18.1 C
New York
25/04/2026
AktualEkonomi

Joint Venture Bangun Dayasaing Industri, Mengubah Krisis Covid-19 Menjadi Peluang

Daewoong Infion, perusahaan joint venture yang dinisiasi oleh perusahaan farmasi Korea, Daewoong Pharmaceutical dan perusahaan farmasi asal Indonesia, Infion, menyumbangkan alat pelindung diri (APD) untuk mendukung penelitian klinis Covid-19 di rumah sakit pada 13 Agustus 2020 (foto: istimewa)

.

JAKARTA (Pos Sore) — Strategi lokalisasi melalui joint venture yang bertujuan untuk menghadapi krisis ekonomi yang diakibatkan oleh Virus Corona telah menarik perhatian banyak pihak. Strategi ini upaya menyinergikan dan menciptakan Kebijakan Persyaratan Kandungan Lokal (Local Contents Requirement) untuk meningkatkan daya saing di industri dalam negeri.

Kebijakan ini awalnya bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Pemerintah kini mendukung penerapan Kebijakan Persyaratan Kandungan sebagai strategi baru untuk meningkatkan PDB (-1.1% ~ +2.0) yang menurun akibat PSBB yang berkepanjangan akibat pandemi Covid-19.

Daewoong Infion, perusahaan joint venture dari Daewoong Pharmaceutical di Indonesia yang telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis Covid-19 di Indonesia, mengatakan, perusahaan global yang memiliki daya saing dan membangun usaha joint venture di Indonesia akan mampu menciptakan peluang besar baik bagi perusahaan dalam negeri untuk menjadikan Indonesia yang lebih maju.

“Kami akan terus memperkuat model pertumbuhan bisnis kami. Seiring dengan Indonesia yang terus meningkatkan daya saing industri berbasis teknologi, dan perusahaan global akan mampu menerapkan strategi lokalisasi yang cepat,” katanya, dalam keterangan rilisnya, Selasa (20/10/2020).

Daewoong Infion, pendiri pabrik biofarmasi pertama di Indonesia, dari produksi bahan baku obat lokal, EPO, hingga pengembangan perawatan Covid-19 berbasis sel punca.

Perusahaan joint venture ini didirikan pada 2012 oleh perusahaan farmasi Korea Selatan bernama Daewoong Pharmaceutical dan perusahaan farmasi Indonesia bernama Infion.

Daewoong Infion membuka pabrik biofarmasi pertamanya di Surabaya dan melakukan berbagai penelitian, pengembangan, dan produksi biofarmasi di Indonesia melalui transfer teknologi biofarmasi yang luar biasa dari Daewoong Pharmaceutical.

Pada 13 Agustus 2020, Daewoong Infion mengadakan acara ‘kick-off meeting uji klinis fase 1 pengobatan Covid-19 berbasis sel punca’ bersama dengan Kementerian Kesehatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan dilanjutkan dengan pelaksanaan uji klinis tersebut.

Uji klinis fase 1 ini bertujuan untuk menguji keamanan pengobatan berbasis sel punca pada pasien Covid-19. Uji klinis fase 1 diharapkan selesai pada 2020 dan dilanjutkan dengan uji klinis fase 2 pada paruh pertama tahun 2021.

Pengobatan dari Daewoong Infion ini memanfaatkan sel punca mesenkimal DW-MSC untuk mengatasi gejala dispnea yang disebabkan oleh Covid-19 dan telah mendapat izin pertama di Indonesia sebagai pengobatan sel punca.

Pengobatan ‘DW710’ dari Daewoong Infion sedang dikembangkan melaui kerjasama aktif bersama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia. DWP710 adalah hasil kerjasama strategis antara Daewoong Infion dan Kementerian Kesehatan Indonesia untuk mengembangkan pengobatan Covid-19 pada Juli.

Pelaksanaan uji klinis fase 1 pada Juli juga telah mendapatkan izin sebagai proyek baru Kementerian Kesehatan pada tanggal 6 Agustus 2020.

RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menjadi tempat dilaksanakannya uji klinis dan memiliki pengalaman luas dalam melaksanakan berbagai uji klinis farmasi global sebagai rumah sakit spesialisasi pengobatan Covid-19 di Indonesia.

Selain itu, Daewoong Infion menyediakan perlengkapan pelindung dan pakaian untuk staf medis RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mendukung keberhasilan operasi uji klinis ini dan telah membuat rencana kerjasama lebih lanjut untuk penelitian dan pengembangan ‘Niclosamide’ dan ‘Camostat, ‘yang merupakan zat kandidat untuk pengobatan Covid-19.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas kerja sama aktifnya dalam pengembangan pengobatan Covid-19, dan kami berharap penelitian ini dapat mencapai hasil yang baik dan pada akhirnya berkontribusi sebagai pengobatan untuk mengatasi Covid -19,” kata Chang-Woo Seo, CEO Daewoong Infion.

Kontribusi Daewoong Infion terhadap industri farmasi lokal tidak hanya dalam hal pengembangan pengobatan Covid-19 melalui transfer teknologi. Daewoong Infion juga menjalankan strategi produksi global dengan memproduksi larutan ‘EPO’ murni di Indonesia dan mengekspornya ke Korea.

Daewoong Infion memproduksi larutan EPO murni dan produk jadinya. Produk jadi tersebut kemudian dijual di Indonesia sedangkan Daewoong Pharmaceutical mengimpor larutan EPO murni dari Indonesia ke Korea untuk memproduksi produk jadi.

Produk EPO Farmasi Daewoong dijual di Korea dengan merek yang berbeda. Reverse export solusi EPO yang dilakukan oleh Daewoong Infion mampu menghasilkan Rp145 miliar selama tiga tahun hingga paruh pertama tahun 2020.

Sementara itu, Daewoong Infion telah membina Indonesia sebagai kiblat biofarmasi melalui kerja sama terbuka dengan universitas dan lembaga riset dalam negeri, melakukan penelitian untuk menghasilkan obat bio baru, dan penelitian klinis tentang EPO.

Pada 2017, Daewoong Infion menerima penghargaan ‘Perusahaan Biofarmasi Terbaik’ dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Penghargaan Menteri dari Kementrian Kesehatan Indonesia pada bulan November pada tahun yang sama. (tety)

Leave a Comment