JAKARTA (Pos Sore) — Psikolog Wahyu Aulizalsini A, M.Psi, mengungkapkan, kenakalan dan kasus-kasus negatif di masa remaja banyak disebabkan oleh gadget. Hal ini harus menjadi perhatian bersama mengingat data survey Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada 2017 ditemukan 60 persen pengguna gadget adalah anak usia 9 – 19 tahun.
“Jika dicari akar masalahnya maka dapat saya sampaikan bahwa konsep diri seorang individu menjadi satu masalah penting untuk memunculkan perilaku positif,” katanya saat menjadi narasumber diskusi virtual bertemakan “Gizi dan Sehat untuk Anak Indonesia”, yang diadakan Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com, Sabtu (25/7/2020)
Menurutnya, konsep diri merupakan sikap, perasaan dan pandangan individu tentang dirinya sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang meliputi fisik, psikis, sosial, aspirasi dan prestasi yang nantinya akan menentukan langkah-langkah individu dalam melakukan aktifitas sesuai dengan gambaran yang ada pada dirinya.
“Konsep diri merupakan gambaran dari keyakinan yang dimiliki tentang diri mereka sendiri secara luas baik mengenai fisik, psikologis, sosial dan emosional,” jelas Liza sapaan Wahyu Aulizalsini.
Dikatakan, konsep diri yang pertama kali terbentuk disebut konsep diri primer. Hal ini diperoleh di lingkungan keluarga terutama pada tahun-tahun awal kehidupan. Kemudian konsep diri akan terus berkembang sejalan dengan semakin luasnya hubungan sosial yang diperoleh anak.
Bagaimana orang-orang di sekitarnya memperlakukan dirinya, apa yang mereka katakan tentang dirinya, status yang diraihnya dalam kelompok akan memperkuat dan memodifikasi konsep diri yang telah terbentuk dalam keluarga.
Dengan konsep diri yang positif maka seorang remaja akan mampu menyesuaikan diri dengan baik pula (yakni sesuai tahap usia dan perkembangannya), misalnya cenderung menjadi anak yang mudah bergaul dan, lebih hangat, dan terbuka menghadapi orang lain, serta lebih mudah menerima kelemahan orang lain.
“Kelak saat dewasa akan lebih mudah menyesuaikan diri di tempat pekerjaan ataupun dalam kehidupan pernikahan. Jika tidak, maka sebaliknya bahkan menjurus kepada sikap dan perilaku yang tergolong kriminal,” jelasnya.
Tentang bagaimanakah seorang anak remaja dapat menyesuaikan diri? Liza menjelaskan bahwa semua tergantung di mana anak itu dibesarkan. Apakah ia memiliki “model” yang baik di rumahnya.
Selain itu, kemampuannya dalam menerima diri sendiri. Agar seorang remaja dapat menyesuaikan diri dengan baik, maka haruslah mengenal diri sendiri lebih dalam maka perlu penilaian atau kesadaran akan keadaan diri sendiri.
“Bilamana seseorang dapat menerima keadaan dirinya sendiri, maka ia akan mudah menerima keadaan orang lain. Remaja yang frustasi hari ini akibat tidak mampu menyesuaikan diri dan pentingnya konsep diri positif,” katanya.
Remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis dan memiliki konsep diri negatif kemungkinan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja nakal dibandingkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri positif.
Saat seorang remaja mampu menyesuaikan diri dan memiliki konsep diri yang baik, maka ia juga akan mampu bergaul dengan bebas dan positif. remaja yang frustasi hari ini akibat tidak mampu menyesuaikan diri dan pentingnya konsep diri positif. (tety)
