JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Bina Kelembagaan Pelatihan Kementerian Ketenagakerjaan, Dudung Heryadi mengingatkan seluruh stake holder bahwa dalam menyikapi revolusi industri 4.0, tidak boleh hanya fokus pada pengembangan kompetensi SDM saja melainkan memperkuat Generasi-Z (Gen-Z) pada aspek soft skill-nya.
Hal itu diungkapkan Dudung dalam Kuliah Umum berthema ‘Generasi Z dan Revolusi Industri 4.0’ di Pendopo Malowopati, Bojonegoro, penghujung pekan lalu.
Dia menambahkan selain kemampuan teknis (technical skill), tenaga kerja harus pula dibekali dengan soft skill atau transversal skill.
Gen-Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995 hingga sekarang. Saat ini generasi ini trending topik karena akan mendominasi populasi manusia di masa depan. Generasi inilah yang akan berjibaku dengan dinamika era revolusi industri 4.0.
Bloomberg of United Nation memberi label Gen-Z sebagai generasi realis, inovatif, dan mandiri. Oleh karenanya, penguatan soft skill menjadi penting bagi Gen-Z sebagai bekal untuk menghadapi perkembangan zaman.
Hanya saja, tambah Dudung, penanaman soft skill yang mencakup karakter inti manusia seperti kreativitas, imaginasi, intuisi, emosi, dan etik membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berangkat dari kondisi itu sinergitas lembaga pelatihan, BLK dengan dunia pendidikan menjadi sangat penting dalam memastikan internalisasi soft skill.

Soft skill sangat penting untuk ditekankan bagi Gen-Z. Karena, dalam laporan World Economic Forum, 80 persen skill yang diperlukan tenaga kerja untuk bisa bersaing dalam era revolusi industri 4.0 adalah penguasaan softskill. Selebihnya, technical skill hanya yang berada pada 12 persen.
Secara lebih rinci, tiga diantara 10 skill yang diperlukan saat ini adalah complex problem solving, critical thinking, dan creativity. “Selain soft skill, penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan penguasaan teknologi digital kepada para peserta pelatihan juga menjadi bagian penting dalam upaya mencetak tenaga kerja yang siap berkompetesi,” tuturnya.
Beberapa langkah pemerintah untuk menghadapi tantangan perubahan era revolusi industry 4.0. Diantaranya, kebijakan link and match untuk memastikan kompetensi SDM/tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dengan industri yang berbasis teknologi digital.
Pemerintah juga mengambil kebijakan masifikasi pelatihan kerja dan sertifikasi profesi. Strategi ini dibingkai dalam kebijakan Triple Skilling, yaitu skilling; up-skilling; dan re-skilling, tegas Dudung.
“Ketiga kebijakan ini menjadi penting untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja terampil (skilled workers) sekarang dan di masa yang akan datang.”(hasyim)
