10 C
New York
19/04/2026
AktualNasional

Bedah Buku Karya Yudi Latif, Pontjo Sutowo: Sebagai Penuntun untuk Pembudayaan Pancasila

JAKARTA ( Pos Sore) — Buku berjudul “Wawasan Pancasila” karya Yudi Latif dibedah Aliansi Kebangsaan, secara virtual, Jumat (21/8/2020) malam. Ini buku terbaru Yudi sejak buku pertamanya “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila” terbit pada 2011.

Dalam bedah buku ini, Aliansi Kebangsaan menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Henny Supolo Sitepu (Cahaya Guru), Dr. Riwanto Tirto Sudarmo, MA (Peneliti Sosial Independen), Chandra Setiawan (anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN) dan Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai (Aliansi Kebangsaan).

Bedah buku yang berlangsung selama 4 jam itu, menyimpulkan Pancasila sebagai modal sosial sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Karenanya, harus terus menerus dibudayakan secara sadar oleh seluruh bangsa Indonesia, utamanya oleh pemegang otoritas kekuasaan.

Karenanya, Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo sangat mengapresiasi terbitnya buku Wawasan Pancasila karya Yudi Latief tersebut. Buku tersebut dinilai sebagai karya paripurna yang sangat fundamental dan komprehensif sebagai penuntun untuk pembudayaan Pancasila.

“Dengan cakupan yang komprehensif, penjelasan yang mendalam serta argumentasi dan relevansi yang kuat, karya Yudi Latief tersebut, bisa menjadi sumber, baik untuk kepentingan studi Pancasila maupun panduan praktis pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila,” katanya.

Pontjo mengingatkan, bangsa Indonesia lahir dari adanya kesadaran dan pengakuan atas perbedaan-perbedaan sebagai kondisi obyektif bangsa. Pluralitas atau kemajemukan ini baik dalam hal etnis, agama, budaya, bahasa, kepentingan politik, bahkan ideologi telah dicarikan titik temunya oleh para pejuang pendahulu kita, yang berkehendak untuk hidup bersama menjadi sebuah bangsa Indonesia.

Kita, katanya, patut bersyukur memiliki Pancasila yang bisa dipedomani sebagai rujukan untuk mendorong proses transformasi struktur dan kultur demi terwujudnya common domain identitas keindonesiaan tanpa menegasikan identitas etnisitas dan identitas lainnya.

“Saya berkeyakinan dengan Pancasila yang dihayati, dipahami dan dilaksanakan secara jujur, benar dan bertanggungjawab, semua kecenderungan negative destruktif yang dapat meruntuhkan bangunan bangsa dan negara dapat dicegah,” katanya

Dalam kesempatan yang sama, Yudi Latief menegaskan, Pancasila sebagai modal sosial (social capital) yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, dengan demikian pancasila harus terus menerus dibudayakan secara sadar oleh seluruh bangsa Indonesia, utamanya oleh pemegang otoritas kekuasaan.

“Tanpa usaha sengaja, sungguh-sungguh, dan konsisten untuk melakukan pembudayaan Pancasila dalam segala ranah pembangunan, bisa saja sekali waktu Pancasila tinggal “pepesan kosong”, ujar Yudi Latif.

Menurutnya, tidak ada kebangkitan dan kemajuan tanpa diusahakan secara sengaja dan penuh kesadaran. Melalui pengalaman sejarah perjuangan bangsa, kita bisa melihat bahwa usaha menumbuhkan kesadaran itu memerlukan keutamaan budi, yang dapat menyatukan pikiran, perasaan dan kemauan dalam spirit kolektif.

Dalam demikian, peran intelektual sangat menentukan dan selalu menjadi pemantik gerakan kemajuan, kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia di masa lalu. Ia pun mengingatkan dalam mengarungi perjalanan bangsa ke depan, perjuangan mewujudkan politik harapan harus berjejak pada visi yang diperjuangkan menjadi kenyataan.

Sementara itu, Riwanto Tirtosudarmo, menyampaikan, Yudi Latif, adalah seorang intelektual publik di negeri ini yang saat ini serius menekuni tentang Pancasila. Ketekunannya menekuni Pancasila, adalah buah perenungannya yang dituangkan ke dalam teks-teks, berupa buku dan tulisan-tulisan lain yang terus diproduksinya.

“Buku Yudi “Wawasan Pancasila” yang sedang kita bicarakan ini, menurut hemat saya, harus ditempatkan dalam perspektif pemikiran Yudi yang terus mengeksplorasi Pancasila sebagai “discourse” atau diskursus yang selalu didiskusikan dan diperdebatkan,” katanya. (tety)

Leave a Comment