
-
Founder WARSO, Wahyu Indra (ke-2 dari kiri), saat peluncuran WARSO di di RW 02, Kelurahan Depok Jaya, Kota Depok, Sabtu (2/11/2019).
.
DEPOK (Pos Sore) – Era digital katanya identik dengan kaum milenial. Tapi nyatanya, di tangan Wahyu Indra, era digital malah lekat dengan kaum “jadul” alias jaman dulu. Bagaimana tidak, “pensiunan” Ketua RW ini mampu menciptakan aplikasi mobile platform wirausaha bernama Warung Solusi Warga (WARSO) yang pengelolaannya dipercayakan kepada orang-orang “berumur”. Di sinilah letak keistimewaannya, meski dikelola oleh pengurus RW yang ditunjuk, tapi tetap dilakukan dengan pendekatan ala milenial.
Apa itu WARSO? Sebagaimana namanya, ini adalah warung yang menyediakan usaha sebagai solusi keuangan bagi tiap pengurus RW. Biar lebih kekinian, transaksi usaha tersebut dilakukan melalui aplikasi android bernama WARSO. Tujuannya, bukan semata-mata terlihat lebih trend, tapi juga agar pengelolaan keuangan lebih transparan.
Aplikasi ini memang menyasar lingkungan rukun warga (RW) di wilayah tempatnya tinggal. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika usaha yang dikembangkan ini berkembang pesat, bisa jadi aplikasi ini dapat dimanfaatkan dalam cakupan yang lebih luas.
Founder WARSO, Wahyu Indra, yang ditemui usai peluncuran WARSO di RW 02, Kelurahan Depok Jaya, Kota Depok, Sabtu (2/11/2019), berkisah bagaimana awal mulanya ia terpikir untuk “melahirkan” WARSO. Ternyata, dilatarbelakangi keterbatasan dana ketika melakukan suatu kegiatan di lingkungan RW.
Memang, ada iuran warga, tapi tidak semua warga memiliki kemampuan yang sama untuk membayar iuran. Dan, dana yang terkumpul dari warga ini acapkali malah tidak mencukupi. Ya, bisa saja ditutupi dari dana yang dikucurkan pemerintah daerah, tapi tetap saja jadi riskan mengingat dana ini juga harus dialokasikan untuk kegiatan PKK dan Karang Taruna.
“Ketika saya jadi Ketua RW di Kelurahan Kemirimuka, Kota Depok, ada kegelisahan dalam diri saya karena untuk menjalankan roda organisasi kepengurusan RW saja selalu mengandalkan dari iuran warga. Sementara dana penguatan dari pemerintah daerah hanya berkisaran Rp2 juta per tahunnya. Padahal di dalam kepengurusan RW ada PKK, Karang Taruna dan berbagai macam kegiatan yang harus dijalankan,” tuturnya.

Maka, terpikirkanlah olehnya untuk membentuk WARSO. Dengan tujuan memberdayakan masyarakat agar mampu memperoleh keuntungan dari usaha yang murah dan mudah. Hasil keuntungannya akan digunakan untuk membiayai kegiatan PKK dan Karang Taruna di lingkungan RW. Nah, di aplikasi WARSO juga tersedia catatan pembukuan yang lebih transparan dibanding pencatatan secara manual.
“Selama ini, pengetahuan dan kemampuan pencatatan keuangan menjadi salah satu sorotan di setiap pengurus RW. Untuk itu, WARSO juga akan memberikan transfer knowlegde tentang pencatatan keuangan RW yang baik,” kata Wahyu Indra yang memiliki usaha mi ayam gerobakan di sekitar kawasan Margonda Depok yang telah ditekuni selama 11 tahun terakhir ini.
Berdasarkan masalah tersebut, ia pun mencoba memikirkan bagaimana menghadirkan bentuk usaha di lingkungan yang mempunyai margin yang cukup besar yang bisa mengisi kas setiap RW untuk menjalankan roda organisasi. Harapannya setelah RW mempunyai dana kas dari usaha WARSO akan membentuk koperasi di lingkungan RW masing-masing.
Karena pengalamannya dalam membuka usaha mi ayam, maka usaha yang dikembangkan dalam WARSO untuk tahap awal adalah usaha mi ayam dan olahan ayam. Dipilihnya usaha ini karena berdasarkan riset yang dilakukannya, yang mengacu pada data statistik konsumsi mi di Indonesia dari 2011 hingga 2015 rata-rata pertumbuhan 14%. Kemudian statistik konsumsi ayam di Indonesia 2011-2015 rata-rata pertumbuhan 17%.
“Peminat dan penikmat mi ayam dan ayam olahan cukup banyak dan selalu meningkat setiap tahunnya,” katanya. Lalu, WARSO pun menghadirkan penjualan mi ayam melalui aplikasi android dengan harga hanya Rp8.000 per porsi. Dalam setiap porsi sudah ada keuntungan sebesar Rp4.000. Kalau di pasaran harga mi ayam seporsinya bisa lebih dari Rp10.000. Jadi harga yang dipasang WARSO sangat kompetitif.
Sedangkan untuk produk ayam olahan, WARSO memproduksi ayam olahan bumbu kuning (Bandung) dan ayam bumbu kalasan. Bila di pasaran, harga kedua makanan tersebut sudah di atas Rp50.000 per ekor (800 gram potong 8). Khusus produk WARSO, setiap RW bisa menjual dengan harga Rp37.000 per ekor. Dari harga itu, pihak RW sudah mendapatkan keuntungan Rp4.000 per ekornya.
“Inilah cara yang saya bisa dalam mengabdikan diri untuk kemajuan warga. Melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, menjadi kebahagiaan tersendiri buat saya. Saya berharap, warga dapat terbantukan dengan kehadiran WARSO,” ujarnya.
Co Founder Tikak Sukmaja mengatakan, WARSO menggunakan konsep kemitraan atau partnership. Modal utama atau starter pack seperti gerobak, freezer, kompor, smartphone dan lain-lain itu sudah disediakan oleh pihak WARSO. Mitra WARSO, dalam hal ini RW tinggal menunjuk 1-2 orang sebagai pengelola atau penanggung jawab dan menjalankan usaha warung WARSO.

“Alasan mengapa Warso memilih menggunakan aplikasi, selain memudahkan dalam bertransaksi, aplikasi juga memberikan nilai lebih yaitu transparansi dan akuntabilitas. Dengan aplikasi semua transaksi tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Tikak.
Camat Pancoranmas, Kota Depok, Utang Wardaya, jelas mengapresiasi upaya yang dilakukan Wahyu Indra dengan menghadirkan konsep usaha WARSO, yang simple namun fokus terhadap sasaran. Dalam pandangannya, konsep usaha WARSO menjadi terobosan untuk merespon dinamika perkembangan dan situasi perekonomian warga.
“Banyak yang bisa disinergikan antara program pemerintah dengan WARSO ini yakni terkait pembinaan dan penguatan kelembagaan sosial RW dan RT, Karang Taruna dan PKK. Terutama penguatan peran sosial ekonomi warga,” kata Utang Wardaya.
Ia pun berjanji akan memfasilitasi agar jangkauan WARSO dapat diperluas lagi. Terlebih WARSO dapat membangkitkan semangat dalam menumbuhkembangkan ekonomi warga, sekaligus mengatasi pengangguran pemuda.
“Di kecamatan kami ada 107 RW beserta Karang Tarunanya. Ini sangat potensial dalam menguatkan perekonomian secara kewilayahan di Kecamatan Pancoranmas yang masih didominasi ekonomi sektor kuliner. Di sini peran WARSO sangat relevan,” kata dia.
Sedangkan, Lurah Depok Jaya Herman mengatakan, WARSO merupakan satu usaha bisnis yang menjanjikan dan tidak memerlukan waktu habis terbuang dalam memulai wirausaha. “WARSO bisa sangat membantu para ibu-ibu di Kelurahan Depok Jaya. Saya berharap usaha ini betul-betul menjadi solusi perekonomian warga dan bisa tersebar di semua RW,” kata Herman.
Pendapat senada juga dikatakan Ketua RW 02, Kelurahan Depok Jaya, Suyana. Menurut dia, bisnis WARSO adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Sebab produk yang dijual adalah makanan berupa mi ayam yang sangat disukai masyarakat dan ayam olahan yang sudah dibumbui sehingga pembeli tinggal menggoreng di rumah.
”Harapan saya setelah bisnis mi ayam dan ayam olahan sudah jalan, kalau bisa merambah ke sembako dengan harga di bawah harga pasar sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,” pungkas Suyana. (tety)
