

JAKARTA (Pos Sore) — Sebanyak 474 mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI (Institut STIAMI) berakhir masa studinya. Mahasiswa yang terdiri dari program vokasi, sarjana, dan pascasarjana, ini pun diwisuda, Kamis (25/4), di Balai Samudera, Jakarta Utara.
Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI Dr Ir Panji Hendrarso MM, mengatakan, mahasiswa yang diwisuda ini terdiri dari berbagai program studi: Perpajakan, Administrasi Bisnis, Ilmu Administrasi Publik, Ilmu Administrasi Bisnis, dan Ilmu Administrasi.
Dalam proses wisuda periode Semester Ganjil Tahun Akademik 2018-2019, ada empat wisudawan yang dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Yaitu Nur Setyowati dengan IPK 3.78 (program diploma prodi perpajakan), Ghina Kamila dengan IPK 3.89 (program sarjana prodi Ilmu Administrasi Negara/Publik).
Selain itu, Kania Oktavia dengan IPK 3.83 (program sarjana prodi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis), dan
Rita Agustin dengan IPK 3.80
(program Pascasarjana prodi Magister Ilmu Administrasi).
Sementara itu, Sekretaris Utama Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI Dedy Kusna Utama, mengungkapkan kebahagiaannya karena sebagian besar lulusan STIAMI yang kali ini diwisuda dalam level mandiri, yang punya usaha sendiri.
Ini menandakan, matakuliah wajib Kewirausahaan berhasil menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Matakuliah ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Pihaknya bersyukur saat melakukan tatakelola perguruan tinggi ternyata mahasiswanya sudah dalam taraf mandiri.
“Memasuki era revolusi industri 5.0 yang berbasis pada human interest, kita harus beradaptasi dengan perubahan itu. Anak-anak sudah kami bekali untuk menghadapi kompetisi perubahan itu. Yang kami tekankan persaingan sekarang tidak lagi bersandar pada kebanggaan nama besar almamater, tapi harus punya integritas sendiri,” ujarnya.
Institut STIAMI selalu menguatkan mahasiswanya dengan nilai culture 3i. Pertama, ibadah, mahasiswa dicamkan bahwa nilai religius itu menjadi penguat, karena akan mempermudah yang lain. Kedua, integritas, tidak tergoda untuk melakukan perbuatan korupsi atau mereka punya kemampuan untuk berbicara benar.
Ketiga, inovatif. Menekankan siapa yang kreatif dia akan bertahan. Bukan berarti kreatif dan inovatif harus berbiaya mahal, tetapi hasil kreatif dan inovatif itu menghasilkan sesuatu yang bernilai mahal.
“Nilai-nilai itulah yang kami tekankan agar mahasiswa itu berintegritas, kompetisi diperkuat, dan religius,” katanya.
Di sisi lain, Dedy juga mengapresiasi partisipasi mahasiswanya dalam pemilu 2019. Seluruh civitas akademika sudah didorong untuk ikut aktif dalam pemilu karena partisipasi mereka ikut menentukan arah perjalanan bangsa.
Menurut dia, dalam negara demokrasi, tingkat partisipasi masyarakat ikut membantu kelancaran perjalanan demokrasi. Ketika ada kesadaran dari civil society hal itu akan membuat demokrasi berjalan dengan baik.
“Untuk taraf awal partisipasi penting, setelah mereka awareness mengenai pentingnya pemilu mereka bisa naik ke level watchdog atau pengawas. Jadi kalau masyarakat sudah ikut mengawasi maka sistem akan berjalan dengan baik,” ujar dia. (tety)
