18.1 C
New York
07/05/2026
AktualEkonomi

Sangat Menggiurkan Peluang Bisnis Pangan Berbasis Porang dan Talas

JAKARTA (Pos Sore) — Tanaman porang saat ini tengah viral dan naik daun. Banyak yang sukses berbisnis porang. Tidak sedikit yang berusaha mengikuti jejak mereka ini dan beralih menanam porang. Belajar secara otodidak, atau berguru kepada ahlinya.

Ketenaran porang ini tidak melulu karena mampu menghasilkan keuntungan yang menggiurkan. Faktanya tanaman ini juga mengandung banyak manfaat bagi kesehatan. Bahkan bahan baku porang bisa diolah menjadi berbagai aneka kue dan makanan.

Karena itulah, Senin (16/8/2021), Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bidang Pendidikan, Iptek, Sosial, dan Budaya (Dikteksbud) mengadakan Webinar Nasional “Peluang Bisnis Pangan Berbasis Porang dan Talas yang Sangat Menggiurkan & Sedang Viral di Pasar Global”.

Webinar hasil kolaborasi bersama Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), market Ladara (laut, darat, udara), dan Propaktani, ini merupakan rangkaian kegiatan Kowani Fair Online 2021.

Hadir sebagai narasumber yaitu Paidi, Dirut PT Paidi Porang Indonesia, Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) Prof . Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Ketua Umum Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) Dr. Ir. Retno Sri Endah Lestari, M.Sc, Ph.d, Ketua Devisi Umum dan Humas ISWI Hindarwati SE, serta Ketua Koordinator Bidang Ekonomi, Koperasi dan UKM Kowani, Hadriani Uli Tiur Ida Silalahi.

Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi menyampaikan potensi tanaman porang begitu besar terhadap perkembangan ekspor produk pertanian nasional. Dalam 15 tahun ini baru pertama kali ekspor kita lebih dari 15,4 persen.

Ia menyebut porang sebagai komoditas mahkota, komoditas masa depan. Itu sebabnya, porang dijadikan komoditas yang masuk dalam program gerakan tiga kali lipat ekspor (GRATIEKS).

Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini memang menggenjot pengembangan porang sebagai komoditas ekspor. Di pasar ekspor, porang banyak dicari sebagai bahan makanan dan industri obat juga kecantikan sehingga harga porang pun menjadi sangat menjanjikan bagi petani.

“Porang ini sudah diekspor ke 16 negara dengan negara tujuan terbesar China, Thailand, dan Vietnam dalam bentuk chips, tepung dan lainnya. Pada tahun 2020, sebanyak 19.800 ton porang diekspor dengan nilai Rp 880 miliar,” sebutnya.

Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, menyampaikan, Paidi memang sengaja diundang agar bisa menginspirasi yang lain untuk ikut membudidayakan porang. Setidaknya, orang-orang bisa paham tanaman porang memiliki banyak manfaat yang bisa diolah untuk pangan dan nonpangan.

“Sebagai organisasi federasi, Kowani menaungi anggotanya hingga ke akar rumput. Sebagai ibu bangsa, anggota Kowani dituntut untuk selalu inovatif dan kreatif yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan, terlebih di masa pandemi Covid-19,” kata Giwo.

Disampaikan, beberapa hasil olahan berbahan dasar Porang merupakan produk diet dan pangan sehat, antara lain, mie dan beras shirataki. Sedangkan Talas, dapat disulap menjadi beraneka makanan misalnya boli, keripik, kolak, hingga es campur.

Sebagai bahan dasar, porang dan talas juga memilki segudang manfaat bagi kesehatan. Porang cocok untuk diet dan kaya akan serat serta bisa digunakan sebagai Bahan tepung alternatif, sekaligus mengontrol gula darah dalam tubuh dan juga menurunkan kolesterol.

Talas sendiri memiliki berbagai manfaat kesehatan diantaranya menjaga kesehatan pencernaan, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, mengendalikan tekanan darah dan mengkontrol kadar gula darah.

“Saya berharap dengan diadakannya seminar ini akan mendorong para pengusaha khususnya perempuan indonesia untuk dapat mengaplikasikan ilmu terapan dan termotivasi untuk mendayagunakan potensi serta manfaat aneka produk berbasis porang dan talas yang sangat prospektif karena bernilai strategis hingga pengembangan dalam skala ekspor,” ujarnya.


Sementara itu, Paidi menyampaikan, berdasarkan hasil penelusuran terkait porang, diketahui 80 persen untuk makanan dan 20 persen untuk kosmetik. Ia lalu menyimpulkan porang memiliki nilai ekspor. Ia pun jadi bersemangat mencari porang yang masih langka dan tumbuh liar di hutan di kampung.

Paidi yang pernah menjadi pemulung menjelaskan, dengan lahan 1 hektare, jika ditanami porang semuanya, dalam kurun dua musim atau sekitar dua tahun, petani bisa meraup omzet Rp 800 juta. Dari omzet tersebut, petani bisa mengantongi keuntungan Rp 700 juta setelah dikurangi biaya pengadaan bibit, pupuk, hingga pengolahan lahan sekitar Rp 100 juta.

Umbi porang ternyata memiliki nilai yang cukup tinggi. Banyak kandungan yang dimiliki Porang dan bisa dimanfaatkan, membuat Porang memiliki nilai jual yang cukup tinggi baik di dalam ataupun di luar negeri.

“Banyak negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea, mengolah umbi porang menjadi sumber makanan, yang didapatnya salah satunya dari Indonesia,” tuturnya. (tety)

Leave a Comment