15.2 C
New York
28/04/2026
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Negatif 5,2 Persen, Anis: Indonesia Sudah di Ambang Resesi

JAKARTA (Pos Sore) — Anis Byarwati, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS memaparkan kondisi ekonomi makro Indonesia di masa Pandemi Covid 19. Mengutip data BPS yang merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan angka negatif 5,2 persen (yoy) atau negatif 4,9 persen (qoq).

“Data tersebut sekaligus mengkonfirmasi Indonesia sudah di ambang pintu resesi ekonomi,” kata Anis dalam kuliah umum yang diselenggarakan Departemen Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Komisariat Universitas Airlangga, Rabu (12/8/2020).

Mengacu statistik yang dikeluarkan BPS 5/8/2020, harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional pada Triwulan II-2020 secara umum mengalami penurunan (q-to-q) maupun (y-on-y). Sementara itu, harga komoditas makanan (gandum, minyak kelapa sawit, dan kedelai) mengalami penurunan (q-to-q), tetapi secara (y-on-y) mengalami peningkatan.

Anis menambahkan, ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia terkontraksi sebagai akibat pembatasan aktivitas penduduk untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester 1-2020 dibandingkan dengan Semester I-2019 terkontraksi 1,26 persen”, imbuh Anis.

Ia juga menyampaikan berdasarkan lapangan usaha, BPS menyebutkan lima sektor yang mengalami pertumbuhan negatif mencapai dua digit, yaitu jasa keuangan -10,3 persen, jasa perusahaan -14,11 persen, jasa lainnya -15,12 persen, akomodasi & makan minum -22,31 persen, serta transportasi dan perdagangan -29,22 persen.

Anis memberikan ulasannya secara khusus, terkait pertumbuhan negatif hingga dua digit di sektor keuangan. Dikatakan, sektor keuangan yang di dalamnya termasuk perbankan merupakan elemen vital dari perekonomian, baik bagi suatu negara maupun dunia.

“Melihat fakta pertumbuhan di sektor ini terkontraksi sangat dalam sampai dengan -10,3 persen, harus memacu pemerintah untuk merancang desain pemulihan ekonomi yang lebih efektif dari langkah yang selama ini telah dijalankan,” katanya.

Terkait lowongan kerja di masa Pandemi ini, Anis menyampaikan dalam Analisis Big Data Ketenagakerjaan yang merujuk kepada Survey Brand Activation Associate Manager Kalibrr, Maret – Juni 2020, rinciannya sebesar 91% iklan lowongan pekerjaan yang tersedia di situs web menjadikan strata satu (S1) sebagai syarat utama. Diploma tiga (DIII) sebesar 5%, lulusan sekolah menengah atas (SMA) 4%, serta S2 dan S3 1%.

“Secara umum, sebanyak 77% pengguna situs web didominasi pencari kerja dengan tingkat pendidikan S1. Diikuti lulusan SMA/SMK dan diploma, masing-masing 10%,” tambahnya.

Di hadapan para peserta yang terdiri para doktor dan dosen FEB Unair, ketua dan sekjen IAEI Komisariat Universitas Airlangga, para mahasiswa S1, S2 dan S3 FEB Unair serta alumni, Anis memberikan motivasi agar terus berkontribusi dengan baik, profesional dan maksimal dalam bidang yang saat ini diamanahkan, karena Indonesia masih banyak membutuhkan para ahli dan pakar di bidang ekonomi Islam dalam mencapai kedaulatan ekonomi bangsa.

Politisi PKS yang juga wisudawan terbaik 2012 program Doktor Ekonomi Islam Universitas Airlangga ini, menegaskan pentingnya peran para akademisi untuk memberikan masukan kepada legislatif, karena telaah kritis yang disampaikan pasti menghadirkan data yang komprehensif dan sangat dibutuhkan dalam merumuskan dan menentukan kebijakan yang berkeadilan dan berpihak kepada rakyat. (tety)

Leave a Comment