
TANGERANG (Pos Sore) — Siapa yang tidak senang berkumpul dengan teman-teman semasa SMA di saat usia beranjak “tua”? Begitu pula yang dirasakan oleh alumni SMAN 1 Jakarta Angkatan 1986 atau lebih dikenal dengan SMA Boedoet (Boedi Oetomo). Entah sudah berapa kali komunitas alumni ini saling berbagi cerita, kenangan, tawa, dan kejahilan. Mungkin sudah tidak terhitung lagi.
Apakah ajang kumpul-kumpul para alumni ini sekedar berbagi tawa semata? Ternyata tidak. Rupanya, dalam setiap pertemuan selalu juga diisi dengan rencana aksi yang berbudi luhur. Dibicarakan bagaimana merancang kegiatan yang lebih bermakna, bermanfaat, dan bernilai sosial daripada sekedar berkumpul “yang tak jelas”. Di usia yang tidak muda lagi, harus ditanamkan ada aksi nyata yang membumi sehingga menorehkan catatan kebaikan bagi generasi selanjutnya.
Salah satu aksi nyata itu, menanam pohon mangrove di bibir pantai Tanjung Kait, Desa Margamulya Kecamatan Mauk, Kabupaten,Tangerang, Banten, Sabtu (23/11/2019). Aksi ini jelas disambut antusias para alumni angkatan 86. Mereka bersemangat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Turun berlumpur-lumpur hanya sekedar untuk menanam pohon mangrove. Tak peduli baju dan badan kotor.
Bagi Ketua Ikatan Alumni SMAN 1 Jakarta Angkatan 1986 (IKA Boedoet 86), Marsekal Muda Ir. Novyan Samyoga MM, aksi sosial ini sebagai pengingat diri siapa lagi yang akan menjaga lingkungan Indonesia kalau bukan warga negaranya sendiri. Ia berharap, dengan aksi yang hanya “sebesar butiran pasir di lautan” ini dapat menularkan “virus-virus” kebaikan kepada warga negara lainnya untuk melakukan aksi serupa.

Dalam kegiatan menanam mangrove itu, IKA Boedoet 86 pun menggandeng Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), TNI Angkatan Udara, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I/Jakarta (Kosek Hanudnas I/Jakarta) agar apa yang diupayakan bisa berjalan lebih maksimal. Ya, jadi “keroyokan” memang. Tapi ya tidak masalah juga karena memang harus dilakukan bersama-sama mengingat ancaman abrasi di Tanjung Kiat begitu nyata. Dan, karenanya, perlu dilakukan dengan bergotong royong.
“Mengapa di Tanjung Kait? Karena dalam pantauan kami, di sini mengalami ancaman abrasi yang harus diwaspadai karena dalam 5 tahun terakhir saja wilayah daratannya menyusut sejauh 1 kilometer. Ini ancaman nyata yang tidak bisa diabaikan begitu saja,” tegas Ketua IKA Boedoet 86 yang akrab disapa Yoga, ini yang menambahkan ke depannya akan diagendakan aksi pembersihan sungai dari sampah-sampah.
Sebanyak 1000 bibit pohon mangrove pun sudah disiapkan yang didapatkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Seusai mendapatkan arahan dari Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Mauk, bibit-bibit berumur 3 bulan dengan ketinggian 1 meter ini lalu ditanam di bibir pantai. Ditanam dengan kedalaman sekitar 10 cm. Lalu diikat dalam sebatang kayu kecil untuk menopang bibit.
“Bibit-bibit setinggi 1 meter ini dinilai cukup mampu menahan arus ombak yang cukup kuat, yang diperkuat lagi dengan pagar bambu yang menahan terjangan arus. Insyaallah dengan upaya ini pesisir pantai menjadi lebih baik. Kami harapkan juga tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 60-70 persen. Butuh waktu memang pohon mangrove ini tumbuh lebih tinggi. Tapi setidaknya kita sudah berusaha,” ujar Yoga.

Keberhasilan aksi ini tidak lepas dari sosok Kapten Elektronika Bagas Stevana Nugraha dari Satuan Radar 211 Tanjung Kiat. Ia menjadi orang yang paling sibuk dalam menyiapkan segala hal terkait aksi ini. Ditemui di sela kegiatan, ia menjelaskan, jika abrasi di Tanjung Kiat cukup parah. Cuaca ekstrem turut berkontribusi terjadinya abrasi. Diperlukan keseriusan untuk menjaga tanaman mangrove tumbuh.
“Pohon mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan,” jelas Kapten Bagas, yang mengaku penanaman pohon mangrove akan diteruskan ke bagian yang lain yang belum ditanami. Bibit pohon mangrove yang sudah ditanam sebanyak 1000 bibit itu dinilai kurang mencukupi untuk mencegah abrasi atau pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak laut.
Letkol lek Rani Partomo Komandan Satrad 211 Tanjung Kait, menyambut baik aksi yang dilakukan IKA Boedoet 86. Dengan aksi ini bisa mengedukasi masyarakat jika ternyata di pesisir pantai Indonesia mengalami ancaman abrasi. Untuk mengatasinya tidak bisa hanya oleh pemerintah tapi juga harus melibatkan masyarakat.
“Semakin banyak masyarakat yang terlibat, semakin baik upaya menjaga pesisir dari bahaya abrasi yang bisa membuat batas kepemilikan lahan penduduk menjadi lenyap akibat hantaman ombak yang pada saat tertentu dengan gelombang lebih besar,” ujarnya.

Bibit-bibit pohon mangrove yang ditanam ini yang suatu saat berubah menjadi hutan mangrove memiliki akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia.
Kehadiran hutan mangrove dapat melindungi tepian pantai Tanjung Kait dari terjangan ombak langsung yang berpotensi menghantam dan merusak bibir pantai. Selain itu, peran penting Hutan Mangrove lainnya yakni melindungi pantai dan tebing sungai dari kerusakan, seperti erosi dan abrasi.
“Semoga melalui aksi tanam pohon mangrove ini bisa mengurangi resiko bencana akibat abrasi di pesisir pantai dan berorientasi pada perbaikan fungsi ekosistem dan upaya pelestarian hutan mangrove,” katanya seraya menambahkan ekosistem mangrove juga bisa menjadi mata pencaharian alternatif melalui pengembangan industri pariwisata.
Kawasan ekosistem mangrove juga salah satu tempat yang paling nyaman untuk beberapa jenis mahluk hidup dan organisme. Beberapa spesies seperti udang, ikan dan kepiting banyak berkembang di kawasan ini, yang cukup bermanfaat sebagai sumber nutrisi dan makanan yang penting untuk kesehatan. (tety)
