
JAKARTA (Pos Sore) — Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI menyelenggarakan seminar nasional bertema ‘Digital Preneur: Masa Depan Bisnis Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0 Ditinjau dari Kebijakan Sektor Publik, Bisnis dan Perpajakan’, di Jakarta, Minggu (9/12).
Seminar menghadirkan pembicara CEO Value Alignment Innovation and Tecnology Advisory (VVTech) Riri Satria, Sekretaris Jenderal AIABI (Asosiasi Ilmu Administrasi Bisnis Indonesia) Dr. Drs. Urip Santoso, SE, MM, dan Founder Komunitas Tangan Diatas Badroni Yuzirman.
Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Institut STIAMI Dr. Bambang Irawan, MSi, mengatakan, seminar ini diadakan untuk mengubah mindset mahasiswa bahwa pekerjaan di masa depan itu bukan lagi menjadi pegawai, melainkan bidang pekerjaan yang sifatnya kreatif.
Itu sebabnya, di Institut STIAMI sendiri ada mata kuliah wajib ‘Kewirausahaan’. Meski program studi yang ada lebih ke bidang administrasi dan perpajakan, namun diharapkan mahasiswa bisa menjadi wirausaha atau enterpreneur. Jadi, wirausaha bukan hal yang asing lagi bagi mahasiswa.

“Karena ide kreatif itu bisa muncul dari disiplin ilmu apa saja. Kami juga menargetkan mencetak 100 wirausaha hingga tahun 2021 dan membentuk forum Perwira, Perkumpulan Mahasiswa Wirausaha untuk dapat memacu pertumbuhan wirausaha di kalangan mahasiswa,” katanya di sela seminar.
Dikatakan, STIAMI menyiapkan bekal kewirausahaan bagi mahasiswa agar mind set mahasiswa bergeser menjadi pencipta lapangan kerja. “Ini komitmen keseriusan kami dalam menyiapkan calon-calon pengusaha yang tentunya akan berdampak terhadap terciptanya lapangan pekerjaan,” katanya lagi.
Melalui Perwira, calon-calon pengusaha ini akan dibina, sehingga tak hanya memiliki semangat namun juga kemampuan manajerial. Sehingga pasca lulus, peserta program diyakini bisa mengembangkan usahanya secara mandiri.
“Kami ada pembinaan entrepreneur kerja sama dengan beragam industri, sehingga pada akhirnya setelah lulus kita berharap bisnis mereka berkembang, sehingga siap menyerap tenaga kerja,” ucap dia.
Terlebih di era revolusi industri generasi keempat. Di era yang serba digital ini, dengan perkembangan teknologi yang cepat, memberikan efek yang signifikan terhadap dunia usaha. Revolusi industri generasi keempat ini telah menemukan pola baru ketika distruptif teknologi hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent.
“Pada era industri generasi keempat ini ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kreativitas perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Karenanya, perusahaan harus peka dan introspeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.
Dengan segala kemudahan dalam berkomunikasi saat ini telah banyak melahirkan para digitalpreneur. Yaitu pelaku usaha yang menggunakan alat usahanya dengan sesuatu yang digital seperti internet, handphone, telepon pintar, dan lainnya. Pada era digital ini transformasi merupakan hal yang tidak dapat terelakkan. (tety)
