JAKARTA (Pos Sore) — Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memiliki peran stategis terhadap umat masing-masing, untuk membantu pemerintah dalam menyikapi Pandemi Covid-19 dengan nalar, bijak dan empati dalam menenangkan masyarakat, dan umatnya masing-masing.
Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo, menyampaikan era new normal yang harus dihadapi saat ini harus dibarengi dengan jiwa kuat, fisik sehat, dan kematangan emosi yang mantap. Dalam semua agama diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara harapan dan rasa “takut”. Harapan akan selalu ada jalan dan kekuatan dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga tumbuh optimisme, dan diimbangi rasa “takut” jika melanggar sunnatullah atau melanggar ketetapan aturanNya.
“Kita harus menyadari pandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, pemerintah telah menetapkan new normal sebagai era transisi dengan mulai dibukanya kembali fungsi kehidupan sosial dan ekonomi. Masa ini merupakan masa menjalani kehidupan yang masih sangat memerlukan ketangguhan ruhani dan jasmani, antara iman dan imunitas tubuh,” tuturnya.
Giwo menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan dalam Webinar Nasional Lintas Agama bertema ‘Kesiapan Menghadapi Era New Normal Dari Perpektif Lintas Agama’, Sabtu (25/7/2020), yang diadakan Kowani bekerjasama dengan Kementerian Agama. Webinar ini diikuti Dewan Pimpinan dan para Pengurus Kowani,
para Ketua BKOW beserta para anggota.
Webinar yang dibuka oleh Menteri Agama Fachrul Razi, ini menghadirkan pembicara tokoh agama dari 5 agama yaitu H. Yusnar Yusuf Rangkuti (Islam), U.P Wandi Bhadraguna (Budha), Pdt. Anwar Tjen (Kristen Protestan), Wartiniasih Sugit (Hindu) dan Justina Rostiawati (Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia/WKRI).
“Karenanya, menjadi sangat penting menjaga keseimbangan antara optimisme, semangat sehingga terus berbuat, berkarya, mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi bangsa ini, sekaligus berusaha hati-hati untuk tidak abai dengan aturan yang didasari pengetahuan para ahli kesehatan agar menjaga diri dengan menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya.
Giwo menambahkan, di tengah kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, penyebaran arus informasi di tengah masyarakat begitu cepat. Namun, tidak jarang informasi yang disampaikan justru tidak tepat dan bisa meningkatkan kekhawatiran masyarakat, berpotensi munculnya perpecahan sosial maupun politik yang menguat. Karenanya para tokoh agama diharapkan ikut menjaga jangan sampai terjadi konflik sosial yang berbau SARA.
Terlebih bangsa Indonesia ditakdirkan Allah sebagai bangsa besar, majemuk dari sisi suku bangsanya, bermacam bahasa dan budayanya, juga bermacam agama yang diyakini dan dianut oleh warga negara. Agama mengajarkan bagaimana kita dapat menjaga hubungan yang baik kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, menjaga hubungan baik dengan sesama, maupun menjaga hubungan yang baik dengan alam semesta.
Dengan Ikhtiar yang maksimal, dengan tetap mohon perlindungan dan pertolonganNya, kita bertawakkal kepada Allah SWT, semoga bangsa Indonesia tetap kuat menghadapi ujian ini dan menjadi bangsa yang saling menguatkan, bersatu-padu dengan komponen bangsa.
“Semoga acara ini membuka wawasan dan menambah ilmu kita semua dalam memahami, mendapatkan pencerahan serta motivasi spiritual dalam mempersiapkan diri serta keluarga dalam menghadapi Era Baru Pandemi Covid-19 dari perspektif lintas agama. Saya juga mengharapkan acara ini dapat meningkatkan motivasi diri seluruh organisasi anggota yang bergabung di Kowani dari perspektif lintas agama,” ujarnya.
Kowani sendiri terus mengupayakan peningkatan kerukunan antar umat beragama. Terlebih di dalam tubuh organisasi federasi Kowani terdapat beragam organisasi agama yang tergabung dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha. (tety)
