18/04/2026
Opini

MEMBAWA KEDAULATAN SOSIAL KE DESA

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

MENYONGSONG Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan di seluruh Indonesia, pertengahan bulan lalu Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatra Barat, yang dipimpin oleh Ibu Hj. Nevi Irwan Prayitno, isteri Gubernur Sumbar, menggelar Rapat Koordinasi dengan seluruh jajaran LKKS provinsi untuk membahas program dan kegiatan sosial yang segera akan dilaksanakan bagi seluruh Nagari.

Dalam rangkaian upaya meningkatkan pendidikan dan penyuluhan untuk membangkitkan budaya gotong royong dan peduli sesama anak bangsa, LKKS provinsi Sumbar menggandeng Pemerintah Daerah dan seluruh jajarannya, kalangan lembaga sosial, perguruan tinggi, perusahaan swasta dan kalangan perbankan untuk bahu membahu menyingsingkan lengan baju mengatasi kemiskinan dalam hal kesehatan, pendidikan, kemampuan wirausaha dan pelestarian serta pemanfaatan lingkungan untuk menambah kesejahteraan rakyat.

LKKS mengundang seluruh keluarga untuk taat melaksanakan ibadah zakat yang oleh Badan Zakat provinsi sebagian disalurkan melalui LKKS untuk diteruskan sebagai bantuan kepada keluarga miskin dan para penyandang disabilitas.

Rencana program dan kegiatan besar-besaran yang akan dikerjakan oleh LKKS Sumbar itu membawa pesan dan arahan yang jelas yaitu mendidik dan mengajak masyarakat secara gotong royong, tidak menengadahkan tangannya meminta bantuan, tetapi bekerja cerdas dan keras untuk makin mandiri. Oleh karena itu dengan tekad bulat, sejak beberapa waktu lalu, LKKS secara konsisten mengajak seluruh jajarannya di semua wilayah mengembangkan budaya gotong royong melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) agar keluarga di setiap Nagari dan Jorong bersilaturahmi saling berbagi agar makin mandiri.
Dalam Rapat Koordinasi yang digelar selama dua hari itu, Ibu Hj. Nevi Irwan Prayitno menegaskan bahwa tidak satupun Pemda di Kabupaten/Kota menolak ajakan mengembangkan Kedaulatan Sosial pada tingkat akar rumput itu. Sambutan yang gegap gempita itu menghasilkan hampir 900 Posdaya di pedesaan.

Karena keberhasilan yang makin matang tersebut, setelah di semua Posdaya anggotanya giat menyelenggarakan kegiatan upaya kesehatan yang makin tinggi dan upaya pendidikan, termasuk mengantar dikembangkannya PAUD dan pendampingan wajib belajar, Ibu Ketua Umum LKKS mengusulkan agar Posdaya segera dilengkapi dengan kegiatan ekonomi yang berjiwa sosial. Keluarga mampu dianjurkan mengampu keluarga pra sejahtera atau keluarga miskin dan disabilitas untuk bergabung dalam usaha ekonomi mikro sebagai calon pengusaha. Untuk itu diminta Yayasan Damandiri membantu mengembangkan Skim Tabur Puja melalui Koperasi atau Bank Nagari agar keluarga-keluarga di pedesaan dapat menabung dan kalau sudah siap membuka usaha mikro, mendapatkan kredit melalui Skim Tabur Puja seperti yang telah dikembangkan di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Barat tanpa agunan.

Beliau juga meminta agar segera dikembangkan Sentral Kulakan (Senkudaya) yang dikelola koperasi masyarakatnya sendiri, untuk membantu supply barang dagangan dengan harga terjangkau bagi pedagang mikro yang segera dibangkitkan oleh setiap Posdaya di desa-desa.

Ketua Yayasan Damandiri yang hadir dalam Rakor tersebut, dengan jaminan komitmen segala pihak, termasuk dukungan Gubernur Sumbar, Prof. Dr. Irwan Prayitno, yang sangat peduli terhadap usaha pemberdayaan keluarga, menyetujui bahwa Skim Tabur Puja dikembangkan sekaligus sebagai pertanda untuk mendukung seluruh jajaran LKKS yang bertekad mendidik pengembangan Pembangunan Kedaulatan Sosial di pedesaan.

LKKS akan bekerja dengan jaringan mahasiswa dan seluruh kekuatan pembangunan, mendidik masyarakat mengembangkan budaya mandiri melalui usaha mikro memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat di mana pelayanan kebutuhan pokok sehari-harinya ditangani bukan dengan cara charity atau belas kasihan, tetapi melaui usaha gotong royong yang diatur melalui usaha bersama yang saling menguntungkan.

Usaha yang dilakukan melalui kegiatan ekonomi itu keuntungannya tidak diwujudkan berupa uang untuk pengusahanya saja, tetapi sejak awal, setiap hari, bagi setiap peserta, diuntungkan langsung karena bisa belanja dengan harga terjangkau, mudah dan dekat tempat tinggalnya melalui usaha yang dikelola sendiri. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Yayasan Damandiri,www.haryono.com).

 

Leave a Comment