8.8 C
New York
25/04/2026
AktualKesra

Menuju World University, Institut STIAMI Selenggarakan The 1st ICSTIAMI

JAKARTA (Pos Sore) — Institut STIAMI menyelenggarakan The International Conference on Science and Technology in Administration and Management Information, pada 17-18 Juli di Candi Bentar Putri Duyung Cottage, Jakarta. Tema yang diangkat cukup berbobot: “Sustainable Development: from Research to Action”.

Konferensi Internasional tersebut, pertama kalinya diadakan oleh institut yang dipimpin Dr. Ir. Panji Hendrarso, MM, itu. Meski pertama kali, The 1st ICSTIAMI yang dipersiapkan selama satu tahun itu sukses dilaksanakan. Terbukti, ada 11 negara yang menghadiri seminar ini.

Ketua Panitia The 1st ICSTIAMI Resista Vikaliana, menyebutkan, ke-11 negara itu di antaranya Indonesia, Australia, Thailand, Pakistan, Malaysia, Philipina, Republik Ceko. Negara-negara ini hadir sebagai pembicara. Sementara negara lainnya ada yang hadir sebagai peserta dan pemakalah/presenter.

Dengan cukup banyaknya negara yang menghadiri konferensi ini setidaknya menandakan Institut STIAMI semakin bereputasi internasional. Kian diakui oleh dunia internasional. Langkah menuju world university pun semakin mudah.

“Ini jelas suatu kebanggaan tersendiri bagi kami, Institut STIAMI karena pertama kali mengadakan konferensi internasional tapi sudah cukup mendapatkan apreasiasi yang luar biasa. Jaringan kami dengan pihak lain cukup kuat juga. Dan, ini menguntungkan kami. Sudah saatnya Institut STIAMI menuju kelas internasional,” tutur Resista yang juga Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) di institut itu.

Ia menjelaskan suatu kegiatan dikatakan konferensi internasional jika dihadiri minimal lima negara. Institut STIAMI sendiri berhasil menjaring 11 negara. Untuk tingkat perguruan tinggi, terlebih swasta, sangat jarang ditemukan kegiatan ilmiah internasional yang diikuti oleh 11 negara. Biasanya hanya sekitar empat atau lima negara.

Bagi Institut STIAMI, jelas suatu kemajuan luar biasa. Selangkah lebih maju dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan adanya konferensi internasional ini pula maka publikasi ilmiah internasional para dosen Institut STIAMI meningkat. Yang sebelumnya hanya sekitar 30 persen, menjadi 50 persen.

“Kami sih inginnya ya 100 persen, karenanya berbagai upaya dilakukan. Selain mengadakan konferensi internasional juga melakukan sejumlah stimulus agar atmosfir melakukan jurnal ilmiah semakin dirasakan para dosen. Terlebih pemerintah juga sudah cukup memberikan stimulus agar dosen-dosen Indonesia lebih sering mempublikasikan jurnal ilmiahnya secara internasional,” tambahnya.

Secara nasional, publikasi ilmiah para dosen Indonesia di tingkat internasional ternyata sangat minim. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand kita masih tertinggal. Dampaknya, rendahnya daya saing bangsa ini di dunia internasional, sehingga mempengaruhi secara tidak langsung laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Jadi semakin banyak publikasi bertaraf internasional kian banyak pula riset bermutu unggul dan sesuai kebutuhan industri. Ini juga yang sedang Institut STIAMI upayakan bagaimana para dosen kami semakin meningkat jurnal ilmiah internasional. Para dosen semakin menyadari publikasi ilmiah internasional ini tidak hanya penting bagi dosen itu sendiri, tapi juga dapat mempengaruhi kualitas pembangunan Indonesia,” terangnya.

Diangkatnya “Pembangunan Berkelanjutan: dari Riset hingga Aksi” sebagai tema konferensi untuk memberikan peningkatan efisiensi dan produktivitas sumber daya. Bersama-sama dengan sektor publik dan swasta, organisasi non-pemerintah dan antar pemerintah, ilmuwan, peneliti bertanggung jawab untuk membangun kehidupan dan keselamatan yang lebih baik bagi masyarakat melalui penerapan pengetahuan untuk mengubah sumber daya menjadi produk dan layanan tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk mengatasi kebutuhan mereka.

Tema itu, katanya, sangat tepat dalam kondisi global saat ini. Terlebih pembangunan berkelanjutan yang ditentukan PBB untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim. Dan, dalam konferensi ini pun para pemakalah membahas masalah pembangunan berkelanjutan hampir mencakup di semua bidang.

Para peneliti, praktisi, dan pembicara mempresentasikan proposal penelitian asli mereka yang membahas masalah-masalah di bidang Akuntansi, Administrasi Bisnis, komunikasi, Bisnis & Ekonomi Islam, Manajemen Logistik & Rantai Suplai, Hukum, Manajemen Sektor Publik, Perpajakan dan Pariwisata, yang tentu saja diarahkan untuk pembangunan berkelanjutan.

Dalam konferensi tersebut Eko Prasojo (Universitas Indonesia) menyampaikan pidato utama, diikuti oleh Prof. Ferry Jie (Universitas Edith Cowan, Australia), Dr. Jonathan Rante Carreon (Universitas Huachiew Chalermprakiet, Thailand), Prof. Dr. Jan Siska (Universitas Charles, Republik Ceko), Prof. Dr. Uzair Bazi (Universitas Unggulan, Pakistan) dan Prof. Tulus Suryanto (Universitas Islam Negeri, Lampung).

Konferensi ini juga mendapat dukungan dari Universitas Huachiew Chalermprakiet, (Thailand), Universitas Sultan Zainal Abidin (Malaysia), Universitas Tun Hussein Onn (Malaysia), Universitas Padjdjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Pakuan , Widya Mataram dan STEBI Lampung. (tety)

Leave a Comment