8.3 C
New York
27/04/2026
Kesra

Gaya Pengasuhan Orangtua Berpengaruh pada Gangguan Emosi dan Perilaku Anak

JAKARTA (Pos Sore) — Anak Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai ancaman risiko gangguan emosi dan perilaku. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya kasus anak yang berhadapan dengan hukum, kasus anak pada bidang pengasuhan, kasus anak pada bidang pendidikan, kasus anak pada bidang kesehatan dan napza serta kasus anak dalam bidang pornografi dan cybercrime.

Dalam serial diskusi virtual peringatan Hari Anak Nasional 2020, dengan topik “Menyiapkan Kecerdasan dan Soft Skills Anak Sekolah”, Sabtu (18/7/2020), yang saya ikuti, terungkap anak-anak dengan masa kanak-kanak seperti diabaikan oleh orang tua, mengalami kekerasan fisik atau seksual dilaporkan memiliki gangguan emosi dan perilaku dalam kehidupan di masa depan, seperti masalah yang terkait dengan tingkat stres yang tinggi, depresi, sadisme, bahkan radikalisme pada kehidupan remaja dan dewasa.

“Penganiayaan fisik awal memprediksi masalah perilaku remaja, seperti memiliki tingkat agresi, kecemasan atau depresi, disosiasi, gejala gangguan stres pasca trauma, masalah sosial, masalah pemikiran dan penarikan sosial yang rata-rata lebih tinggi dari tiga perempat anak sekolah dasar,” kata Ns. Sarifudin, M.Si, dari Literasi Sehat Indonesia (LiSan), saat berbicara dalam diskusi itu.

Tesis penelitian Sarifudin sendiri pada 2018 mengangkat gangguan emosi dan perilaku anak usia sekolah dasar di Bogor. Hasilnya ditemukan anak usia 7-9 tahun mengalami gangguan emosi dan perilaku. Data penelitiannya menunjukkan dari 100 anak yang menjadi responden ditemukan 69 orang anak mengalami gangguan emosi dan perilaku dengan kategori tinggi.

“Hal ini menjadi warning bagi kita bahwa kondisi anak Indonesia hari ini tidak baik-baik saja. Masalah ini perlu menjadi perhatian dari semua pihak, khususnya para orang tua, guru dan pemangku kebijakan,” terang alumni Institut Pertanian Bogor dalam diskusi yang diadakan Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com, itu.

Risiko gangguan emosi dan perilaku anak jika tidak ditangani akan menjadi masalah anak ketika remaja dan dewasa. Jika hari ini kita abai terhadap kondisi anak yang mengalami risiko gangguan emosi dan perilaku, ke depan kita akan dihadapkan dengan menangani anak remaja bahkan orang dewasa yang mengalami gangguan psikopatologis atau kesehatan mental.

Merujuk penelitian Benjet et al. (2010) di Mexico mengungkapkan, anak-anak dengan masa kanak-kanak seperti diabaikan oleh orangtua, mengalami kekerasan fisik atau seksual dilaporkan memiliki gangguan emosi dan perilaku dalam kehidupan di masa depan, seperti masalah yang terkait dengan tingkat stres yang tinggi, depresi, sadisme, bahkan radikalisme pada kehidupan remaja dan dewasa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Landsford et al. (2002) di Brazil menemukan bahwa penganiayaan fisik awal memprediksi masalah perilaku remaja, seperti memiliki tingkat agresi, kecemasan/depresi, disosiasi, gejala gangguan stres pasca trauma, masalah sosial, masalah pemikiran dan penarikan sosial yang rata-rata lebih tinggi dari tiga perempat anak sekolah dasar.

Syaris, sapaan akrab Sarifudin, menjelaskan gangguan emosi dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh faktor pengasuhan (pengasuhan otoriter dan permissive) dan faktor tingkat stres orang tua. Artinya, faktor pengasuhan yang otoriter, pengasuhan yang permissive dan tingkat stres yang dialami orangtua sangat berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak.

Dari 100 ibu responden, 38 ibu responden mengalami tingkat stres yang terkategori tinggi. Masih pula ditemukan gaya pengasuhan orangtua yang mengasuh anaknya dengan cara otoriter. Dalam hal ini memaksakan keinginan orangtua tanpa melihat kondisi dan kebutuhan anak. Di samping itu, ditemukan orangtua yang mengasuh anak dengan cara permissive atau cuek dan abai terhadap anak.

Melihat kondisi risiko gangguan emosi dan perilaku anak yang dialami anak sekarang, Syaris menyarankan agar setiap orang tua menerapkan gaya pengasuhan yang authoritative atau demokratis dalam mengasuh anak.

Hindari gaya mengasuh anak yang otoriter dan permissive. Gaya pengasuhan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah gaya pengasuhan authoritative, yaitu orangtua memegang kendali atas anaknya namun dengan memperhatikan perasaan dan keinginan anak. Ini berarti, pendapat anak didengar dan menjadi masukan bagi orang tuanya dalam menetapkan aturan.

Di samping itu, orang tua harus mengurangi tingkat stres dan mengatur kondisi stres yang dialaminya, sehingga stres yang dialami orangtua tidak berdampak terhadap anak itu sendiri.

Di tengah situasi pandemi covid 19 saat ini, kondisi mental anak perlu diperhatikan. Anak akan jenuh dengan stay at home, hampir semua aktivitasnya harus dilakukan di rumah khususnya belajar dari rumah. Kondisi anak harus tetap dijaga kesehatan mentalnya seperti kemampuan anak untuk berpikir jernih, kemampuan mengendalikan emosi dan bersosialisasi dengan baik.

“Di tengah situasi pandemi covid 19 ini, stay at home, belajar dari rumah bisa berisiko terhadap anak mengalami gangguan emosi karena anak mengalami kejenuhan, karena anak harus beradaptasi dengan kebiasaan baru yang sebelumnya dilakukan di luar rumah,” jelasnya.

Untuk menjaga kesehatan mental anak, maka orangtua perlu memberikan penjelasan yang mudah dicerna dan mudah dimengerti oleh anak. Orangtua harus menghindari penjelasan yang dapat membuat emosi, marah bahkan membuat anak menjadi takut.

Orang tua juga perlu memberikan rasa nyaman kepada anak selama berada di rumah, menyiapkan banyak kegiatan sehingga anak betah di rumah, dan orangtua harus menghindari faktor yang dapat memicu anak menjadi stres.

Kita memang perlu memberi perhatian khusus kepada anak, terkait bagaimana mengasuh, mendidik dan membesarkan anak yang memiliki karakter. Mengasuh dan mendidik anak ibarat mendaki gunung dan memiliki anak yang berkarakter baik adalah puncak dari gunung itu. Kita harus berkeyakinan, anak sebagai generasi pewaris, akan memimpin tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi.

Diskusi yang dimoderatori dr. Intan Kautsarani (Bakornas LKMI) ini juga menampilkan pembicara Andi Mukramin Yusuf, S.Gz., M.K.M. (Dosen Universitas Al-Azhar Jakarta) yang menyampaikan materi “Gizi untuk Kecerdasan Anak Sekolah”, dan Dinuriza Lauzi, S.Psi, M.Psi. (Psikologi Psikolog praktisi, Penulis & Content Creator) yang berbicara mengenai “Pengembangan Soft Skills Anak Sekolah”. (tety)

Leave a Comment