11.1 C
New York
25/04/2026
AktualKesra

Makara Art Center, Cara UI Siapkan Generasi Cerdas dan Bernurani

DEPOK (Pos Sore) — Universitas Indonesia kini memiliki pusat kesenian yang diberi nama ‘Makara Art Center’. Grand launching gedung kesenian yang didesain oleh Ridwan Kamil (sekarang Gubernur Jawa Barat), ini ditandai pementasan Indonesian National Orchestra (INO) pimpinan Franki Raden, Ph.D, Senin (10/12) malam.

Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met, mengatakan, sebagai perguruan tinggi yang membawa nama besar bangsa, Universitas Indonesia mengemban visi untuk mengibarkan panji-panji ilmu dan seni.

“Dalam perspektif pendidikan tinggi, seni dan sains tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan mendukung kemajuan budaya suatu masyarakat, dalam perspektif liberal arts,” jelasnya, di kampus UI Depok.

Dikatakan, target dari pusat kesenian ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan untuk kegiatan seni yang bermanfaat bagi para mahasiswa.
Fasilitas ini sangat baik untuk para mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan seni.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bambang Wibawarta menjelaskan, Makara Art Center bisa menjadi salah satunya pendukung dari membentuk kualitas para mahasiswa.

“Seni adalah bagian dari kebudayaan. Di sini adalah tempat untuk mengapresiasi kesenian Dan menjadi media untuk proses belajar seni bagi para mahasiswa,” kata Bambang.

Makara Art Center disiapkan untuk menjadikan para peserta didik di Universitas Indonesia (UI) untuk menjadi lulusan yang cerdas dan bernurani. Tidak hanya unggul dalam hal akademik, para mahasiswa juga bisa meningkatkan kemampuan soft skill dalam berupa seni.

Kepala Makara Art Center, Iswahyudi Soenarto, menambahkan, Makara Art Center adalah UPT di lingkungan Universitas Indonesia yang bertugas mengelola fasilitas pusat kesenian dan menyusun program acara kesenian, serta melaksanakannya.

“Hal ini sejalan dengan tujuan Universitas Indonesia untuk mewujudkan dan menyiapkan peserta didik agar menjadi lulusan yang cerdas dan bernurani melalui penyediaan program pendidikan yang jelas dan terfokus sehingga dapat menerapkan, mengembangkan, memperkaya, dan memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan,’’ jelasnya.

Makara Art Center sendiri terdiri dari lima lantai, yang dapat menampung 415 kursi penonton. Dengan kualitas akustik yang baik karena ini dirancang untuk pertunjukkan yang terkait dengan musik.

Terdapat juga galeri yang terdiri dari dua lantai. Bisa memuat sampai 100 lukisan yang besar-besar. Ada juga ruangan yang dikhususkan untuk workshop kesenian (seni lukis, seni rupa, seni musik) dan peran.

Melalui acara Grand Launching, Makara Art Center ingin mempublikasikan diri sebagai pusat kegiatan seni kepada masyarakat di luar kampus baik nasional maupun internasional.

Dipilihnya INO sebagai pengisi acara dengan pertimbangan, bahwa dari segi estetika, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya musik hampir tidak terbatas.

‘‘Ragam bahasa musik Nusantara telah berkembang selama sedikitnya 3.000 tahun sehingga mampu menghasilkan bentuk-bentuk estetika musik yang sangat kokoh di wilayah budaya kita masing-masing,” katanya.

Kekayaan bahasa estetika ini yang menjadi sumber dari lahirnya Indonesian National Orchestra atau INO, sehingga diyakini bahasa dan karya-karya musik yang akan lahir dari INO tidak akan pernah kering dan selalu akan membawa pembaharuan.

“Dalam konteks inilah INO akan siap untuk bersaing di panggung internasional dengan orkes-orkes ternama manapun,’’ ujar Iswahyudi Soenarto.

Iswahyudi menambahkan, INO akan menjadi produk budaya khas Indonesia yang memiliki nilai jual dan ekspor sangat tinggi karena keunikannya. Dengan nilai jualnya ini INO diharapkan akan menjadi satu orkestra profesional yang dapat menghidupi para pemainnya secara finansial.

Di samping itu, INO juga akan bekerja keras untuk menjadi produk unggulan industri kreatif Indonesia yang dapat bersaing di pasar musik internasional.

‘‘Dalam konteks ini, INO saya harapkan akan dapat menjadi wadah bagi para pemusik Indonesia yang kreatif dan jenius untuk tampil berlaga dalam gedung-gedung konser yang bertebaran di benua Eropa, Amerika, dan Asia-Pasifik,’’ tutup Iswahyudi. (tety)

Leave a Comment