14.9 C
New York
24/04/2026
AktualKesra

667 Wisudawan Institut STIAMI Siap Berkontribusi untuk Kemajuan Bangsa

JAKARTA (Pos Sore) — Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI (Intitut STIAMI) kembali menyelenggarakan wisuda periode Semester Genap Tahun Akademik 2017-2018, Kamis (30/8). Sebanyak 667 wisudawan dari program Diploma, Sarjana dan Pascasarjana memenuhi ruangan wisuda yang diadakan di Balai Samudera, Jakarta Utara.

Institut STIAMI mewisuda 667 lulusan terdiri atas mahasiswa Program Diploma Tiga sebanyak 300 lulusan, Program Sarjana sebanyak 358 lulusan dan Program Pascasarjana sebanyak sembilan lulusan.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III DKI Jakarta Dr. Ir. Illah Sailah, M.S, usai menghadiri wisuda ini, menekankan pentingnya perguruan tinggi swasta meningkatkan kualitas dirinya dari sekarang. Kalau tidak, akan terlibas oleh perguruan tinggi lainnya yang lebih berkualitas.

“Tantangan perguruan tinggi saat ini yaitu semakin banyaknya kompetitor, tapi bukan kompetitor dari dalam negeri, melainkan dari luar negeri sehingga kalau tidak meningkatkan kualitas dari sekarang akan terlibas,” tandasnya.

Menurutnya, ke depan, orang mengenyam pendidikan tinggi bukan lagi semata-mata mencari gelar, tapi lebih mencari kompetisi sesungguhnya dan inovasi. Karenanya, perguruan tinggi swasta harus mulai bangkit dengan pengembangan iptek melalui penelitian yang menghasilkan inovasi-inovasi terbaru.

“Kalau kita menjadi perguruan tinggi di tahun 2018, maka apa yang diajarkan adalah sesuatu ilmu yang akan dipakai pada tahun 2025. Mahasiswa lulus di 2023, terus berkarya, dan ilmunya harus terkini,” paparnya.

Ia mengingatkan perguruan tinggi jangan hanya sekedar mengajar tapi lebih dari itu, lebih kepada pengembangan diri dan pengembangan teknologi. Kalau hanya sekedar mengajar, tidak ada bedanya dengan kursus, sementara kursus saja secara sudah bisa melalui secara online.

Melihat kondisi demikian, dalam catatannya, sekitar 50 persen perguruan tinggi swasta siap berkompetisi. Dari 50 persen itu, institut dan universitas menjadi andalan untuk menghasilkan iptek.

Mengapa, karena menurutnya, universitas pastinya perguruan tinggi yang sudah dewasa karena memiliki berbagai program studi. “Banyak yang mulai dari sekolah tinggi jadi institut, dari sekolah tinggi menjadi universitas itu menandakan fondasi perguruan tinggi tersebut bagus,” ujarnya.

Pihaknya juga mengingatkan agar perguruan tinggi meningkatkan kompetisi para pengajarnya. Bukan dosen yang hanya untuk mengajar tapi benar-benar dosen yang mengembangkan ilmu, dan berdomisili.

“Artinya berdomisili itu bermukim dalam kampus. Saat ini masih banyak yang come and go. Tidak memiliki akademi atmosfir yang bagus. Perguruan tinggi yang sehat itu yang memiliki masyarakat akademik yang sehat,” tambahnya.

Dalam pandangannya, Institit STIAMI sudah bergerak menuju ke arah yang bagus. Terbukti dengan semakin banyaknya trust dari masyarakat yang ditandai dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di sini.

“Hibah-hibah dari pemerintah juga banyak diterima. Ini menunjukkan ada akademik yang bagus,” ujarnya.

Ia pun berpesan, agar Intitut STIAMI tetap konsisten pada pengembangan ilmu sosial dan manajemen. Karena kedua ilmu ini dapat menghasilkan strategi-strategi baru bagaimana menciptakan pelayanan publik yang lebih efisien dan efektif.

“Akan lebih bagus lagi kalau Institut STIAMI memiliki satu hamparan kampus yang terdiri dari berbagai program studi. Bukan lagi kampus yang kecil-kecil yang tersebar di mana-mana sehingga bisa dimenej dan menjadi lebih efektif,” katanya.

Dalam kesempatan wisuda kali ini Rektor Institut STIAMI Dr. Ir. Panji Hendrarso, MM memberikan apresiasi dan penghargaan kepada 5 wisudawan dengan lulusan terbaik. Yaitu Syifa Kamila Akbar (Program Studi Diploma Perpajakan dengan IPK 4.00), Muhmmad Zakaria Rachmawan (Program Studi Diploma Administrasi Bisnis dengan IPK 3,91).

Selain itu, Joko Andriyanto (Program Studi Sarjana Ilmu Administrasi Publik/Negara dengan IPK 3,97), Handayani Ismanto (Program Studi Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis/Niaga dengan IPK 3.91), dan Suhartono (Program Studi Magister Ilmu Administrasi dengan IPK 3.61).

Kepada para wisudawan terbaik ini, mereka akan diangkat sebagai dosen tetap Institut STIAMI yang diharapkan dapat semakin memajukan kampus dan para mahasiswa.

Para wisudawan pun diharapkan kesiapannya untuk berkotribusi pada pembangunan bangsa berbekal ilmu-ilmu yang didapatkannya selama mengenyam pendidikan di Institut STIAMI. (tety)

Leave a Comment