Jenderal TNI Andika Perkasa berjanji melakukan pendekatan humanis di Papua (foto: dok/dispenad)
Possore.com — Jenderal TNI Andika Perkasa yang telah disetujui Komisi I DPR untuk dilantik menjadi Panglima TNI yang baru menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, nampaknya menyadari tantangan berat yang bakal dia hadapi. Paling tidak, menyangkut penyelesaian masalah Papua yang tidak mudah. (baca juga: Semua Fraksi Setuju Jenderal Andika….)
Jenderal berusia 57 tahun itu (per 21 Desember 2021) sebagaimana diungkapkan Anggota Komisi I DPR RI Hasbi Ansory, berjanji akan melakukan pendekatan humanis terhadap Papua. ”Ya…Jenderal Andika Perkasa, akan menyelesaikan persoalan Papua secara humanis, tidak dengan pendekatan militer, ” ungkap Hasbi Ansory pasca mengikuti paparan Andika Perkasa dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi I DPR RI, Sabtu (6/11).
Masalah Papua merupakan masalah yang tidak mudah. Penolakan 14 LSM atas pencalonan Jenderal Andika Perkasa untuk jabatan Panglima TNI antara lain karena menantu Jenderal TNI Pur AM.Hendro Priyono itu diduga terlibat masalah HAM di Papua. Koalisi LSM malah menarasikan penolakannya, dengan mengatakan DPR punya hak untuk menolak pencalonan Jenderal Andika.
Ansory menilai, gebrakan baru ini (pendekatan humanis) cukup bagus. Pendekatan humanis bisa saja aparat intelijen mendekati semua kelompok-kelompok, tidak asal main tangkap. Ini cukup bagus pendekatannya.
Selain itu, Komisi I juga tidak mempermasalahkan masa jabatan Andika Perkasa menjadi Panglima TNI yang hanya berusia 13 bulan mendatang. “Dan saya yakin dalam masa jabatan dia ke depan, saya berharap dia bisa meninggalkan legacy terutama untuk bangsa ini, TNI khususnya, meskipun hanya kurang lebih satu tahun,” tambah Anggota Fraksi Partai Nasdem ini.
Andika menjadi calon tunggal Panglima TNI untuk mengganti posisi Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan segera pensiun dalam waktu dekat.
Dalam kesempatan mengikuti fit and proper test di Komisi I DPR, Jenderal Andika Perkasa memaparkan delapan fokus implementasi ketika menjadi Panglima TNI.
Pertama, penguatan pelaksanaan tugas-tugas TNI yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan.
“Terpenting bagi saya, adalah bagaimana kita melaksanakan tugas TNI lebih mengembalikan kepada peraturan pada perundangan yang ada.”
“Tugas-tugas yang sudah kami laksanakan selama ini sudah diatur dalam Undang-Undang, tetapi memang detailnya, implementasinya yang saya melihat masih banyak keleman-kelemahan. Sehingga, itulah yang menjadi prioritas dari calon panglima TNI ini.”
Kedua, penguatan operasi pengamanan perbatasan darat, laut, dan wilayah udara.
Ketiga, peningkatan kesiapsiagaan satuan TNI untuk tugas OMP dan OMSP.
“Ini juga fokus, karena sebetulnya banyak yang bisa dilakukan untuk jauh lebih siap,” ujar Jenderal Andika.
Keempat, ialah peningkatan operasional siber.
“Siber adalah fokus kami berikutnya karena saat ini sudah hadir di mana-mana dan kita tidak bisa menghindar,” lanjutnya.
Kelima, peningkatan sinergitas intelijen terutama di daerah wilayah konflik.
Keenam, pemantapan interoperabilitas Tri Matra Terpadu dalam pola operasi TNI.
Ketujuh, penguatan integrasi penataan organisasi untuk mewujudkan TNI yang adaptif.
Terakhir, reaktualisasi peran diplomasi militer dalam rangka kebijakan politik luar negeri. (lya)
