JAKARTA (Pos Sore) — Program Pascasarjana Institut STIAMO menggelar Seminar Nasional Kepemimpinan: Problematika, Tantangan dan Solusi untuk Mewujudkan Masyarakat Demokratis yang Menyejahterakan, Sabtu (4/2), di Gedung MPR/DPR, Ruang Nusantara V, bekerjasama dengan Sekretariat MPR.
Direktur Program Pascasarjana Institut STIAMI, Dr. Taufan Maulamin, SE, Ak, MM, yang juga menjadi salah satu narasumber pada seminar ini mengatakan, nilai-nilai kepemimpinan tidak bisa dipisahkan antara negara dan agama. Sebagaimana yang menjadi perumusan dasar Pancasila.
Menurutnya, kepemimpinan dalam Islam berkisar di antara dua tema besar yaitu kepemimpinan mikro yang membahas tentang kualitas seorang pemimpin muslin dan ajaran tentang politik/negara lain.
Ia berpandangan, bangkitnya ghirah politik Islam akhir-akhir ini lebih bersifat substantif atau nilai ajaran Islam daripada bentuk atau formal politik Islam.
“Karenanya, seharusnya membesarnya ghirah politik Islam belakangan ini tidak dianggap sebagai ancaman terhadap nasionalisme,” tandasnya dalam seminar yang dihadiri 359 mahasiswa Pascasarjana Institut STIAMI.
Sementara itu, Sesjen MPR RI, Dr. Ma’ruf Cahyono, yang menjadi kenyote speech dalam seminar itu, menyampaikan, kepemimpinan harus memiliki nilai akuntabilitas. Pemberi mandat bisa mengawasi siapapun yang diberi mandat.
Dalam konteks kepemimpinan, lanjutnya, seseorang yang diberikan mandat, harus bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinnya kepada yang memberikan mandat.
“Lembaga MPR sebagai lembaga tinggi negara turut dalam menjaga nilai-nilai kepemimpinan nasional agar kondisi politik dan demokrasi berbangsa dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Presiden Institut Otomotif Indonesia, I Made Dana M. Tangkas, dalam kesempatan yang sama, mengungkapkan kepemimpinan, baik dalam konteks kepemimpinan bisnis maupun kepemimpinan publik dimulai dari visi dan filosofi yang berorientasi pada jangka panjang.
Lalu dilanjutkan dengan melakukan proses terus menerus yang konsisten dan mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang tidak perlu. Tak lupa, saling menghargai dan bertumbuh bersama, serta melakukan perbaikan terus menerus dengan terus belajar.
Dalam kesempatan itu, juga dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama antara MPR dan Institut STIAMI dengan tujuan terjadi sinergitas yang baik antara kedua pihak. (tety)

