujarnya.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengklaim selama ini pemerintah telah berkomitmen untuk peduli terhadap lingkungan hidup. Misalnya dalam bentuk kerja nyata seperti menekan angka deforestasi dan penurunan emisi dalam kurun waktu 6-7 tahun terakhir.
“Di tahun 2020, angka deforestasi turun drastis hanya tinggal 115,2 ribu ha. Angka deforestasi di tahun ini, menjadi angka deforestasi terendah dalam 20 tahun terakhir,” papar Siti.
Di balik deforestasi itu, Siti Nurbaya juga mengklaim pemerintah telah melakukan optimasi lahan tidak produktif, penegakan hukum, restorasi, rehabilitasi hutan untuk pengayaan tanaman dan peningkatan serapan karbon.
Dia juga menyebut pemerintah telah melakukan pengendalian hutan tanaman pada sekitar 14 juta hutan tanaman. Pengendalian itu di antaranya menggunakan metode reduce impact logging serta pengelolaan perhutanan sosial untuk petani kecil.(lya)
