POSSORE – Direktur Metrologi, Ditjen PKTN Kemendag, Rusmin Amin mengungkapkan proses pembuatan kopi yang nikmat itu tidak hanya ditentukan oleh jenis kopi, varian biji kopi atau metode seduh. Lebih dari itu tingkat panas suhu air, takaran yang tepat, serta kadar air dari biji kopi sangat menentukan aroma dan rasa kopi.
“Jadi semuanya turut menentukan kualitas dari kopi yang kita minum. Dan ini sangat berhubungan erat dengan metrologi dan alat ukur yang digunakan,” kata Rusmin Amin dalam webinar bertema VERIFICOFFEE: From a Cup of Coffee to Export Quantity and Quality yang digelar Unit Metrologi Legal di lingkungan Kementerian Perdagangan, terkait dengan Hari Kopi Sedunia, 1 Oktober 2020. Webinar ini diikuti 850 peserta dari kalangan akademisi, asosiasi kopi, pelaku usaha, dan juga para peneliti.
Menurut Rusmin, kondisi yang setimbang atau equilibrium moisture content, merupakan salah satu kunci kenikmatan secangkir kopi. Penelitian dan pengembangan metode terkait kualitas kopi sangat dibutuhkan. Peralatan kopi yang murah dan sederhana sangat dibutuhkan untuk dapat membantu petani kopi menghasilkan kopi yang berkualitas.
Direktorat Metrologi memiliki METR-ic (Metrology Information Center) yaitu Laboratorium Pengujian Meter Kadar Air yang digunakan sebagai salah satu parameter untuk menguji kualitas biji kopi …
Selain Rusmin Amin, webinar ini menghadirkan Founder Rumah Kopi Nusantara, Abdul Rochim dan Ayu Siti Maryam selaku Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Sydney Australia.
Rusmin mengatakan, Direktorat Metrologi memiliki Laboratorium Pengujian Meter Kadar Air yang digunakan sebagai salah satu parameter untuk menguji kualitas dari biji kopi. Namanya METR-ic (Metrology Information Center) berada di Direktorat Metrologi Jalan Pasteur No.27 Bandung.
“Tak hanya menjadi pusat bagi para pengusaha kopi, pemilik kedai kopi, barista, dan akademisi bertukar pikiran dan ide mengembangkan teknologi pengukuran, tetapi juga untuk memastikan alat ukur yang digunakan dalam pengolahan kopi sudah tepat dan benar,” ujarnya.
Abdul Rochim menyebut, dari proses farming, roasting, dan brewing, metrologi ini sangat menentukan, karena kualitas kopi sangat ditentukan oleh alat ukur dan konsistensi dalam penggunaan alat ukur tersebut, dari proses penanaman kopi di kebun hingga terhidang di cangkir yang tersajiitu sangat berkaitan dengan metrologi.
“Ketidaksesuaian atau ketidakkonsistenan dalam penggunaan alat ukur yang digunakan akan mempengaruhi citarasa dan kualitas kopi. “Selama ini kita tidak menyadari bagaimana akurasi pengukuran mempengaruhi cita rasa kopi itu sendiri,” tutur Abdul Rochim yang akrad disapa Pak Erik itu.
Dia menambahkan bahwa konsep “VerifiCoffee” yang dibangun oleh Direktorat Metrologi merupakan konsep besar yang menjadikan nilai tambah bagi rantai pengelolaan kopi. Verificoffee yang berasal dari dua kata verifikasi yang berarti membandingkan dengan sesuatu yang baku atau standar dan coffee atau kopi itu sendiri.
“Dengan VERIFICOFFEE, kita mampu menghasilkan specialty coffee terbaik di dunia. Indonesia Goes to Specialy Coffee” ujar Erik.
Sementara itu, Ayu Siti Maryam dari Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Sydney menyampaikan bahwa tren ekspor kopi Indonesia khususnya ke Australia mengalami penurunan cukup signifikan dalam 2 tahun terakhir, dengan nilai expor di tahun 2017 sebesar 22,2 juta USD menjadi 10,7 juta USD di tahun 2019.
Mutu kopi menjadi concern Australia karena standar mereka untuk impor kopi sangat ketat. Dan diharapkan peningkatan mutu kopi dari peningkatan kualitas alat ukur yang digunakan dapat meningkatkan nilai ekspor kopi ke luar negeri termasuk Australia.
“Apa yang dilakukan oleh Direktorat Metrologi hari ini dalam memberikan pengenalan bagaimana metrologi memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas kopi Indonesia membuka jendela pengetahuan baru bagi para pelaku usaha.,” kata Ayu Siti Maryam.
Secara terpisah, Dirjen PKTN Veri Anggriono menyampaikan bahwa metrologi dan standardisasi merupakan salah komponen infrastruktur mutu yang dapat dikembangkan lebih jauh lagi sehingga dapat membantu Kementerian Perdagangan dalam meningkatkan ekspor non migas Indonesia. (aryo)
