JAKARTA (Pos Sore) — Banyak anak selama ini memang kerap ‘identik” dengan para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedari partai itu bernama Partai Keadilan hingga menjelma menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Entah kategori apa yang disematkan hingga partai ini identik dengan banyak anak. Meski para kader di partai lain pun bisa saja demikian juga, namun yang identik tetap saja PKS.
Bisa jadi karena tidak sedikit para kader partai ini memiliki anak lebih dari dua, bahkan ada yang sampai memiliki 11 anak. Tak terkecuali Dr. Hj. Anis Byarwati, S.Ag, M.Si. Anggota Komisi XI DPR RI kelahiran Surabaya, 9 Maret 1967, ini memiliki 8 anak: Wafa’ Alam Syuhada, Faruq Abdul Jabbar, Sofia Fawzia, Nabilah, M. Al-Faqih, M. Kayyis Fathin, Hilma Fauza, M. Wildan Kautsar.
Tak banyak perempuan yang bisa seperti Anis Byarwati. Ketua DPP PKS bidang perempuan ini ternyata mampu mengurus ke-8 anaknya. Dari anak-anak masih bayi hingga anak-anaknya sudah “menjadi orang”. Dan, itu dilakoninya tanpa pengasuh. Perempuan kelahiran Surabaya ini tak menampik jika ia mengalami kerepotan sebagaimana halnya ibu-ibu yang lain. Terlebih jarak umur antara anak-anaknya cukup berdekatan.
Jadi, bisa dibayangkan ada “pemandangan” yang tak biasa: menggendong bayi sambil menggandeng anak-anak di tangan kanan dan tangan kirinya. Bisa dibayangkan pula keributan yang terjadi di antara para anak mengingat umur yang saling berdekatan. Tapi Anis tidak berkeluh kesah. Syukurlah, sang suami, H. M. Isbir Renwarin, yang juga kader PKS dan menjadi salah satu Ketua DPP PKS ikut turun tangan mengurus anak-anak. Dan, Anis pun bisa bernapas lega. Lega.
Meski memiliki banyak anak tidak menyurutkan niat Anis melanjutkan pendidikannya. Dukungan keluarga dari suami beserta ayah ibu menjadi faktor kelancaran pendidikan Anis. Di tengah kesibukannya sebagai politikus, kader partai, dan ibu bagi anak-anaknya, ia pun mampu menuntaskan pendidikan jenjang S-3 di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Bahkan ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan predikat Cumlaude karena mampu menyelesaikan program doktoral dalam waktu tiga tahun saja. Dan, ia pun berhak menyandang gelar Doktor Ekonomi Islam (syariah) pada 2012.
“Sewaktu mengambil pendidikan S1, anak saya sudah tiga. Lulus S1, anak saya enam. Jadi selama S1 menghasilkan anak enam. Saya lulus S3, anak saya sudah delapan. Tidak menyangka saja dikaruniai anak banyak,” kata Anis Byrawati tersenyum lebar, yang ditemui dalam satu kesempatan media gathering, di Jakarta, belum lama ini.


Bagaimana ia bisa menjalankan semua kesibukan itu namun tak melalaikan kewajibannya mengurus keluarga? Bukankah dengan kesibukannya itu semakin sedikit waktu untuk keluarga? Ternyata, kata kuncinya komunikasi. Itu sebabnya, ia selalu menyempatkan diri untuk selalu berkomunikasi. Biasanya dilakukan setelah salat berjamaah Subuh, Magrib, dan Isya.
Anis juga mengajarkan anak-anaknya untuk bisa bertanggung jawab dan saling membantu, tentu saja sesuai dengan fase tumbuh kembangnya. Karena ada 8 anak, maka rumah pun dibuat berlantai dua. Lantai atas diperuntukkan buat 4 para kakak dan lantai bawah dihuni 4 adiknya. Satu kakak menjaga satu adiknya, sehingga semua kakak mendapat mandat menjaga para adik. Termasuk memberikan bantuan belajar.
Agar para kakak bersungguh-sungguh menjaga amanah “mengurus” adik-adiknya, Anis pun memberikan fee. Pertimbangannya, biaya yang ia keluarkan untuk membayar fee anak-anaknya sama dengan fee yang dikeluarkan jika memanggil guru les privat. Lalu terjadilah deal dengan para kakak, dan itu berjalan hingga para adik beranjak remaja.
Anis sedari muda hobi menulis tentang dunia perempuan dan keluarga. Dari tangannya ia berhasil menyusun buku “Tatanan Berkeluarga dalam Islam”. Buku karya ulama besar Prof. Dr Yusuf al Qaradhawi yang dipercaya untuk diterjemahkannya. Buku ini sebagaimana judulnya berkisah tentang keluarga mengingat keluarga adalah miniatur bangsa. Keluarga adalah basis pertahanan inti dari masyarakat dan negara. Rapuh dan runtuhnya keluarga menjadi indikator lemah dan hancurnya bangsa.
“Jadi, kepala negara itu harus seperti perlakuan ayah kepada anak-anaknya atau keluarganya. Harus sering dirangkul, diajak komunikasi, ditanamkan nilai-nilai kebaikan, didengarkan curhatannya, keluhannya, bukan malah sebaliknya,” tandasnya. Meski ia berada dalam Komisi XI yang membidangi ekonomi, keuangan, dan perbankan, namun concernnya pada isu keluarga dan kaum perempuan tak bisa lepas begitu saja.

Anis yang terpilih dari Dapil DKI Jakarta 1 (Jakarta Timur) ini bersyukur memiliki suami selain satu visi, juga satu partai, sehingga memudahkannya untuk mengembangkan potensi dirinya dan potensi kaum perempuan lainnya, terutama para perempuan PKS. Bagi Anis, seorang muslimah harus mau maju. Dia harus pandai di luar dan mampu menunjukkan kiprahnya ke masyarakat. Tapi jika sudah berada di dalam rumah, ia harus bisa melepaskan segala atributnya selain sebagai ibu dan istri.
Direktur Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I) ini menegaskan pentingnya bangsa yang bertumpu pada kualitas setiap unit keluarga. Kita perlu untuk saling menguatkan keluarga Indonesia menjadi keluarga berkualitas. Jika berkaca pada perjalanan bangsa Indonesia di masa perjuangan, kemerdekaan yang dicapai Indonesia berasal dari kuatnya ketahanan keluarga para pejuang kemerdekaan. Jika karakter keluarga kuat maka karakter bangsa akan kuat.
Anis yang juga dosen Universitas Yarsi, melihat kondisi ketahanan keluarga Indonesia saat ini berada dalam ambang kerapuhan. Padahal, keluarga adalah wahana penopang bangsa. Namun, bagi Anis tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki rapuhnya simpul-simpul keluarga sehingga simpul-simpul ikatan dalam keluarga menjadi lebih kuat. Karenanya, ia mengajak para ibu di Indonesia untuk menjadikan keluarga sebagai madrasah bangsa.
Menurut Anis yang sebelumnya menjabat Sekretaris Sekolah Pasca Sarjana Universitas YARSI, ini keluarga adalah tempat pendidikan paling pertama dan paling utama bagi putra-putri bangsa. Karenanya, keutuhan dan ketahanan keluarga sangat penting untuk menjadikan keluarga sebagai pusat madrasah bagi generasi bangsa. Dan seorang ibu, memiliki peranan penting dalam keluarga. Seorang ibu menjadi ujung tombak pembinaan dan pendidikan di dalam keluarga, terutama bagi anak-anak. Karena itu, kita harus memperkuat peranan ibu dalam keluarga. (tety)
