17.3 C
New York
07/05/2026
Aktual

Membanggakan, Konsep KLA Indonesia Menjadi Acuan Dunia

2017-01-03_19-33-55

SURABAYA (Pos Sore) — Siapa yang bisa menyangka Indonesia menjadi rujukan pembentukan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) di dunia? Indonesia yang selama ini dipandang sebagai negara berkembang, ya memang benar-benar berkembang dalam hal penerapan KLA.

Hingga akhir 2016, dari 514 kabupaten/kota sudah ada 302 kab/kota yang mengimplementasikan KLA. Dan, gaungnya terdengar di seantero dunia. Perkembangan ini jelas membuat negara-negara maju takjub.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny N Rosalin menjelaskan, KLA ini mulai diimplementasikan pada 2010 dengan 31 indikatornya. Baru satu tahun diterapkan, pada 2011 Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kongres Kota Layak Anak se-Asia Pasifik, tepatnya di Kota Solo.

“Saat saya mempresentasikan Kota Layak Anak, negara-negara Asia Pasifik ini surprise. Mereka melihat pelaksanaan KLA di Indonesia on the track,” sebutnya saat ditemui di sela roadshow KLA di Surabaya, pada akhir Desember 2016.

Kota Solo dipilih karena komitmennya menuju kota layak anak. Sebelumnya juga muncul Bali dan Jakarta. Tetapi produk kebijakan di Solo lebih berkomitmen menuju kota ramah anak dibanding kota lainnya. Berbagai fasilitas ramah anak di Kota Solo seperti taman cerdas di perkampungan kumuh dan miskin, pendataan anak dengan penerbitan KTP anak, pendidikan dan asuransi kesehatan gratis bagi anak di Kota Solo, dan sebagainya, termasuk aturan atau Raperda perlindungan dan pemenuhan hak anak cukup membuat negara-negara Asia Pasifik takjub.

Setahun berikutnya pada 2012, di tingkat Asia juga ikut mengadopsi konsep KLA Indonesia. Sebut saja Jepang yang cukup terpikat dengan konsep KLA Indonesia mengingat di negara matahari terbit itu, pemenuhan hak anak masih ego sektoral. Tidak komprehensif seperti di Indonesia. Meski LSM dan masyarakat di Jepang sangat maju dalam memenuhi hak anak.

Pada tahun berikutnya, Korea Selatan juga mengundang Indonesia untuk mempresentasikan hal serupa. Indonesia dipilih karena ternyata negara lain sering merekomendasikan penerapan konsep KLA Indonesia dan harus dicontoh.

Kepada negara Asia ini, Indonesia menjelaskan, dalam pembangunan KLA ini yang dibangun yaitu sistemnya.

img-20161231-wa0006

“Semua pilar pembangunan diajak berkontribusi. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga pengusaha dan masyarakat,” ungkap Lenny. Mendengar pemaparan ini, Jepang dan Korea Selatan bersemangat untuk menjadikan Indonesia sebagai template KLA Asia.

Percaya tidak percaya. “Apa iya? Rupanya negara lain menilai Indonesia maju karena membangun sistem. Hak anak masuk ke dalam setiap kebijakan, bekerjasama dengan 24 kementerian/lembaga, yang harus dikoordinasikan setiap saat oleh KPPPA, khususnya oleh saya,” lanjutnya.

Sementara di negara Eropa, pada 2012, di Italia Indonesia diundang dalam pertemuan KLA-nya Eropa. Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia yang diundang pertama kalinya dalam pertemuan itu.

“Kenapa Indonesia yang bukan bagian negara Eropa? Ternyata Indonesia sering disebut oleh negara lain yang dinilai penerapan KLA-nya bagus. Karenanya, Indonesia diminta untuk sharing ke negara Eropa karena Indonesia dalam menggarap kota layak anak bagus sekali,” paparnya.

Eropa sendiri dalam menerapkan KLA dilakukan secara sektoral, berbeda dengan Indonesia yang komprehensif. Yang setiap unit ikut membentuk konsep layak anak. Sektor kesehatan, pendidikan, sosial ikut berkontribusi menerapkan konsep KLA, bukan semata-mata tugasnya dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Sementara untuk tingkat Asean, baru pada 2016 lalu pada pertemuan keempat ASIAN Forum on The Rights of The Child (AFRC) 2016 di Bali Safari Marine Park, Kabupaten Gianyar, Bali, pada 23-25 November.

Agenda dua tahunan ini memilih Indonesia sebagai tuan rumah karena telah menunjukan kemajuan yang signifikan dalam pelaksanaan konvensi hak anak. Salah satunya dalam mengimplementasikan hak anak khususnya di tingkat daerah melalui program Kota/Kabupaten Layak Anak. Indonesia dianggap dapat menjadi role model konsep tersebut.

“Semula yang dipilih Pilipina, tapi berdasarkan peneliannya di negara itu hanya bagus di beberapa kota, sementara Indonesia gerakannya begitu masif sampai ratusan sehingga layak dijadikan acuan pembentukan kota layak anak tingkat Asean,” kata Lenni bangga.

Ke depan, pihaknya tengah memperkuat kerjasama bilateral dalam penerapan konsep KLA ini, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan negara yang bersangkutan.

Pihaknya sendiri menyakini pada 2030 Indonesia dapat memenuhi Indonesia Layak Anak. Apalagi dari 20 kota yang jadi pilot project, sudah cukup berhasil dalam lima tahun terakhir ini. (tety)

Leave a Comment